
"Sayang apa ada yang terluka, dimana yang sakit?" Elardo memeriksa tubuh Elsa dari ujung kepala sampai kaki. Ia begitu khawatir Elsa mengalami luka yang jelas akan membuatnya merasa sangat bersalah. Jika saja tadi Ia tidak mendengar Elsa dan terus mengantar istrinya itu sampai gerbang universitas mungkin hal ini tidak akan terjadi.
"Aku baik-baik saja." Elsa menghentikan Elardo yang terus memeriksa karena ya memang tidak terjadi apapun padanya. Itu semua berkat sistem yang selalu membuatnya terselamatkan.
"Nona Elisa apa kau terluka, aku benar-benar minta maaf." Seorang pria yang baru saja datang tiba-tiba menyerobot Elsa dari tangan Elardo. Ia juga melakukan hal yang sama memeriksa apakah ada luka di bagian tubuh Elsa. Apa yang dilakukan pria itu seketika membuat Elardo geram, bagaimana mungkin pria lain bisa menyentuh wanitanya bahkan tanpa seizinnya.
"Anda tidak perlu mencemaskan orang lain lebih baik kau urus istrimu yang sudah berbuat semuanya!" geram Elardo menepis tangan pria yang tidak lain Reinaldo menjauh dari wanitanya.
Reinaldo tidak terima karena seperti halnya dirinya Elardo pun tidak berhak. "Apa hakmu!" Reinaldo yang kesal menarik lengan Elardo. Keduanya bertatapan sengit siap beradu jotos.
"Apa yang kedua pria ini lakukan," gumam Elsa. Ia kesal dengan tingkah kekanak-kanakan kedua pria itu yang seharusnya bisa bersikap dewasa bukan malah sebaliknya. Ia pun akhirnya mengayunkan langkahnya meninggalkan keduanya.
Melihat hal itu baik Elardo maupun Reinaldo keduanya sama-sama mengejar Elsa.
"Sayang, Nona Elisa," teriak keduanya serempak.
__ADS_1
Elardo lebih dulu mencekal lengan Elsa. "Kita pergi," ucapnya.
"Nona Elisa tunggu! Ada hal yang ingin aku sampaikan." Reinaldo menghadang langkah Elisa. Ia menatap penuh harap, berharap wanita di depannya ini memberi kesempatan.
Banyak hal yang ingin diperjelas Elsa hingga tidak hanya Reinaldo, Ia pun sebenarnya ingin berbicara serius dengan pria itu.
"Baiklah."
"Sayang, kau...." Elardo merasa keberatan namun ketika melihat mata sang istrinya yang menatapnya penuh harap membuatnya tidak bisa meneruskan keberatannya.
"Baiklah, aku akan menjemputmu setengah jam lagi," ucap Elardo melepas cekalan tangannya. Walaupun Ia sebenarnya sangat tidak setuju namun Ia berusaha menjadi pria yang pengertian hingga tidak membatasi apapun yang dilakukan istrinya asalkan masih sesuai batasan.
.
.
__ADS_1
"Silahkan diminum." Reinaldo mempersembahkan setelah minuman yang dipesannya tersaji di meja itu.
Tidak ingin basa-basi Elsa yang tampak sudah tidak sabar langsung ke pokok permasalahan.
"Aku kesini bukan untuk minum jadi sebaiknya kita selesaikan yang terjadi antara kau dan Elsa," ucap Elsa dengan ekspresi datar. Terlihat raut kemarahan mulai menjalar di matanya.
"Ya aku tahu karena aku kesini juga untuk itu tapi izinkan aku meminta maaf atas nama Anna. Ya walaupun begitu dia masih sah istriku," ucap Reinaldo sembari menundukkan kepalanya sebagai tanda permintaan maafnya.
"Tidak perlu! Jika Ia istrimu lalu kenapa kau masih disini, seharusnya kau mengurusnya di penjara dan berusaha mengeluarkannya," ucap Elsa dengan sinis.
Ucapan Elsa seketika membuat Reinaldo tertegun. Ucapan wanita di depannya yang bernada marah itu mengingatkannya pada Elsa.
"Kau mengingatkanku pada mendiang Elsa. Kau kakaknya tapi sifat kalian benar-benar mirip. Aku sudah menduga sejak awal bertemu, kau mengingatkan aku pada Elsa hingga setiap melihatmu aku merasa bersalah," ungkap Reinaldo dengan mata berkaca-kaca.
"Apa yang sebenarnya terjadi, apa mungkin Reinaldo menyesali semua yang terjadi lalu kenapa dia tidak. Ahh apa yang aku pikirkan, pria bejat ini hanya ingin bersembunyi di wajah polosnya. Aku tidak boleh lupa dengan semua perlakuannya dulu," gumam Elsa. Hampir saja Ia tertipu dengan wajah polos di depannya itu dan percaya dengan mudah.
__ADS_1
"Kau jangan berpura-pura lagi kenapa kau mengkhianati Elsa, kenapa kau menghancurkan hatinya dan sekarang bahkan Ia sudah tidak berada di dunia ini. Kau benar-benar egois!" Elsa yang sudah tidak bisa menahan amarahnya bangkit dari duduknya. Ia mencengkram kerah kemeja pria itu meluapkan emosinya. Buliran-buliran bening mengalir deras dari pelupuk matanya.
"Aku...maafkan aku." Reinaldo yang tidak kuasa dengan semua tuduhan wanita di depannya itu yang benar adanya merosot ke lantai. Ia bersujud di kaki Elsa. "Maafkan aku," ucapnya lagi dengan ketidakberdayaannya.