
Dua hari sudah pria tampan bernama Elardo itu terbaring di ranjangnya meski sudah lewat dari masa kritisnya namun pria itu masih enggan untuk sadar dan membuka mata. Ya Elardo mengalami koma pasca operasi itu, dua operasi yang berdekatan membuat pria itu menjadi begitu lemah.
Selama dua hari tidak ada keluarga Elardo yang datang untuk menjenguknya membuat Elsa bertanya-tanya.
"Tuan Arga." Elsa menghentikan Arga yang ingin masuk ke ruang ICU. Ya sejak tadi Elsa duduk di depan ruangan itu.
"Nyonya kau sudah datang?" Arga tersenyum senang selama dua hari ini Elsa terus datang menunggu dari pagi hingga petang.
"Iya aku sudah datang, kenapa tidak ada satu orang pun keluarga tuan Elardo yang datang?" Elsa mempertanyakan pertanyaan yang sejak tadi berkecamuk dipikirannya.
"Tuan anak tunggal, kedua orang tuanya 2 tahun lalu meninggal karena kecelakaan. Kerabatnya, mereka semua tidak menyukai Tuan karena mereka berpikir Tuan ingin menguasai harta peninggalan orang tuanya sendiri padahal mereka berpikir itu adalah bisnis keluarga," jelas Arga panjang lebar.
Dulu Elardo tidak ingin mengurusi perusahaan, ia sibuk berhura-hura dengan dunianya dari bermain wanita, mabuk-mabukan. Sampai suatu ketika kedua orang tuanya meninggal terjadi gonjang-ganjing perebutan aset keluarga itu.
Elardo yang tadinya masih tidak mau mengurus peninggalan orang tuanya perlahan sadar ketika menyadari kecelakaan kedua orang tuanya bukan kecelakaan murni melainkan disengaja.
Sejak saat itulah Elardo sebagai pewaris tunggal memimpin perusahaan peninggalan kedua orangtuanya membuat kerabatnya yang menginginkan warisan keluarga Cashel dibagi menjadi murka.
Setelah mendengar cerita Arga panjang lebar, Elsa masuk ke ruangan itu. Ditatapnya wajah tampan di depannya itu. Di dalam benak Elsa keluarga Cashel begitu keluarga sempurna namun siapa sangka dibalik semua itu ada perpecahan di keluarga konglomerat itu. Setiap kali Elsa mengamati wajah Elardo ada rasa kesedihan, kesepian juga penyesalan itu lah yang dapat dirasakan Elsa.
"Aku tahu alasan apa yang membuatmu ingin menjadikan Kiara anak angkat, cepat bangun setelah itu kita akan membicarakannya." Elsa berucap di depan pria yang masih saja belum mau membuka matanya.
Elsa meninggalkan rumah sakit untuk menjemput Kiara. Biasanya anak buah Arga yang menjemput namun karena Ia harus memeriksa sesuatu membuatnya harus pergi sendiri.
"Kiara kau ganti bajumu!" perintah Elsa saat sudah masuk ke rumahnya.
"Iya Bu." Kiara melangkah masuk ke kamarnya, begitu juga dengan Elsa.
Elsa berpikir harus segera memeriksa sistemnya, dua kali sistemnya memberikan tanda peringatan membuat Elsa menyadari sesuatu.
"Sistem buka!"
{Selamat datang di sistem kebaikan, Nyonya Elisa}
"Sistem aku ingin bertanya sesuatu, aku ingat tiga kali sistem memperingatkan jika nyawaku terancam, apakah itu menandakan targetnya adalah aku atau ...." Elsa menggantung ucapannya. Walaupun Ia tidak yakin namun Ia sadar sejak kejadian yan menimpa Elisa hingga mengakibatkan kehilangan nyawa itu mungkin saja nyawanya menjadi target.
{Sistem diprogram untuk membantu juga melindungi pengguna, jika pengguna dalam bahaya otomatis sistem akan memperingatkan tanda bahaya}
Elsa mencerna penjelasan sistem itu dan mengingat satu persatu kejadian dari saat Ia ingin ditabrak mobil namun diselamatkan Elardo, saat penembakan di rumah Andini dan terakhir kejadian 3 hari lalu. Kejadian-kejadian itu sepenuhnya direncanakan untuknya namun Elardo selalu saja di dekatnya hingga Ia yang harus menanggungnya.
"Dodi!" Elsa mengepal setelah menyadari bahwa Jodi dan Andini yang ada dibelakang rentetan kejadian itu.
__ADS_1
Dubraakkk
Terdengar pintu suara yang cukup keras dari luar kamar membuat Elsa langsung berlari keluar.
Seorang pria tersenyum sinis menatapnya setelah mendobrak pintunya rumahnya di damping beberapa pengawal yang berdiri di belakangnya.
"Ibu ada apa?" teriak Kiara dari dalam kamar.
"Kau abaikan saja semua suara yang kau dengar Kiara, mainkan saja komputer juga pakai headset, ok?" balas Elsa juga setengah berteriak.
"Ok, Ibu."
Setelah beberapa saat mendengar tidak ada suara dari dalam kamar Kiara, Elsa akan membuat perhitungan dengan bajingan itu.
"Kau memang pria brengsek, jangan menyembunyikan tanganmu jika ingin membunuhku, sini lawan aku!" Elsa menggeram dengan kelakuan mantan suaminya itu, Ia mendekat menaikan kakinya berusaha menyepak Dodi namun segera ditangkis anak buahnya membuat Elsa mundur beberapa langkah.
"Bereskan wanita ini!" perintah Dodi pada anak buahnya sementara itu Ia keluar menyerahkan tugas itu pada anak buahnya.
"Woi brengsek lawan aku, kau seperti kura-kura yang sembunyi di balik tempurung!" geram Elsa. Dodi mengabaikan umpatan mantan istrinya itu karena Ia yakin anak buahnya akan segera membawanya dan setelah itu Ia akan menyiksanya dengan puas.
"Wanita ini punya nyali juga, tubuh sekecil ini mau melawan Dodi Sanjaya," ucap salah anak buah Dodi.
"Kalian maju semua!"
Lima anak buah Dodi ingin.
Blam! Blam ! Blam!
Elsa memukuli, menendang kelima pria itu sekaligus membuatnya terkapar tidak berdaya.
Elsa merapikan bajunya setelah mengatasi kelima pria itu yang hanya hanya punya nyali besar.
Elsa bergegas keluar untuk mencari Dodi dan membereskannya. Tanpa Ia sadari dari arah belakang seorang pria membawa senjata tajam terarah padanya.
Zap! Kapow!
Dengan sigap Elsa mendorong pria itu lalu menendang berkali-kali membuat pria itu pingsan.
"Rasakan akibatnya!" Elsa menatap sinis kelima pria yang sudah tidak berdaya itu . "Sekarang bagianmu Dodi Sanjaya!" teriak Elsa melangkah keluar.
Elsa yang sudah berada di luar disambut tatapan tajam juga senjata api yang terarah padanya.
__ADS_1
"Jika mendekat aku letupkan timah panas ini ke tubuhmu, kita lihat siapa yang akan mati lebih dulu diantara kita," ujar Dodi.
Elsa tidak memperdulikan ancaman dosi karena saat ini tidak ada lagi celahnya untuk mundur.
Sistem terus saja mengingatkan Elsa bahwa dalam bahaya namun Elsa memilih untuk mengabaikannya.
"Berhenti 1, 2-"
"Sejak lama kau ingin membunuhku jadi kita akhiri semuanya."
"Kau memang wanita ****** kau bersama Reno dan sekarang dengan pria kaya itu, aku tidak rela kau dimiliki siapapun jadi lebih baik kau mati!" Dodi sedikit demi sedikit menarik pelatuknya.
"Selamat tinggal Elisa."
Dor! Dor! Dor!
Tiga tembakan melesat ke kepalanya membuatnya jatuh ke tanah.
Seorang pria langsung berlari ke arah Elsa, wanita itu masih tertegun menyaksikan tembakan di depan matanya sendiri.
Pria itu langsung memeluknya dengan erat.
"Kau membuatku hampir gila bagaimana jika aku tidak datang tepat waktu." Pria itu begitu sampai bergetar dengan kejadian yang begitu cepat itu.
Polisi langsung menyergap tempat itu dan mengamankan kelima anak buah Dodi sementara Dodi tewas di tempat setelah tiga tembakan melesat di kepalanya.
Flash Back
Sepeninggalan Elsa dari rumah sakit, Elardo membuka matanya. Saat Elsa berbicara padanya Ia sebenarnya sudah setengah sadar dan saat Elsa meninggalkan rumah sakit Elardo sadar sepuhnya dari koma.
"Dimana Elisa?' Elardo langsung menanyakan keberadaan Elisa. Pria itu tahu betul jika Elisa lah yang menjadi target penembakan itu.
"Nyonya pulang sebentar katanya ada urusan penting," jelas Arga.
"Kau bukannya sudah aku peringatkan untuk menjaganya!" maki Elardo.
"Saya sudah menawarkan diri Tuan tapi Nyonya menolak dan berkata tidak akan lama." Arga terus menunduk karena aura kemarahan yang kuat ditunjukkan tuannya padanya.
Elardo yang sudah tidak bisa berpikir lagi langsung menarik jarum infus lalu bangkit dari ranjang.
"Siapkan mobil!" titah Elardo tidak ingin dibantah.
__ADS_1
Dalam perjalanan Elardo menghubungi kepolisian setelah mendengar kabar dari anak buahnya yang sudah dulu sampai di lokasi Elsa. Benar dugaannya Elsa kembali menjadi target pembunuhan Dodi. Polisi yang tepat waktu segera melumpuhkan Dodi saat pria itu hanya terfokus pada Elisa hingga tidak menyadari polisi berada disana.
Flash Back Off.