Reinkarnasi Sistem Ibu

Reinkarnasi Sistem Ibu
Bab 22. Hadiah Dari Tuhan


__ADS_3

"Arghhh." Elardo mengerang memegangi lukanya. Ia bahkan masih memakai baju khas pasien rumah sakit.


"Tuan kau harus segera kembali ke rumah sakit!" Elsa menahan tubuh Elardo yang condong ke tubuhnya.


"Arghhh." Elardo semakin merintih dengan wajah pucat.


Karena kondisi yang tidak memungkinkan Elsa dibantu beberapa pengawal membawa masuk Elardo masuk ke rumahnya sementara Arga ke kantor polisi untuk membereskan masalah tadi.


"Dimana yang sakit, kau tunggu disini." Setelah membaringkan Elardo di kamarnya, Elsa bergegas pergi ke apotek.


.


.


Beberapa menit kemudian kembali wanita itu dengan cekatan memasang Sekang infus memeriksa dan luka juga memberikan suntikan pereda nyeri pada Elardo.


"Kau dari mana belajar menjadi dokter seperti ini?" Sejak tadi Elardo terus memperhatikan Elisa bukan seperti terpaksa atau seperti belajar, Elisa bahkan seperti dokter hebat.


"Dulu aku pernah ...." Elsa hampir saja mengatakan Ia pernah sekolah dokter bahkan bergelar dokter spesialis, Ia lupa Elsa sudah meninggal yang ada hanya Elisa yang SMA pun tidak lulus.


"Dulu apa?" desak Elardo.


"Dulu ... dulu aku pernah ikut Dokter bedah dan diajari." Elsa sempat bingung mencari alasan namun saat terpikirkan Ia berucap dengan cepat dan penuh keyakinan.


"Aku akan telepon ambulan untuk datang dan membawamu kembali ke rumah sakit." Elsa mengambil ponselnya di nakas namun dengan cepat tangannya ditarik Elardo.


"Aku mau kau merawat ku," ucap Elardo.


Mendengar itu Elsa merasa tidak percaya bagaimana seorang tuan Cashel mempercayakan nyawanya pada seorang amatir sepertinya.


"Kau gila Tuan, aku bukan dokter bagaimana jika lukamu infeksi?"


"Aku percaya kau akan menyembuhkan aku." Elardo berucap penuh keyakinan.


Elsa hanya bisa menghela nafas namun tetap saja Ia akan bekerja sama dengan Dokter agar luka di tubuh pria itu segera sembuh.


Cukup lama Elsa meninggalkan mimpinya itu setelah dikhianati kekasihnya. Ia dan kekasihnya pernah berjanji untuk bersama-sama menjadi dokter bedah hebat namun mimpinya itu sirna seketika saat mendapati kekasihnya berselingkuh bahkan menghamili sahabat baiknya yang juga teman seangkatannya. Sejak saat itu Elsa mengubur mimpinya beserta masa lalunya. Ia kemudian menjadi aktris juga model untuk menghibur hatinya karena di dunia itu Ia bebas mengekspresikan apapun keinginannya.

__ADS_1


"Nona Elisa. Nona Elisa." Panggil Elardo beberapa kali saat wanita itu terlihat termenung.


"Hm." Elsa tersentak lalu di detik berikutnya menghela nafas berat.


Elardo tahu Elisa menjalani hidup yang sulit apalagi setelah semua itu suaminya yang lebih tepatnya ayah Kiara tewas di depan matanya menjadi pukulan terberatnya.


"Lupakan semuanya Dodi pantas mendapat ganjarannya."


Elsa mengangguk. Masih kental dalam bayangannya bagaimana pria itu menjadikan Elisa budak nafsu padahal saat itu usianya baru 17 tahun. Trauma berat bagi seorang gadis seperti Elisa sampai suatu ketika Elisa hamil sejak saat itu Ia menolak untuk melayani Dodi. Pria itu geram mengusirnya dari rumah, ayahnya pun meninggal karena perbuatan Dodi. Selama itu Dodi terus membayangi kehidupannya dengan membuatnya kesulitan ekonomi hanya demi membuatnya bersujud di kakinya dan meminta kembali Ia membuat Elisa hidup menderita.


"Bahkan jika aku mampu aku mau menyiksanya di neraka!" Elsa berucap dengan berkaca-kaca juga aura kemarahan yang sudah mendarah daging.


"Ibu. Ibu," panggil Kiara. Gadis kecil itu masuk ke kamar itu mendapati Ibunya dan om ganteng disana.


"Om ganteng, kapan Om kesini, Om sudah sembuh?" cecar Kiara dengan pertanyaannya.


"Om mau dirawat Ibumu, apa boleh?" Elardo malah menjawab cecaran Kiara dengan pertanyaan. Kiara menatap Ibunya karena Ia takut salah menjawab.


"Aku tidak mengizinkanmu berada disini tapi aku bersedia merawat mu di rumahmu." Elsa mengemukakan alasannya. Bukan karena rumahnya jelek maupun sempit namun uny menghindari konflik karena Ia tinggal di lingkungan yang tingkat kepedulian sesama tetangganya begitu tinggi. Ia tidak mau tetangganya berpikiran lain karena tinggal seatap dengan pria yang bukan muhrimnya.


"Apa aku bisa mempercayai ucapanmu?" Elardo menatap Elsa dengan tatapan penuh kecurigaan.


Malam itu juga Elardo beserta Elsa juga Kiara ikut pindah ke istana Cashel.


Kedatangannya disambut puluhan pelayan yang memiliki tugasnya masing-masing.


"Ibu rumah Om ganteng besar banget ya kayak istana," ucap Kiara.


Mendengar itu Elardo yang duduk di kursi roda hanya menahan senyum berbeda dengan Elsa yang merasa tidak nyaman karena sebenarnya Ia tidak suka suasana yang ramai.


"Kiara kau lihat kamarmu!" perintah Elardo menatap pelayannya sekilas sebagai tanda perintah.


Kiara juga pelayan itu melangkah pergi begitu juga dengan Elsa yang mengekor. Elardo nampak kesal karena ditinggalkan begitu saja.


"Nona kau mau meninggalkan pasienmu sendiri disini!" protes Elardo.


"Padahal banyak pelayan namun berucap meninggalkannya sendiri, apa dia tidak waras!" geram Elsa dalam hati.

__ADS_1


Elsa kembali ke tempatnya lalu mendorong kursi roda Elardo menuju kamarnya.


"Ingat aku ini pasienmu jadi perlakukan aku dengan baik." Elardo kembali mengingatkan.


"Saya tahu Tuan tapi anda harus ingat saya melakukan semua sebagai balasan terima kasih karena anda seperti ini karena menyelamatkan saya."


"Bagus kalau kamu mengerti." Elardo tersenyum senang, Ia akan membuat alasan ini untuk dekat dengan Elisa.


Hari-hari berlalu selama ini Elardo begitu manja saat bersama Elsa. Jika orang melihatnya itu bukan manja seorang pasien tapi seperti seorang kekasih yang mendamba.


"Aku sudah kenyang." Elardo menolak suapan dari Elsa.


Elsa menaruh piring itu ke nampan lalu mengambil obat untuk diberikan pada pria itu. Setelah itu Elsa hendak bangkit dan ingin pergi keluar tapi tangannya sudah ditahan Elardo. "Aku mau buah," rengekannya seperti anak kecil.


"Aku ingin mencuci tangan nanti aku akan suruh pelayan datang kesini membawakan buah." Elsa kembali bangkit.


"Arghhh, sakit." Elardo memegangi lukanya sambil merintih.


"Sakit ya, makannya jangan banyak berulah." Elsa membantu Elardo untuk kembali berbaring setelah sebelumnya sempat bangkit.


Akhirnya Elardo berhasil menahan wanita di depannya itu.


...


2 Minggu Berlalu.


Selama tinggal di istana Elardo, Kiara dibimbing orang khusus untuk memperdalam bakatnya tentang IT nya. Kiara semakin mahir bahkan kemampuannya terus meningkat pesat, Ia dapat menciptakan game online yang meledak di pasaran.


Game yang terinspirasi dari Ibunya yang seperti wonder women membuat Kiara berhasil menciptakan karakter wanita penyelamat yang menyelesaikan misi-misinya membantu orang-orang yang membutuhkan bantuannya.


"Ibu, ini Ibu simpan." Kiara yang baru saja masuk kamar itu memberikan amplop coklat. Elsa langsung membukanya segepok uang yang ada di amplop itu.


"Uang apa ini Kiara?" Elsa menatap Kiara dengan tatapan mengintimidasi.


"Itu uang yang dihasilkan Kiara, baru beberapa hari perusahan Cashelion Internasional meluncurkan game baru Super Girl, game itu langsung meledak di pasaran.


Cashelion Internasional perusahaan milik Elardo yang bergerak di bidang software dan bidang tercanggih menjadi perusahaan IT nomer satu di negaranya. Mengembangkan game online juga sistem pada ponsel yang membuatnya semakin canggih.

__ADS_1


Baru-baru ini Cashelion Internasional berhasil membuat Sistem Spy pada ponsel yang dapat digunakan untuk memata-matai si pengguna ponsel yang juga dinamai Sistem Siluman. Dari jarak berapapun jika sistem itu sudah tertanam ke ponsel target, sistem akan bekerja dengan baik. Ia masih dalam tahap uji coba sistem itu hingga belum melemparnya ke pasaran.


"Kiara kau bagaimana bisa ...." Elsa tidak meneruskan kata-katanya karena saat itu Ia tidak bisa menahan rasa harunya karena begitu bahagia. Ia merasa Tuhan sangat adil di sela hidup memilukan Elisa dan Kiara, Tuhan turut memberikan berkat yang begitu besar.


__ADS_2