
Setelah acara penyambutan yang menurut Elsa tidak lah penting, kini giliran Elsa mengintrogasi pria di balik semua kebingungannya sejak pagi.
Elsa menatap intens pria yang usianya hampir setengah abad itu namun masih gagah dan tampan meski tidak muda lagi. Ya banyak sekali pertanyaan yang kini memenuhi kepalanya namun Ia berusaha keras untuk tetap tenang walau sebenarnya Ia sangat kesal.
"Kau pasti bingung dengan semua yang terjadi hari ini, kan?" Galang Abimanyu lebih memilih memulai pembicaraan karena sebenarnya Ia ingin menjelaskan terlebih dahulu namun karena jadwal yang padat serta waktu yang terbatas membuatnya harus menahan keinginannya.
"Apa seorang pebisnis besar seperti anda sesuka hati melakukan apapun meski orang lain tidak menyetujuinya." Elsa yang masih kesal merespon ucapan Galang dengan ketus.
Menanggapi ucapan wanita di depannya itu Galang hanya tersenyum. Ya sifat galak dan tidak bisa diatur ini mengingatkannya akan sosok Agatha. Sosok yang masih lekat dalam ingatannya yang sampai kapanpun tidak akan terganti.
"Sebaiknya anda tidak bertele-tele jika tidak aku akan meninggalkan tempat ini." Elsa yang sudah tidak taha dengan sikap lembek Galang berusaha memberi ancaman. Ia bangkit sebagai penekanan untuk pria tua itu.
Tidak ingin berlama-lama karena ya momen ini sudah ditunggunya sejak lama dan akhirnya akan segera terwujud.
"Sebenarnya kau adalah putri dari seorang wanita yang aku cintai, wanita itu adalah Agatha." Galang menatap Elsa intens seakan dari sorot matanya mengatakan jika cinta itu masih ada hingga kini.
"Ya memang betul aku memang putri Agatha ...." Elsa yang tadinya berbicara tanpa jeda yan karena memang Ia putri dari Agatha. Namun langsung terdiam saat menyadari sesuatu yang salah dengan pemahamannya. Saat ini Ia adalah Elisa bukan Elsa.
"Kau sudah tahu apa mommy mu yang mengatakan?" tanya Galang dengan nada cemas.
Elsa berusaha menenangkan diri walaupun saat ini rasanya hatinya hatinya ingin berteriak tentang siapa Elisa sebenarnya.
"Coba katakan sekali lagi, siapa aku?" Wajah Elsa berubah sendu dan bahkan air matanya menitik.
Galang menyeka air mata Elsa ya seperti yang gadis di depannya rasakan Ia pun ikut merasakannya. Selama hidupnya bahkan mungkin baru sekali ini mendengar hal ini atau mungkin Ia sudah lebih dulu mendengar.
"Maaf Nak, maaf karena kau harus mengalami masa sulit. Aku begitu terluka wanita yang aku cintai menikah dengan pria lain sehingga aku merasa depresi. Untuk menebus kesalahannya, Agatha memberikan salah seorang putrinya padaku dan kau adalah putri Agatha."
__ADS_1
"Jadi, jadi ...." Elsa tidak bisa meneruskan kata-katanya dengan kebenaran yang baru saja di dengarnya. Selama ini Ia hidup menjadi saudara kembarnya Elma.
Galang tidak menyangka jika putrinya itu akan sesedih ini mengetahui semuanya. Ia memeluk tubuh putrinya itu berusaha menenangkan.
...*****...
Malam hari Elsa kembali ke apartemennya. Ya walau Galang memintanya untuk tinggal bersamanya namun Ia meminta waktu untuk menenangkan diri.
Ia langsung masuk ke kamarnya. Langkahnya berhenti tepat di depan cermin. Ditatapnya pantulan wajah dari cermin sembari meraba sendiri wajahnya.
"Kak kau kah ini, selama ini aku hidup menjadi dirimu," ucap Elsa sembari terisak. Di detik selanjutnya Ia membuka pakaiannya setelah sebelumnya menyeka air matanya. Ya Elsa ingat betul jika seperti yang Mom Agatha katakan jika Ia dan kembarannya memiliki tanda lahir yang sama di punggung.
Tanpa berpikir panjang Ia melucuti seluruh pakaian yang Ia kenakan hingga menyisakan pakaian bawahnya saja sementara pakaian atas terlepas sempurna. Ia mengarahkan punggungnya menghadap cermin. Karena terlalu takut ia menutup matanya.
"Ok Elsa mari kita lihat kebenarannya 1...2...3." Elsa perlahan membuka matanya lalu menengok ke arah cermin.
Dan benar saja jika tanda lahir itu memang ada sama persis tanda lahir yang Ia memiliki saat menjadi Elsa.
Hiks ... hiks.
Air mata Elsa menitik deras.
"Kenapa Tuhan kau mempertemukan aku dengan kakakku dengan cara seperti ini, tidak kah kau mengambil nyawaku daripada nyawanya. Kakakku itu terlalu baik bahkan seperti malaikat tapi aku. Ini benar-benar tidak adil untuk kakakku!" gugat Elsa dengan ketetapan Tuhan. Ia melempar bantal ke sembarang arah dan tanpa sengaja terlempar ke kaki Elardo.
"Ada apa?"
Elsa yang melihat kedatangan prianya langsung berlari ke arah Elardo, Ia memeluk dengan erat.
__ADS_1
Cukup lama Elardo membiarkan Elsa tenang dengan sendirinya sampai akhirnya wanitanya itu sadar jika bertelanjang dada sejak tadi.
"Tolong jangan bergerak tetap seperti ini!" Elsa mendekap erat tubuh Elardo karena tidak ingin pria itu menatap bagian tubuhnya yang tanpa penutup itu. Ia yang begitu sedih sampai tidak menyadari jika masih belum mengenakan pakaian setelah memeriksa tanda lahir di punggungnya.
Lima menit berlalu Elsa masih tetap erat mendekap tubuh Elardo.
"Mau sampai kapan kita seperti ini, bukankah kita sudah menikah biarkan aku melihatnya," bujuk Elardo berusaha melepas dekapan wanitanya semakin erat.
"Tidak, jangan!" Elsa semakin mengeratkan dekapannya.
"Baiklah jika kau tidak ingin memperlihatkannya." Elardo mengambil alih kendali Ia membopong tubuh Elsa bersamaan dengan itu menutup matanya.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Aku akan membawamu masuk ke kamar mandi, kau hanya perlu memandu ku melangkah."
"Kau benar-benar menutup matamu, kau pasti mengintip kan?" Elsa yang tidak mempercayai begitu saja langsung menyilangkan lengannya ke dadanya.
"Aku benar-benar menutup mata, kau lihat kan?" Elardo berusaha meyakinkan karena sejak tadi Ia menutup mata tanpa membuka sedikitpun.
"Cepat jalan!"
"Kemana?"
"Lurus, kanan, eh kiri." Elsa berusaha memandu Elardo namun karena Elsa terus bergerak membuat langkah Elardo tidak seimbang sedang matai tertutup.
Brughh!
__ADS_1
Kedua jatuh bersamaan dengan posisi Elsa berada di bawah.
"Kau!" geram Elsa mendorong tubuh Elardo dengan kuat enyah dari atas tubuhnya. Setelah itu berlari menuju kamar mandi yang berjarak hanya dua langkah kaki saja.