
"Ternyata seperti itu, aku tidak menyangka Om ganteng akan secepat ini menyatakan perasaannya," lirih Kiara.
Sebelumnya Kiara tidak bisa tidur sehingga mencari keberadaan Ibunya untuk tidur bersama. Kiara dan Elsa mempunyai kabar berbeda. Kamar Kiara lebih besar karena disana disediakan seperangkat perangkat komputer.
Kiara melihat Ibunya dan Elardo naik ke rooftop, Ia pun berinisiatif mengikuti.
"Ibu sudah cukup menderita, Om ganteng pasti bisa membuat Ibu bahagia. Aku harus melakukan sesuatu untuk menahan Ibu," gumam Kiara dalam hati. Ia bergegas turun sebelum kehadirannya disadari kedua orang itu.
.
.
Elsa memejamkan matanya namun entah mengapa pikirannya yang melayang kemana-mana membuatnya tidak bisa tidur. Ia masih tidak mengerti, kenapa pria konglomerat seperti Elardo bisa berpikir untuk menikahinya.
"Apa mungkin penglihatannya sudah rusak?"
Elsa beranjak dari tempat tidur, menghidupkan lampu. Kini Ia sudah berada di depan cermin menatap pantulan dirinya di cermin itu.
"Kenapa wajahku semakin lama semakin mirip wajahku sendiri," gumamnya. Ia mengambil cushion hendak mengaplikasikan ke wajahnya. "Ah apa yang kamu lakukan Elsa, kamu harus fokusnya ke tujuanmu, persetan dengan pria karena semua pria itu sama buaya," ingat Elsa pada dirinya sendiri. Ia meletakkan kasar cushion nya lalu kembali ke ranjangnya.
Rasa sesak dan sakit menjalar ke hatinya sesaat mengingat pria yang baginya sudah hidupnya tapi semua hanya menyisakan kesakitan jika mengingat perbuatannya yang mengkhianatinya.
.
.
"Dimana aku?" Elsa menatap sekelilingnya. Sorot matanya langsung terarah pada Reinaldo ( pacar Elsa) dan Anna (sahabat baik Elsa).
Keduanya tertawa sinis menatapnya membuat Elsa geram.
"Kau pikir kau pantas. Kau hanya wanita bodoh yang dimanfaatkan, kau lihat badan dan wajah sama sekali tidak cantik hanya pria buta yang menginginkanmu!" cerca Anna sembari mendorong tubuhnya membuatnya hampir terjatuh. Tangan sigap seseorang langsung menahannya.
"Siapa yang kau sebut bodoh dan tidak cantik, wanita ini permata bagiku." Pria itu menatap Elsa seksama, keduanya berciuman begitu mesra.
"Aw." Elsa merintih kesakitan saat tubuhnya membentur lantai dengan keras setelah jatuh dari ranjang.
"Mimpi, aku hanya bermimpi." Elsa bangkit dari lantai dengan pikiran masih mengingat-ingat mimpinya yang aneh.
"Pria itu kenapa ada di mimpiku, apa aku sudah gila sampai terbawa mimpi!" Elsa memukul kepalanya sendiri berharap otaknya yang sedikit geser kembali ke tempatnya.
Saat Sarapan.
"Tuan karena anda sudah pulih sepenuhnya, aku ingin pamit kembali ke kontrakan. Kiara kau bisa tinggal disini, jika rindu Ibu kau bisa pulang." Elsa menatap Elardo sekilas lalu ke Kiara yang tepat di sebelahnya.
"Ibu aku ingin ikut Ibu, aku tidak bisa meninggalkan Ibu sendiri," tolak Kiara. Melirik Elardo sekilas.
__ADS_1
"Kau harus belajar, kau mau Ibu bahagia kan?" bujuk Elsa.
"Paling tidak jika aku tinggal disini, Ibu akan sering kesini, bukan hal buruk," gumam Kiara.
Kiara akhirnya mengangguk menyetujui keinginan Ibunya.
Setelah sarapan Elsa bergegas pergi setelah berpamitan dengan Kiara.
Beep ... beep.
Klakson mobil berbunyi dua kali dan berhenti tepat di depan Elsa yang menyusuri jalanan itu.
Si empunya mobil keluar dari dalam mobil mewah itu yang tidak lain Elardo.
"Kali ini jangan menolakku, aku antar pulang."
Tawaran bersifat perintah itu dilontarkan Elardo membuat Elsa tidak bisa menolaknya apalagi pria itu tampak begitu berharap.
Mobil pun melaju setelah keduanya masuk ke dalam mobil. Suasana nampak canggung karena hanya keheningan yang terjadi di dalam mobil itu.
"Nona Elsa pinjamkan ponselmu!" Elardo dengan tangan menengadah menatap wanita disebelahnya itu.
"Kau tidak membawa ponsel?" Elsa mengerti dengan pertanyaannya karena Ia merasa aneh tiba-tiba pria itu meminjam ponselnya. Elsa yang menghormati pria itu tidak bisa menolak karena walaupun ponsel bersifat pribadi mungkin saja Ia sangat membutuhkannya hingga meminjamkan dengan sukarela.
"Ini." Menaruh ponselnya di telapak tangan Elardo.
Sistem berhasil di pasang, pemberitahuan yang tertulis di layar itu. Tidak lupa Elardo mengirim pesan ke ponselnya agar nomer ponsel itu terkonfirmasi ke ponselnya.
"Ini aku kembalikan."
Elsa langsung memeriksa ponselnya dan menemukan pria itu hanya meminta nomer ponselnya.
Mobil berhenti tepat di depan kontrakan Elsa.
"Tuan jika ada sesuatu dengan Kiara jangan sungkan-sungkan hubungi aku." Ingat Elsa sebelum turun dari mobil. Elardo hanya mengangguk sambil tersenyum menanggapi ucapan Elsa.
Mobil kembali melaju meninggalkan tempat itu.
Elsa melangkah lebih jauh menuju teras.
{ Peringatan, ketrampilan intuisi akan segera dipasang}
Tanpa bisa Elsa tolak sistem langsung memasang ketrampilan Intuisi ke tubuhnya.
"Arghhh." Elsa mengerang merasakan kepalanya sakit seperti otaknya digigit puluhan semut. Perlahan lahan rasa sakit itu menghilang berganti aliran hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Sistem kenapa tiba-tiba memasangnya bukannya aku ingin memasang jika sudah dikontrakan. Iya benar aku sudah disini tapi setidaknya biarkan aku masuk dan bersiap," geram Elsa.
{ Situasinya darurat Nyonya}
Tiba-tiba Elsa perasaan kuat, perasaan ingin sekali ke arah kanan. Elsa menaruh tas yang berisi pakaian ke dalam rumahnya terlebih dahulu setelah itu mengunci kembali pintu rumahnya.
Perlahan-lahan Elsa mengikuti intuisinya. Selangkah, dua langkah perasaan itu semakin kuat sampai membuat perasaan sesak saat menatap sebuah rumah reyot berlantai kan tanah dan berdinding anyaman bambu.
Tanpa menunggu lama Elsa langsung mendekat ke rumah itu. Saut-saut suara tangis langsung menyambutnya.
Tok ... tok.
Elsa mengetuk pintu beberapa kali, seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah itu dengan mata sembab juga pipi yang basah, dipastikan wanita itu yang tadi mengeluarkan suara tangis.
"Cari siapa?" tanyanya sambil menyeka air matanya dengan lengkapnya.
"Ada apa Bu, apa terjadi sesuatu kenapa Ibu menangis?"
Wanita paruh baya itu langsung jatuh bersimpuh lalu menceritakan masalahnya pada Elsa.
"Orang-orang besar itu mereka memang brengsek mereka itu Dokter atau iblis, bagaimana bisa mengusir anak sakit dengan alasan tidak bisa membayar administrasi.
Elsa menggendong anak lima tahun yang terkena demam berdarah itu dan membawanya segera ke rumah sakit. Kondisinya sangat buruk jika tidak segera ditangani akan mengancam jiwanya.
Selama beberapa hari Elsa terus menemani wanita itu juga membayar seluruhnya beban administrasinya. Seperti dirinya, wanita yang ditolongnya itu juga merupakan Ibu tunggal, suaminya setahun lalu meninggal membuat hidupnya tiba-tiba terpuruk dengan dua anak yang menjadi tanggungannya.
"Ibu ini pergunakan untuk usaha jual makanan atau apa saja, jika Ibu membutuhkan bantuan datang ke rumahku di ujung gang." Elsa memberikan uang senilai lima juta untuk modal kepada wanita paruh baya itu.
"Terima kasih Bu Elisa. Jika bukan berkat anda, saya tidak tahu apa yang terjadi pada anak saya, semoga Tuhan membalas kebaikan anda," ucap wanita itu.
Elsa melangkah pergi meninggalkan rumah itu dengan perasaan senang, perasaan yang belum pernah Ia rasakan seumur hidupnya.
{ Sistem mendeteksi Nyonya penyelamat melakukan misi kebaikan, imbalan sebesar 200 juta}
Bertepatan dengan itu ponselnya juga ikut bergetar. Notifikasi dari Bank uang sebesar 200 juta masuk ke rekeningnya.
Sementara pria tampan yang sedang duduk di kursi kebesarannya menatap ponselnya sesama.
"Suhu tubuh normal, Lokasi xxxx." Elardo membaca deskripsi di ponselnya.
"Syukurlah kalau dia baik-baik saja." Elardo berdecak senang namun beberapa hari tidak bertemu membuatnya merasa rindu. Beberapa hari lalu saat mengetahui lokasinya di sebuah rumah sakit Ia sangat khawatir namun setelah mengetahui alasannya Ia bernapas lega.
"Kau benar-benar wanita beruntung yang pertama mencobanya nona Elisa."
Seharian ini Elardo terus memikirkan Elisa membuatnya harus melakukan sesuatu. Pikirannya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi setelah beberapa hari menahannya.
__ADS_1
"Sebaiknya aku mengundang ke rumah, bilang saja Kiara merindukannya." Elardo tersenyum menyeringai dengan rencananya.