
Setelah berbelanja beberapa bahan masakan, Elsa bergegas pulang. Ia langsung saja bergerak di dapur mempersiapkan menu spesial untuk Elardo yang telah memberinya banyak hal. Hal-hal yang membuat hidup keduanya semakin bermakna.
Elsa bergegas mandi dan merias wajahnya tipis tipis. Setelah itu tiba-tiba ia teringat akan sistem yang lama tidak Ia periksa.
"Aku terlalu sibuk akhir-akhir ini hingga tidak ingat akan sistem. Sistem buka." Monolog Elsa dan langsung membuka sistem yang tertanam dalam dirinya.
"Sistem On. Selamat datang di sistem kebaikan Nyonya Elisa," sambut sistem.
Elsa langsung mengembangkan senyumnya ketika mendengar suara sistem yang sudah beberapa waktu Ia tidak dengan karena terlalu sibuk. Ekspresi Elsa membuat sistem ikut merasakan kebahagiaan karena apapun yang terjadi pada nyonyanya sistem dapat merasakannya.
"Sepertinya anda sangat senang Nyonya?" sambung sistem.
"Hem." Jawab Elsa dengan bergumam masih dengan senyumnya yang masih merekah.
"Aku berpikir tadinya hidupnya hanya untuk sebuah penebusan dosa tapi ternyata aku sangat senang Tuhan memberiku kesempatan untuk melihat wanita yang paling berharga dalam hidupku, mommy," terang Elsa.
"Tentu saja Nyonya, di dunia ini tidak ada yang sia-sia, hanya orang bodoh yang tidak pernah bersyukur yang menganggap hidup mereka sia-sia."
Mendengar tanggapan sistem mengingatkan Elsa dengan dirinya yang dulu. Ia bersumpah di kehidupan keduanya ini akan mengabdikan diri untuk melakukan banyak kebaikan.
Dokter, profesi itu lah yang akan dipergunakannya untuk menolong lebih banyak orang tanpa memandang bulu.
"Terima kasih sistem karena sudah terus bersamaku, mungkin aku akan gila jika tidak ada sistem sepertimu yang selalu mendampingiku."
Walaupun sistem yang tertanam dalam dirinya tidak berwujud namun Elsa sangat menyayangi sistem itu bahkan menganggap sistem itu adalah bagian dari dirinya.
"Sama-sama Nyonya. Terima kasih telah berubah menjadi wanita baik berhati malaikat. Saya akan terus menemani anda menuju kebahagiaan anda," sambung sistem.
Ting tong!
__ADS_1
Ting tong!
Bunyi bel apartemen Elsa berbunyi membuat fokusnya teralihkan.
"Baiklah kita bicara nanti, sistem tutup!" perintah Elsa sebelum akhirnya bangkit dari duduknya bergegas membuka pintu.
Dua sosok berdiri di depan pintu sesaat Elsa membuka pintu. Sosok yang tidak lain pria tampan dengan seorang gadis.
"Kau berani membawa gadis lain ke tempat pacarmu," keluh Elsa dengan ekspresi wajah masam. Sementara sosok tampan juga gadis cantik itu hanya saling memandang tidak mengerti.
"Ibu berlebihan, Ayah hanya mencintai Ibu, Kia bisa pastikan itu." Kiara yang gemas akan keposesifan ibunya langsung mendekap erat tubuh ibunya membuat Elsa langsung menunduk tubuh bagian atasnya mensejajarkan tingginya.
"Kau ini jangan bersikap melebihi umurmu, kau ini masih tujuh tahun." Elsa yang merasa gemas mencubit hidung Kiara karena sikap Kiara yang begitu dewasa bahkan putrinya itu terkadang kedewasaannya melebihinya.
"Delapan Bu, Kiara udah delapan tahun," sanggah Kiara tidak terima.
"Ehem." Elardo yang merasa diabaikan beberapa kali berdehem untuk memberitahu akan keberadaannya.
Breekkk!
Elsa menutup pintu begitu Ia dan Kiara masuk. Ia pura-pura lupa untuk membuat Elardo kesal. Keduanya cengengesan tanpa disadari lima menit berlalu namun tidak ada reaksi Elardo yang menekan bel.
Elsa yang penasaran akhirnya mengintip kamera pengawas namun entah mengapa pria itu tidak ada.
"Ibu kau keterlaluan pasti ayah marah," keluh Kiara berekspresi kesal.
Elsa tidak menyangka Elardo akan bersikap berlebihan padahal Ia hanya ingin bercanda. Sebelum pria itu salah paham lebih jauh Ia bergegas untuk mengejarnya.
"Ibu mau kemana?" teriak Kiara saat ibunya tiba-tiba berlari keluar.
__ADS_1
Tanpa menghiraukan Kiara, Elsa terus berlari bahkan sampai ke jalan saat tidak menemukan mobil pria itu.
"Tuan kau benar-benar marah aku hanya bercanda." Elsa meluapkan penyesalannya ketika tidak menemukan prianya.
Tes ... tes.
Tanpa Elsa sadari air matanya meluncur bebas dari pelupuk matanya. Seperti perasaan sakit itu kembali dimana dulu orang yang paling Ia cintai meninggalkannya begitu saja pergi dengan wanita lain.
Hiks ... hiks.
Elsa sampai terisak-isak memegangi dadanya karena Ia merasa sesak di dadanya seakan hatinya penuh dengan luka.
Phak.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari arah belakang spontan membuat Elsa langsung membalikkan badan.
"Tuan." Elsa yang merasa tidak percaya dengan sosok di depannya langsung mendekap tubuh pria itu dengan erat.
"Kau akhirnya kembali, kau jangan pernah meninggalkan aku." Ucap Elsa dengan terisak-isak.
Elardo yang merasa aneh dengan ekspresi sedih wanitanya mengurai dekapan Elsa, menatap penuh wajah wanitanya yang berlinang air mata.
"Ada apa denganmu, aku hanya membeli bunga kau sesedih ini?" Elardo menyeka sisa air mata di pipi Elsa dengan satu tangan sementara tangan satunya memegang buket bunga mawar merah.
"Aku, aku ...."
Hiks ... hiks.
Belum juga menjelaskan Elsa kembali menangis sembari mendekap tubuh Elardo.
__ADS_1
Elardo mencoba menenangkan Elsa dengan membiarkan wanitanya itu memeluknya sampai akhirnya tenang dengan sendirinya.