
"Prof bagaimana mungkin anda memintaku merawat pasien ini?" Elsa tidak mengerti dengan jalan pemikiran Profesor Edward yang memintanya merawat pasien yang baru saja didiagnosis menderita penyakit langka.
"Kau sangat handal Elsa jadi kau berkesempatan merawatnya. Aku tahu kau mampu," ucap Profesor Edward sembari menepuk bahu Elsa.
Deg ... deg.
Jantung Elsa berdetak kencang saat nama Elsa yang terucap dari bibir Prof Edward bukan Elisa. Dan bagaimana bisa Profesor Edward tahu jika Ia pernah melakukan eksperimen tentang penyakit langka itu. Kenyataannya Elsa lah yang melakukannya bukan Elisa walaupun kenyataannya Elisa itu adalah Elsa.
"Prof anda baru saja memanggil namaku Elsa bukan Elisa apa ...."
"Kau seperti titisan Elsa serta wajah kalian yang mirip membuatku .... Maaf Elisa sebenarnya aku merindukan Elsa, hari ini ulang tahunnya," jelas Prof Edward sembari tertunduk sedih.
Melihat orang yang paling berjasa dalam hidupnya merasa sedih atas kepergiannya membuat Elsa menitikkan air mata. Belum juga bisa membalas kebaikan pria itu ajal sudah menjemput. Terakhir kali bahkan ia bersikap tidak sopan demi membuat pria paruh baya itu menyerah untuk tidak terus-menerus membujuknya kembali ke dunia medis.
Elsa langsung reflek memeluk tubuh Prof Edward. "Maafkan aku Prof, maafkan aku," ucapnya sembari terisak-isak.
.
.
Kini keduanya sudah duduk taman yang tepatnya berada di balkon rumah sakit itu. Elsa yang begitu emosional butuh ditenangkan.
Sudah sangat lama Profesor Edward mencurigai sesuatu tentang Elisa namun Ia tetap tidak berani berasumsi. Namun semakin lama Ia semakin yakin akan kecurigaannya tentang sikap Elisa dan semua tentangnya mengingatkan pada satu sosok bernama Elsa.
Setelah cukup lama membiarkan Elisa tenang sembari menghirup udara segar Profesor Edward memulai pembicaraannya.
"Elisa kau apakah mengenal Elsa?" Prof Edward berkata dengan lembut sembari menatap wajah dalam wajah Elisa berharap ada kejujuran dalam setiap jawaban yang nantinya akan terlontar.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba profesor menanyakan hal itu apa mungkin Ia tahu sesuatu tentangku juga Elisa?" gumam Elsa.
"Aku hanya pernah melihatnya beberapa kali di tivi Prof, kenapa Prof menanyakan hal itu bukankah dia selebritas terkenal?"
Elsa lebih memilih untuk tidak terburu-buru memberitahu Profesor Edward jika tidak ingin pria paruh baya itu menganggapnya terkena gangguan jiwa. Pelan-pelan Ia akan mencari tahu apa yang sebenarnya diinginkan gurunya di dunia medis itu.
"Sejak awal aku melihatmu jelas sudah aku melihat sosok Elsa, kau benar-benar seperti titisannya. Apa mungkin di dunia ini benar-benar ada orang-orang seperti itu?"
Elsa benar-benar tidak salah menduga jika Prof Edward pasti akan mengenalnya lambat laun dan itu sudah terbukti. Sudah saatnya Ia akan membuka semua rahasianya di depan Prof Edward.
"Prof jika saya katakan orang yang sudah meninggal itu mungkin bisa bereinkarnasi, apa anda akan mempercayainya?"
"Reinkarnasi?"
Prof Edward mengerutkan kening seakan tidak percaya membuat Elsa merasa kecewa. Ia lantas bangkit dari duduknya melangkah menuju pembatas balkon menatap area bawah yang tepat jalan besar mobil-mobil berseliweran.
Prof Edward bangkit. Ia berdiri tepat di samping Elsa. "Apa kau tahu jika kamu ingin dimengerti dunia maka itu mustahil tapi aku salah satu orang yang percaya kuasa Tuhan itu nyata. Lima bulan lalu aku melihat jelas jasad terbujur kaku yang aku tahu betul siapa orang itu. Aku benar-benar menyesalkan bagaimana bisa gadis berbakat seperti Elsa tewas begitu saja sampai akhirnya aku membuat permintaan jika saja gadis itu hidup kembali maka seumur hidupku aku akan mengabdikan diri menjadi dokter sukarelawan," jelas Prof Edward panjang lebar. Matanya menatap satu sudut dengan tatapan mata kosong keputusasaan namun Ia masih berharap semua keinginannya itu terkabul. Masih kental dalam ingatannya saat itu saat dimana tangannya yang dikatakan orang-orang sebagai tangan Tuhan tidak mampu melakukan apapun.
Jgeerr
Seperti mendengar petir di siang hari bolong ucapan Profesor Edward seketika membuat Elsa terhenyak. Jadi selama ini hidupnya diperoleh berkat Prof Edward. Sampai sekarang pun Ia tidak mengetahui jika Elsa sebenarnya masih hidup namun berada di tubuh orang lain.
"Prof aku ... aku Elsa aku masih hidup." Elsa mencengkram bahu Prof Edward dengan mata berkaca-kaca. Ya seharusnya sejak awal Ia memberitahu senior yang sudah dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri.
"Apa yang baru saja kamu katakan, apa kau serius?"
"Ya aku Elsa. Ceritanya panjang lebar dan mungkin anda tidak akan percaya Prof tapi aku bisa yakinkan jika aku adalah Elsa," imbuh Elsa penuh keyakinan.
__ADS_1
Profesor Edward mengangguk sembari tersenyum karena tanpa Elsa ceritakan pun Ia sudah curiga sejak awal tentang Elisa.
Sore hari sepulang dari rumah sakit Profesor Edward mengajak Elsa untuk makan malam di rumahnya. Setiap tahun Ia selalu merayakan ulang tahun Elsa. Ini tahun ketiga merayakan tanpa Elsa. Namun hari ini menjadi momen spesial karena kenyataannya Elsa masih hidup.
"Ayo masuk istriku pasti akan sangat senang bertemu denganmu Elsa." Profesor Edward mempersilahkan masuk dan duduk. Sementara itu Ia meninggalkan Elsa untuk berganti pakaian.
Tiba-tiba suara ribut dari arah dalam membuat Elsa merasa tidak nyaman. Ia pun bangkit dan mendekat. Ternyata suara itu berasal dari dapur.
"Mau sampai kapan kau merayakan pesta yang tidak jelas ini dan kau tahu sendiri Elsa itu sudah mati!" desis seorang wanita penuh emosi.
"Kau bisa pelan kan suaramu diluar ada Elsa." Profesor Edward berusaha membuat istrinya tenang namun bukannya tenang emosi istrinya semakin menjadi-jadi. Bagaimana bisa suaminya itu mengatakan ada Elsa sedang Elsa sudah meninggal.
"Kau gila hanya demi gadis tidak tahu diri itu!" cerca istri Prof Edward.
Elsa yang merasa menjadi penyebab keributan suami istri itu memilih segera meninggalkan tempat itu. Bukan Ia kecewa dengan sikap istri Profesor Edward yang ternyata tidak menyukainya hanya saja Ia tidak ingin menambah keributan keluarga Profesor Edward dengan kehadirannya.
Sembari mengayunkan langkah menyusuri jalanan malam itu Elsa membuat satu pesan melalui . ponselnya untuk profesor Edward. Pesan singkat itu berisi alasannya yang tiba-tiba meninggalkan kediaman itu tanpa pamit.
Sesampainya di rumah Elsa duduk termenung. Satu persatu puzzle tentang hidupnya mulai sedikit terkuak mesti belum sepenuhnya jelas juga tentang siapa Elisa yang belum ada titik terang.
"Elisa apa kau tidak bisa memberitahuku lewat mimpi siapa dirimu?" ucap Elsa lirih sembari menatap langit-langit kamarnya.
...............................
"Aku dimana?" Elsa menatap sekeliling tempat yang lebih tepatnya seperti taman yang ditumbuhi bermacam-macam jenis bunga. Dari setiap bunga itu muncul bunga-bunga berwarna-warni yang keindahannya begitu memanjakan mata. Kupu-kupu berterbangan dengan eloknya hinggap di setiap tangkai bunganya itu.
Tidak jauh dari taman itu terdapat air terjun yang airnya berwarna emas. Ya lebih tepatnya air terjun emas. Sungguh seperti sebuah lukisan surga yang amat teramat indah sampai tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
__ADS_1
"Apakah ini surga?" Elsa memekarkan senyumnya menatap keindahan yang belum pernah Ia lihat sebelumnya.