
Setelah taxi berhenti tepat di sebuah rumah yang cukup terpencil, Elsa bergegas masuk. Bukan hanya sekedar masuk Elsa terus menjaga kewaspadaannya karena jelas yang menculik Erina ada hubungannya dengan kasus yang sedang dibuka Erina.
Elsa melangkah masuk, terlihat rumah itu cukup sepi menandakan jika mungkin saja ini sebuah jebakan. Elsa berjaga dengan memegang jarum cahaya ditangannya, jarum yang hanya terlihat olehnya.
"Sebaiknya aku pergi karena aku merasa Erina tidak ada disini, ini sebuah jebakan," gumam Elsa perlahan mundur.
Elsa yang kurang waspada tanpa ia sadari seseorang membekap mulutnya dari belakang membuat langsung lemas tidak sadarkan diri.
"Aku pikir wanita ini sangat pintar dan licik tapi semudah ini." Pria yang tidak lain adalah Angga yang berhasil kabur dari penjara.
Sementara di kantor Cashelion Group. Arga nampak bingung antara harus menyampaikan atau tidak telepon dari pengacara yang menangani kasus Erina jika tersangka Angga melarikan diri tadi malam.
"Rapat ini sangat penting untuk Tuan, aku tidak bisa mengganggunya setelah ini aku akan langsung menyampaikan," gumam Arga setelah melihat suasana rapat antara orang-orang besar yang akan bekerja sama dengan perusahaan itu.
Satu jam kemudian akhirnya rapat telah usai. Elardo kembali ke ruangannya, Ia segera memeriksa ponselnya. Tanda peringatan bahaya muncul di ponselnya.
"Elisa, apa yang terjadi?" panik Elardo begitu melihat tanda peringatan itu sekitar satu jam yang lalu. Ia langsung menelepon Elisa namun nomernya sudah tidak aktif.
"Maaf Tuan tadi Tuan Calvin pengacara yang menangani kasus nona Erina menelepon jika tersangka melarikan diri semalam," ujar Arga.
Mendengar hal itu Elardo langsung naik pitam karena bukannya langsung memberitahu Arga malah sengaja tidak memberitahunya.
"Kau seharusnya cepat beritahu, jika sesuatu terjadi pada Elisa kau harus bertanggung jawab!" Hardik Elardo.
"Tuan tapi tadi itu rapat penting yang sudah Tuan tunggu sejak lama bagaimana bisa saya mengacaukan."
"Tidak ada yang lebih penting selain Elisa!" tekan Elardo dengan ucapannya.
Elardo segera bergegas pergi sebelumnya ia telah melancarkan keberadaan Elisa. Benar-benar sistem bodyguard yang Ia tanam di ponsel Elisa sangat berguna. Selain dapat mengatasi posisi dan keadaan Elisa, sistem itu juga mampu membobol panggilan juga pesan di ponsel Elisa.
__ADS_1
"Suara ini suara Angga walaupun sedikit dirubah." Elardo bisa mengenali suara yang baru saja di dengarnya dari record panggilan terakhir Elisa.
Sementara di tempat kejadian Elisa sudah dibaringkan di atas ranjang operasi. Angga bersiap untuk membedah Elsa.
"Kau berusaha menghalangi aku untuk berbuat kebaikan jadi kau juga harus merasakan wanita-wanita kotor itu rasakan. Di dunia ini akan lebih baik jika semua wanita pendosa musnah." Angga menatap wajah Elsa dengan seringainya.
Seperti biasa wanita yang akan Ia bedah wajahnya terlihat seperti ibunya hingga angga akan sangat mudah untuk melakukan hal keji itu.
"Kau wanita kotor Ibu sebaiknya aku cepat-cepat mengirim mu ke neraka dan sebagainya penghargaan dan terima kasihku karena telah melahirkan aku, aku akan menyimpan hatimu seumur hidupku.
Elsa yang setengah sadar namun belum bisa bergerak mendengar jelas ucapan Angga hingga Ia tahu alasan selama ini Angga mengincar wanita-wanita menjadi targetnya.
"Angga maafkan Ibumu kau masih sangat muda dan juga berhak bahagia. Lupakan dendam yang memenuhi hatimu, Tuhan maha pemaaf begitu juga dirimu," ucap Elsa. Ia yakin jika Angga sebenarnya melakukan semua itu karena trauma di masa kecil.
"Ibu hanya wanita pendosa wanita kotor yang sudah seharusnya aku mengirim segera ke neraka!" Angga yang semakin marah setelah mendengar penuturan Elsa mengarahkan pisau ke leher Elsa.
"Baiklah Ibu akan sukarela mati ditangan mu tapi bisa ceritakan pada Ibu kenapa kau begitu membenciku?" Elsa berusaha setenang mungkin menghadapi psikopat seperti Angga karena jika terus membuatnya marah Ia tidak segan segera melenyapkannya.
Perlahan Angga menarik pisaunya Ia mengalihkan pandangannya menatap jendela, kembali Angga mengingat masa kecilnya.
Sementara Elsa menggunakan kesempatan ini untuk menggerakkan tubuhnya namun percuma karena obat bius itu belum sepenuhnya hilang hanya kesadarannya sudah sepenuhnya kembali.
"Bagaimana Ibu bisa lupa hal menjijikkan seperti itu atau ibu hanya berpura-pura lupa karena terlalu malu dengan masa lalu Ibu tapi aku akan mengingatkan kembali masa lalu Ibu agar Ibu bisa menyesalinya saat-saat terakhir Ibu."
Angga menceritakan dari awal hingga akhir tentang kebenciannya pada ibunya. Sejak kecil Angga tunggal dengan ibunya setelah ayahnya meninggalkannya demi wanita lain. Angga sangat menyayangi ibunya dan menganggap ibunya adalah malaikat tidak bersayap hingga suatu ketika kenyataan pahit ditemukannya.
Setiap hari keluar masuk pria ke rumahnya. Saat pria itu datang ibunya selalu menyuruhnya naik ke lantai dua dan memintanya untuk tidak keluar kamar sebelah ibunya mendatangi kamarnya dengan alasan menyelesaikan pekerjaan. Awalnya Angga percaya dengan apa yang dikatakan ibunya. Lama kelamaan Angga yang saat itu berusia 10 tahun penasaran apa yang dilakukan ibunya hingga ia nekat untuk mencari tahu.
Angga mengendap-endap turun ke lantai bawah. Dari celah kunci Ia melihat yang terjadi di kamar itu, ibunya sedang melakukan hal menjijikkan dengan lima pria sekaligus. Sejak saat itu Angga yang menganggap ibunya seperti seorang malaikat berubah menjadi begitu membenci wanita yang sudah melahirkannya itu.
__ADS_1
"Kau tahu bagaimana aku hidup setelah meninggalkan rumah, orang-orang menamai aku anak haram, anak iblis, anak kotor dan nama-nama yang sangat buruk hingga kebencian itu lama terkumpul membuatku berniat untuk menghabisi Ibu. Sekarang sudah saatnya ikatan diantara kita terputus." Angga kembali mendekat kembali mengarahkan pisau itu ke leher Elsa.
"Angga kau tidak boleh melakukan hal ini karena polisi tidak akan mengampuni mu. Sebaiknya kau bertobat dan memperbaiki kesalahanmu." Elsa terus berusaha menggerakkan tangan dan kakinya namun efek obat bius itu belum juga hilang.
"Kau harus mati!" Arga mengangkat pisaunya tinggi-tinggi dan hendak menancapkan ke tubuh Elsa.
"Ahhh," pekik Elsa yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain pasrah.
"Mungkin ini akhir hidupku, satu hal yang ingin aku sampaikan sebelum pergi.
"Aku mencintaimu El-" Belum juga selesai mengucapkan kata-kata terakhir disaat-saat terkahir Elsa perhatian Elsa terfokus pada pria yang saat ini memenuhi pikirannya.
Blam! Blam! Kapow!
Pria yang tak lain Elardo itu, dari arah belakang langsung menghempas tubuh Angga dan memukulinya. Pria itu jatuh di lantai tidak berdaya setelah Elardo menghajarnya.
"El kau tidak apa-apa, siapa pria yang kau sebut El apakah aku?" Perasaan senang Elardo mengalahkan apapun karena itulah yang ditunggunya selama ini ungkapan cinta dari wanita yang dicintainya.
Tanpa Elardo sadari dari arah belakang angga yang tad jatuh terkulai perlahan bangkit. Ia mengarahkan pisaunya ke arah Elardo.
"Awas!" pekik Elsa menyadari bahaya yang mengancam.
Srek!
Secepat kilat Elsa melempar jarum cahaya tepat di titik tubuh Angga membuat pria itu jatuh sebelum sempat menyakiti Elardo.
"Oh untunglah kali ini aku bisa menyelamatkanmu." Elsa langsung memeluk tubuh pria itu karena terlalu senang di saat-saat terakhir tubuhnya dapat digerakkan hingga menyelamatkan Elardo dari bahaya.
Puluhan mobil polisi berdatangan dan langsung mengamankan Angga. Ditempat itu lah ditemukan puluhan barang bukti dari jasad yang sudah membusuk juga tumpukan tulang belulang yang sudah dikubur di ruang bawah tanah serta puluhan hati manusia yang membeku di freezer.
__ADS_1