
Dalam perjalanan pulang Elsa tampak melamun. Sisa-sisa air mata nampak mengering di pipinya.
Elardo sendiri sudah mengetahui sejak awal tentang hubungan Elsa dengan Reinaldo, hubungan yang begitu dalam hingga membuatnya ketar-ketir. Namun Ia berusaha keras mengerti keadaan memberi waktu wanitanya. Ya sebenarnya tanpa diminta pun Ia akan memberi waktu untuk Elsa untuk meminta penjelasan pada pria yang sudah menorehkan luka yang begitu dalam padanya.
"Kapan pun kau ingin berbicara aku siap mendengarnya," ucap Elardo sembari mengelus kepala Elsa dengan lembut.
Elsa menatap Elardo seksama. Ya walau bagaimanapun pria disampingnya itu selalu sabar walaupun sebenarnya Ia berhak untuk marah.
"Tuan aku- ."
"Aku mengerti. Masuk dan istirahat lah. Aku ada urusan sebentar," sergah Elardo memotong ucapan Elsa.
Elsa mengamati wajah prianya itu untuk mencari apakah ada jejak kemarahan dalam ucapannya namun sepertinya prianya itu benar-benar mengerti jika saat ini Ia tidak ingin membahasnya.
"Masuk lah!" perintah Elardo lagi. Pria itu berkata dengan tersenyum membuat Elsa semakin yakin jika akan menjelaskan semuanya lain waktu.
"Um. Cepatlah kembali." Elsa menggenggam tangan prianya itu sekilas. Tidak lupa Ia mengecup pipi pria disebelahnya itu sebelum keluar dari mobil.
Lima menit berlalu Elardo masih berada ditempatnya. Ia masih setengah tidak percaya apa yang baru saja terjadi, Elsa tiba-tiba menciumnya.
"Apa aku mimpi." Untuk kesekian kalinya pria itu menampar wajahnya sendiri. "Aw sakit." Elardo mengaduh. Di detik selanjutnya Ia malah tersenyum setelah mengaduh karena jika kesakitan itu menandakan jika sedang tidak bermimpi. Sebelumnya Ia benar-benar risau jika Elsa mungkin saja ingin kembali pada Reinaldo hingga tidak ada kesempatan lagi untuknya karena Ia tidak ingin memaksakan cinta sepihak. Sekian lama berhubungan nyatanya Elsa masih begitu enggan bahkan hanya dia yang menunjukkan perasaannya.
Ia merogoh saku kemejanya untuk mencari ponselnya untuk menelepon.
"Arga batalkan acara malam ini!" perintah Elardo di sambungan telepon.
"Tapi Tuan jika anda membatalkan, mungkin kesempatan ini akan hilang." Arga memberi masukkan.
"Aku tidak peduli, batalkan!" ucap Elardo lagi tidak ingin dibantah. Ia lalu memutus sambungan telepon lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku. Ia bergegas masuk ke dalam rumahnya karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang istri.
Kedatangannya disambut kepala pelayan Leo yang saat itu membuka pintu.
__ADS_1
"Selamat datang Tuan, anda sudah kembali." Leo menundukkan kepala sebagai tanda hormat.
"Dimana, dimana istriku?" Elardo mendongak ke atas dimana kamarnya dan Elsa berada.
"Nyonya muda sedang berada di kamar nyonya Agatha, nona Kiara juga disana," jelas Leo.
"Oh" jawabnya dengan lesu. Berbeda dengan beberapa saat lalu yang begitu bersemangat.
"Anda butuh sesuatu Tuan atau mau saya panggilkan nyonya muda?" tawar Leo.
"Tidak. Aku sangat lelah sebaiknya aku mandi," tolak Elardo masih dengan raut wajah lesunya. Ia mengayunkan langkahnya menuju kamarnya.
Ya baru saja Ia ingin bertemu dengan istrinya yang begitu Ia rindukan karena walau hanya satu detik Ia sudah merindukannya namun nyatanya Ia harus menelan kekecewaan.
Setelah membersihkan diri dan sempat berendam di bathtub Elardo keluar dari kamar mandi. Ia tertegun ketika senyum yang begitu menawan menyambutnya.
"Kenapa tidak memanggilku jika sudah kembali." Elsa mendekat, meraih tangan pria menariknya untuk duduk.
Hal-hal sepele ini sudah membuat jantung Elardo berdetak kencang. Sudah lama ia menantikan hal ini dan akhirnya saat ini semuanya terjadi. Namun Ia tidak boleh gegabah Ia harus memastikan jika istrinya itu akan tetap bersamanya dengan kenyamanan yang diberikannya.
"Kenapa kau cepat sekali?" ucap Elsa sembari tersenyum.
"Rapatnya diundur," jawab Elardo dengan ekspresi datar. Ia sengaja bersikap cuek untuk mengetes istrinya itu. Sesaat kemudian Ia malah memalingkan pandangannya walaupun saat itu wajah cantik Elsa persis berada di depannya.
Melihat sikap Elardo yang biasanya manis tiba-tiba dingin bahkan sedingin kutub utara membuat Elsa tersadar jika sebaiknya Ia menceritakan semua sebelum semuanya berlarut-larut.
"Apa sudah selesai?" Elardo bangkit dari duduk menepis tangan Elsa yang sebenarnya saat itu masih belum selesai menyisir rambutnya. Ia membuka handuk yang menutupi tubuh bawahnya lalu dengan cepat memakai celana.
Sementara itu Elsa yang belum pernah sekalipun melihat pria telanjang di depannya reflek menutup wajahnya. Melihat hal itu semakin membuat pria itu kesal hingga hembusan nafas berat keluar menandakan kekecewaannya.
"Maaf, aku- ."
__ADS_1
"Tidak usah basa-basi jika kau tidak menginginkan aku lebih baik kau bersama pria itu!" sergah Elardo mengeluarkan kata-kata bernada amarah.
"Pria siapa, apa maksudmu?" Elsa langsung bangkit lalu mendekat ke arah pria itu. Baru saja Ia ingin menjelaskan dan sepertinya memang sudah terlambat.
"Siapa lagi kalau bukan Reinaldo, bukannya kalian ingin kembali," tukas Elardo semakin menjadi-jadi. "Aku bukan pria yang memaksakan kehendak ku dan aku selama ini salah karena semua terjadi karena paksaan ku jadi sebelum- ."
"Sudah jangan bicara lagi, hanya kau pria yang satu-satunya berada di hatiku. Kau memiliki sepenuhnya sebongkah hati ini." Elsa yang sudah tidak tahan lagi dengan semua tuduhan suaminya langsung mendekap erat tubuh Elardo yang masih setengah telanjang.
Deg.
Jantung Elardo berdetak dengan kencang dengan pengakuan Elsa. Setelah sekian lama akhirnya wanitanya itu mengungkapkan cinta padanya membuktikan bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Aku dan Reinaldo sudah berakhir semenjak pria itu meninggalkan aku. Aku milikmu sepenuhnya milikmu," lirih Elsa. Air matanya mengalir deras dengan semua penjelasannya. Ia berharap pria itu memahaminya.
"Lalu untuk apa kau bertemu dengannya jika tidak ingin kembali?" tukas Elardo tidak berkesudahan. Ia belum sepenuhnya mempercayai perkataan Elsa.
"Aku hanya ingin menuntaskan masa lalu. Bukannya untuk memulai lembaran baru kita harus menyelesaikan lembaran lama sampai tuntas," jelas Elsa.
"Lalu?" respon Elardo masih dengan ekspresi datarnya.
"Aku hanya ingin kau yang mengisi lembaran baru bersamaku!" tegas Elsa.
Tanpa membuang waktu Elardo yang mendengar penjelasan itu langsung mengangkat tubuh Elsa naik ke bahunya lalu membaringkan ke ranjang. Ditatapnya wajah cantik istrinya sementara Elsa hanya mengangguk sebagai tanda setuju.
Tidak ada lagi pembatas antara keduanya. Kedua insan yang saling mencinta itu akhirnya menyatu.
"Katakan lagi kau mencintaiku sangat mencintaiku!" perintah Elardo setelah menginci lekuk tubuh Elsa.
"Apa?" Elsa ternganga dengan perintah suaminya.
"Cepat katakan!"
__ADS_1
"Aku mencintaimu sangat mencintai suamiku."