Reinkarnasi Sistem Ibu

Reinkarnasi Sistem Ibu
Bab 65. Ikatan Hati


__ADS_3

Sebenarnya tanpa Elardo paksa pun Ia sudah bersedia menikah dengan pria itu. Ya, Elsa yakin jika mimpinya semalam bukan hanya kebetulan namun sebuah pesan ya Elisa kirim untuknya. Sebelumnya Ia berpikir untuk mencari jati diri Elisa sebelum memikirkan semua kebahagiaan untuk dirinya namun mimpinya semalam menyadarkannya jika bukan itu yang Elisa inginkan.


"Ibu apa kau bahagia?" Kiara menggenggam tangan Elsa yang secara tidak langsung membuyarkan pikiran Elsa.


"Bukankah ini yang kau inginkan?" Bukannya menjawab pertanyaan Kiara, Elsa balik melontarkan pertanyaan.


"Aku hanya ingin melihat ibu bahagia karena seperti yang ibu lakukan padaku, Kiara berhutang budi padamu," ucap Kiara yang tadinya tampak bersemangat seketika terlihat sendu.


Melihat hal itu Elsa merasa sedih namun bukan itu yang menjadi fokusnya namun kata-kata Kiara yang mengatakan berhutang budi padanya.


"Kiara apa yang kamu katakan, sudah seharusnya Ibu melakukan yang terbaik untukmu dan satu hal yang perlu kau tahu Ibu tidak melakukan apapun untukmu." Elsa menyeimbangkan tingginya dan Kiara lalu mengusap lembut pipi gadis kecil itu. Walaupun sebenarnya Kiara bukanlah putrinya namun semakin lama Ia menyayangi Kiara bahkan melebihi kasih sayang seorang ibu kandung sekalipun.

__ADS_1


"Aku tahu kau bukanlah ibuku."


Bak mendengar petir di siang hari bolong, kata-kata Kiara benar-benar membuat Elsa tersentak.


"Apa...apa yang sebenarnya diketahui Kiara, mungkinkah?" batin Elsa dengan bibir bergetar hebat. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan jika selama ini Kiara mengetahui semua rahasianya. Seketika lututnya menjadi lemas membuat tubuhnya merosot ke lantai.


"Sejak pertama kali kau mulai bersikap aneh, aku sudah menduga jika kau bukan ibuku tapi orang lain."


Lagi ucapan Kiara semakin membuat Elsa tercengang. Selama ini gadis kecil itu bahkan tidak pernah mengeluh tentangnya namun sebenarnya Ia tahu segalanya. Bagaimana anak berusia delapan tahun bisa menyimpan semua itu sendiri sedangkan Ia tahu betul bahwa yang bersamanya bukanlah ibunya.


Mendengar hal itu Elsa hanya bisa mengangguk sembari berusaha tersenyum walaupun masih banyak pertanyaan yang mengganjal hatinya.Walaupun bukan darah yang menyambung hubungan antara manusia namun ikatan hati serta perasaan saling menyayangi jauh lebih mengikat seseorang.Ya itulah yang mengikat hubungan Elsa dan Kiara.

__ADS_1


Setelah berganti pakaian dan membersihkan make up, Elsa menatap Kiara yang tengah fokus di gadgetnya. Ya sejak masuk ke dalam kamar tiga puluh menit yang lalu Kiara tidak mengalihkan penglihatannya dari alat yang satu itu.


"Apa kiara akan terus menatap layar ponselmu daripada berbincang dengan Ibu, sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama apa tidak rindu?" protes Elsa sembari mengerutkan bibirnya kesal.


"Hehehe, maaf Ibu." Kiara nyengir kuda menanggapi protes ibunya kemudian menaruh ponselnya keatas nakas. Tanpa aba-aba tubuhnya langsung mendekap tubuh Elsa. Gadis kecil itu ingin bermanja-manja di pelukan ibunya. Beberapa bulan ini bahkan keduanya tidak bisa menghabiskan waktu bersama-sama karena kesibukan masing-masing. Di kesempatan ini Kiara mempergunakan sebaik mungkin karena seharian ini ayahnya sudah mengosongkan jadwalnya dari sekolah dan jadwal-jadwal lainnya. Setali tiga uang sama dengannya, ayahnya juga sudah mengosongkan jadwal Ibunya dari kuliah sama bekerja di rumah sakit.


"Ibu."


"Hem," jawab Elsa dengan bergumam.


"Bolehkah aku memanggilmu Ibu?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Kiara yang menurutnya aneh membuat Elsa geram. Ia kemudian mencubit hidung Kiara. "Apa kau sedang ingin bercanda denganku!"


"Aw, aw sakit Bu." Kiara menarik hidungnya yang memerah menjauhi tangan Elsa. Namun sebenarnya Ia senang karena itu mengartikan jika Ibunya lebih senang dipanggil Ibu. Gadis kecil itu kembali memeluk tubuh Elsa, kali ini lebih erat.


__ADS_2