Reinkarnasi Sistem Ibu

Reinkarnasi Sistem Ibu
Bab 60. Dendam Masa Lalu


__ADS_3

Elsa membuka matanya yang cukup berat. Hampir sejam lebih Ia tidak sadarkan diri setelah dibius oleh orang yang tidak dikenalnya.


"Dimana aku?" Elsa melihat sekeliling ruangan yang nampak berantakan. Tempat yang lebih tepat disebut gudang.


Elsa mencoba bergerak namun sayangnya tangan dan kakinya terikat. Ia terus berusaha melepas ikatan itu namun karena ikatan terlalu kencang membuatnya kesusahan.


"Dimana dia, apa sudah sadar?" Suara seseorang yang terdengar dari luar ruangan itu disertai derap langkah yang terdengar menuju ke tempatnya berada.


Dubrak!


Suara pintu di tendang membuat Elsa langsung pura-pura memejamkan mata.


"Kenapa dia belum sadar!" pekik wanita yang suaranya terdengar tidak asing di telinga Elsa.


"Anna," gumam Elsa. Ia tidak menyangka orang yang menculiknya adalah Anna. Lalu apa yang sebenarnya terjadi kenapa Anna melakukan semuanya atau mungkin beberapa kali Ia berhubungan dengan Reinaldo membuatnya marah? Pertanyaan-pertanyaan itu kini berkecamuk di pikiran Elsa.


Ia tidak ingin gegabah karena Ia ingin tahu apa yang diinginkan Anna membuatnya akan mengikuti permainan ini sampai mengetahui semuanya.


"Seharusnya obat biusnya sudah hilang bos tapi ini-"


Anna melihat sekeliling tempat itu dan saat mendapati cangkir diatas meja Ia melangkah mengambil cangkir itu. Ia kembali melangkah mendekat ke arah Elsa.


Byurrr


"Ahh panas." Elsa yang sejak tadi memejamkan mata begitu terkejut saat cairan yang masih sedikit panas mengguyur wajahnya. "Panas, panas," rintih Elsa kalang kabut berusaha meniup wajahnya sendiri.


Sementara melihat wanita di depannya kesakitan Anna justru tertawa terbahak-bahak. Ya setelah puluhan tahun akhirnya Ia bisa meluapkan dendamnya.


"Seharusnya dulu Mom tidak membiarkan dia hidup. Anak sialan ini!" Seorang wanita paruh baya yang baru saja masuk mengungkapkan penyesalannya. Ia menggerakkan gigi menandakan betapa benci padanya.

__ADS_1


Sementara Elsa tidak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi. Pertanyaan terbesarnya saat ini adalah mungkin jika Elisa mengenal mereka?


"Sebenarnya siapa kalian dan apa mau kalian?" Elsa yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. Elisa yang tidak tahu apa-apa malah menjadi bulan-bulanan kedua orang yang menurutnya aneh.


"Kau jangan pura-pura polos, jangan pikir kami bodoh!" sahut Anna ketus sembari melempar sebuah dokumen. Isi dokumen itu secara garis menyatakan jika harta milik Abimanyu 50% milik Elisabeth Abimanyu.


Setelah membaca isi dokumen itu namun tidak membuat Elsa mengerti. Ia semakin bingung dibuatnya.


"Aku tidak mengerti siapa Elisabeth dan apa hubungannya denganku!" pekik Elsa dengan keadaan membingungkan yang menimpanya.


"Kau! Bukankah Pria tua brengsek itu sudah mengatakan semuanya?" Tatapan menghujam Shanty langsung terarah ke Elsa.


Elsa menggeleng membuat Shanty merasa aneh karena beberapa waktu lalu Galang sudah menemui putri sialannya itu. Ia berpikir Galang sudah menjelaskan semuanya.


"Begini saja jika kau tidak ingin masuk lebih dalam ke masalah keluargaku sebaiknya kita akhirnya sampai disini ... cepat tanda tangani ini!" Nada tawaran bernada perintah di Shanty sembari menyodorkan sebuah map berisi surat perjanjian.


Elsa tidak langsung menanda tangani karena Ia bukan orang yang bodoh. Walaupun tidak mengetahui dengan jelas namun tidak berarti Ia berpikir pendek.


Mendengar hal yang disampaikan Elisa, Anna juga Shanty merasa senang. Anna melepaskan ikatan tangan Elsa sementara Shanty memegangi surat perjanjian yang akan segera ditandatangani.


Setelah ikatan tangan Elsa lepas dengan cepat Ia mengambil jarum cahaya di ruang penyimpanan senjata miliknya.


Shett!


Shett!


Gerakan secepat kilat Elsa lakukan menusuk titik tubuh Shanty juga Anna.


"Ough," pekik Shanty.

__ADS_1


"Ough." Didetik selanjutnya giliran Anna memekik saat sesuatu tajam menusuk bagian tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan wanita sialan!" geram Shanty hendak mentoyor kepala Elsa namun entah mengapa tiba-tiba tubuhnya kaku sama sekali tidak bisa digerakkan.


"Kenapa dengan tubuhku?" paniknya. Shanty terus berusaha menggerakkan tubuhnya namun tetap saja tubuhnya membeku seperti es.


"Mom tubuhku sama sekali tidak bisa digerakkan," rengek Anna. Tidak kalah dari Shanty Ia pun lebih keras berusaha.


Melihat lawannya tidak berdaya Elsa buru-buru melepas ikatan kakinya karena jika tidak segera dia lakukan dalam waktu 10 menit efek jarum cahaya akan hilang.


"Hei wanita sialan apa yang baru saja kamu lakukan kenapa dengan tubuh kami!" geram Shanty. Ingin sekali Ia memukul wanita di depannya itu namun keinginannya hanya sebuah angan.


"Dalam waktu 10 menit efeknya akan hilang, maaf aku harus pergi." Elsa melangkahkan kakinya sembari menatap wajah Anna wajah sahabatnya. Ya walaupun Anna sudah sangat melukainya namun kenangan indah bersama Anna akan selamanya melekat di hatinya.


"Aku harap kau tidak akan pernah melukai seseorang yang begitu tulus padamu Anna," ucap Elsa sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan tempat itu.


Saat keluar dari ruangan itu Elsa sudah dihadang anak buah Shanty.


"Mau kemana kamu!" ucap salah seorang diantaranya hendak menangkap tubuh Elsa.


"Jangan mendekat jika tidak ingin melakukan sesuatu yang menyakitkan!" ancam Elsa sembari terus mundur.


Bukannya berhenti beberapa pria berbadan kekar itu tidak menggubris ancamannya.


"Apa yang harus aku lakukan tenagaku belum sepenuhnya pulih karena efek obat bius sementara jarum cahaya aku sudah menggunakan dua kali," gumam Elsa sembari berpikir.


"Lepas!" pekik Elsa saat kedua tangannya dicekal oleh kedua pria.


Dubrak!

__ADS_1


Suara pintu di dobrak dari luar seketika membuat fokus orang-orang di tempat itu terarah ke pintu.


"Tuan El."


__ADS_2