
"Sepertinya ada yang sedang kasmaran." Suara tiba-tiba membuyarkan lamunan Elardo. Seorang pria yang sejak tadi mengetuk pintu ruangan itu namun tidak ada sahutan membuatnya menyelonong masuk.
Sorot mata Elardo langsung membulat sempurna saat pria itu berdiri di depannya yang tidak lain adalah rekan juga sahabat baiknya. "Kau kapan kembali, kenapa tidak menelepon untuk menjemput?"
"Kau ini sudah sibuk sampai lupa makan bagaimana meminta menjemput yang ada aku akan kering menunggu." Sahabat baik Elardo itu mengingat kembali saat berkali-kali diabaikan karena Elardo terlalu sibuk hingga melupakan janji ketemu dengannya.
"Dimana gadis jenius yang kau ceritakan, aku sangat penasaran ingin bertemu." Sahabat Elardo itu mengalihkan topik pembicaraan yang membuatnya cepat-cepat ingin kembali. Elardo menceritakan bagaimana jeniusnya seorang gadis yang benar-benar akan menjadi aset besar untuk Cashelion Internasional.
"Hei kau ini mendengar nama gadis membuatmu seantusias ini." Elardo tersenyum geli, Ia memang tidak menceritakan gadis itu masih berumur 7 tahun.
"Kau jangan salah seumur hidupku aku hanya mencintai seorang wanita meski sampai sekarang cintaku ditolak tapi aku akan memperjuangkannya sampai titik darah penghabisan. Kau sendiri bagaimana, apa masih mengejar cinta Ibu muda itu?"
"Tentu saja nasibku tidak jauh beda dengan nasibmu, aku ditolak saat melamarnya."
Mendengar itu sahabat Elardo itu langsung tertawa terbahak-bahak, bagaimana seorang Elardo Cashel bisa ditolak seorang wanita yang berstatus ibu tunggal sedangkan Ia menjadi pujaan setiap gadis.
"Kau hanya tinggal tunjuk gadis yg kau inginkan namun sia-sia memperjuangkan wanita yang menolakmu tapi mendengar ceritamu seperti Ia bukan wanita biasa." Bayangkan sahabat Elardo itu langsung tertuju pada wanita yang sudah dicintainya sejak lama. Wanita istimewa yang membuatnya berbeda dari wanita lainnya yang pantas untuk diperjuangkan walaupun sudah ditolak berkali-kali.
"Datang lah nanti malam ke rumah wanitaku akan datang berkunjung juga aku perkenalkan gadis jenius itu."
"Wah ada dua wanita istimewa aku sudah tidak sabar menunggu nanti malam. Baiklah aku pergi dulu." Pamit sahabat Elardo melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.
"Kau memang wanita istimewa wanita yang pantas untuk mendampingi Elardo Cashel," gumam Elardo.
...
Malam hari di kediaman Cashel.
Kiara antusias menunggu kedatangan Ibunya di teras. Beberapa hari tidak bertemu ibunya membuat Kiara begitu merindukan wanita yang selama ini selalu bersamanya.
"Kiara tunggu lah di dalam, Om sudah menyuruh orang untuk menjemput ibumu," bujuk Elardo.
Kiara hanya mengangguk menuruti perintah ayah angkatnya itu.
Drt ... drt.
Ponsel Elardo bergetar di sakunya segera dia menjawab panggilan telepon dari sahabatnya itu.
"Baiklah lain waktu saja," ucap Elardo sebelum menutup teleponnya. Telepon dari sahabatnya yang meminta maaf karena tidak bisa datang kau urusan mendadak.
__ADS_1
Satu jam kemudian.
Elardo masih setia menunggu wanitanya di teras rumahnya namun tidak juga melihat batang hidung Elisa.
Elardo segera melihat ponselnya untuk mengecek sistem yang Ia pasang di ponsel Elissa.
Alarm tanda bahaya yang kini muncul di layar ponsel Elardo yang menandakan Elisa dalam bahaya.
Sistem itu memang bekerja seperti bodyguard dari jarak jauh menjelaskan tentang keadaan si pengguna, lokasi juga peringatan tanda bahaya jika terjadi sesuatu yang membahayakan nyawanya.
Setelah mendapatkan peringatan bahaya dari sistemnya Elardo menghubungi orang yang diperintahkan nya untuk menjemput Elisa namun tidak tersambung begitu juga dengan Elisa ponselnya tidak aktif.
Elardo yang panik dan khawatir langsung meluncur ke tempat dimana Elisa berada setelah sebelumnya pamit pada Kiara.
Elardo memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi karena Ia tidak ingin sesuatu terjadi pada wanitanya.
"Please kamu harus baik-baik saja Elisa," gumam Elardo selama perjalanannya.
Elardo memelankan laju mobilnya saat melihat Elisa berdiri di trotoar berbicara dengan seorang wanita.
Elardo menepikan mobilnya lalu segera turun dan berlari ke arah Elisa
"El kau baik-baik saja?" cecar Elardo dengan nada bergetar karena sangat khawatir. Ia mengira Elisa mengalami kecelakaan namun setelah melihat wanitanya baik-baik saja Ia bernapas lega.
Tanpa aba-aba pria itu langsung menarik tubuh Elsa masuk ke dalam dekapannya. Sesaat lalu nafasnya begitu sesak membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada wanita di pelukannya itu.
.
"Apa yang terjadi?" telisik Elardo saat keduanya sudah naik mobil dan melanjutkan perjalanan.
Flash Back On.
Elsa keluar dari rumahnya pukul tujuh malam dijemput orang suruhan Elardo. Beberapa menit melaju kondisi masih aman namun saat masuk ke jalan xxxxx Elsa merasakan intuisinya memberi petunjuk akan ada kecelakaan besar.
Elsa merasa dadanya sangat nyeri juga bau anyir yang sangat kuat.
"Pak hentikan mobilnya!" perintah Elsa.
"Anda belum sampai di rumah tuan El, Nyonya."
__ADS_1
"Hentikan!" bentak Elsa karena Ia tidak punya waktu banyak.
Elsa segera keluar dari mobil menatap sekeliling jalan nampak Ia samar-samar melihat kecelakaan besar itu terjadi di depannya.
"Itu, kenapa aku bisa melihatnya." Elsa mengucek matanya berkali-kali dan tetap kecelakaan besar yang melibatkan puluhan mobil nampak samar terlihat dalam penglihatannya.
"Anak itu."
Tinnnnnn!
Elsa berlari kencang mengamankan anak laki-laki yang hampir tertabrak itu. Sedetik saja Ia telat nyawa anak itu taruhannya..
Hah ... hah ....
Elsa terengah-engah setelah membawa anak itu ke pinggir jalan.
"Hei kau, dimana ibumu?" telisik Elsa menatap penuh anak laki-laki itu.
"Sayang, sayang kau disini Nak."
Seorang Ibu muda berlari ke arahnya lalu mengambil alih anak itu dari gendongan Elsa.
"Kau bagaimana menjaga anak, hampir saja anak ini celaka!" Elsa meluapkan emosinya karena kelalaian wanita itu hampir menyebabkan anak kecil tidak berdosa itu kehilangan nyawa. Bukan satu nyawa mungkin puluhan nyawa jika Ia tidak bertindak cepat tadi. Mobil yang hendak menabrak anak itu membanting setir ke kiri menyebabkan kecelakaan dari arah sebaliknya membuat kecelakaan beruntun terjadi.
"Maaf Bu, lain kali saya akan lebih berhati-hati. Terima kasih jika bukan karena anda saya tidak tahu." Ibu muda menunduk beberapa kali sebagai tanda terima kasih. Ia juga mengambil cek kosong dan pulpen. "Tulis berapapun uang kompensasi yang anda inginkan," tawar Ibu muda itu.
"Kau pikir aku melakukannya karena uang simpan untuk anakmu!" Elsa berucap dengan nada kesal karena perbuatan baiknya dianggap meminta imbalan.
"Maaf bukan untuk menyinggung mu hanya saja ini sebagai tanda terima kasih. Ambil ini jika perlu bantuan apapun jangan sungkan mencari kami." Ibu muda itu memberikan kartu nama lalu melangkah pergi.
{Misi penyelamatan berhasil, imbalan sebesar 1 M}
"Hah banyak sekali." Elsa berdecak tidak percaya karena sebelumnya Ia hanya mendapat imbalan 100 juta dari sistem.
{Setiap satu nyawa imbalannya 100 juta, anda menyelamatkan 10 nyawa}
Elsa merasa tidak percaya hal kecil seperti tadi membuatnya menyelamatkan sepuluh nyawa sekaligus.
Ting ... ting.
__ADS_1
Elsa memeriksa ponselnya notifikasi dari Bank yang memberitahukan uang senilai 1 M masuk ke rekeningnya.
Flash back Off.