
Melihat Elsa yang sejak tadi tidak bisa tenang, Elardo akhirnya memiliki ide untuk membawanya pulang kediaman Cashel.
"Apa ini tidak berlebihan?" Elsa merasa tidak enak karena kedatangannya membuat Kiara harus menemaninya dan lebih parah lagi pria itu memulangkan Mentor Kiara.
"Ibu ini bagus sekali jarang-jarang aku bisa bolos seperti ini." Kiara berdecak senang. Responnya justru berbanding terbalik dengan Ibunya.
Sementara kesenangan Kiara itu ditatap tajam oleh ayahnya membuat Kiara menundukkan kepala.
"Baiklah Ayah hanya sekali ini kan selanjutnya Kia akan lebih fokus belajar.
Elsa sendiri masih belum sepenuhnya tenang karena di detik selanjutnya Ia kembali memeriksa ponselnya. Dan seperti yang lalu tidak ada panggilan telepon yang menandakan upaya pria tua itu belum membuahkan hasil.
"Ibu sebenarnya ada apa?" Kiara yang memahami keadaan yang tidak baik-baik saja mempertanyakan.
Akhirnya Elsa menceritakan semua yang terjadi secara singkat.
Setelah mendengar cerita dari ibunya, Kiara malah beranjak dari duduk lalu beberapa menit kemudian keluar dengan membawa laptop ditangannya. Jari jemarinya yang kecil namun begitu lihai menjalankan perangkat modern itu.
"Apa yang kamu lakukan Kia?"
__ADS_1
Bukan jawaban dari mulut yang keluar dari Kiara melainkan mengangkat tangannya sebagai tanda untuk diam agar Ia bisa fokus. Sementara Elardo, pria itu tahu betul apa yang sedang dilakukan putrinya. "Cerdas," ucapnya dengan bangga.
Setelah menggunakan keahliannya untuk membajak beberapa cctv di jalanan yang dilalui mobil itu. Ketiganya fokus pada sebuah mobil yang menuju sebuah bukit.
"Mobil itu membawa mommy," decak Elsa.
"Kau yakin?"
Elsa mengangguk. Saat itu air matanya sudah menitik. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu yang buruk pada wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Tenang sayang, aku pastikan akan menyelamatkan mommy apapun yang terjadi." Elardo meyakinkan sembari mengusap wajah Elsa dengan lembut kemudian memeluknya.
Elsa menggeleng. "Tidak sayang, kau sudah membantu cukup banyak. Tunggu disini Ayah dan Ibu akan membawa nenek pulang, ok?"
"Tapi Bu."
Elsa mengusap bahu Kiara meyakinkan lalu beranjak pergi diikuti Elardo yang mengekor dibelakang.
*****
__ADS_1
Elsa menatap sekeliling tempat itu dengan tatapan sedih. Seketika Ia teringat kejadian 6 bulan silam. Kejadian yang membuat nyawanya terenggut, ya tempat itu tepat dimana mobilnya terjun bebas ke dasar jurang.
"Sepertinya mereka tidak disini atau mungkin mereka sudah pergi." Elardo yang melihat tempat itu dari dalam mobil tidak melihat seorang pun menyimpulkan demikian. Tidak mendapat respon pria itu menatap wanita disampingnya. Terlihat jelas raut kesedihan tergambar di wajah cantik itu.
"Kau baik-baik saja," ucapannya sembari menggenggam tangan Elsa. Disamping itu itulah caranya memberi kekuatan bahwa Ia akan selalu menjadi dinding kokoh tempat yang nyaman untuk bersandar.
Telapak tangan Elsa pun terasa begitu dingin seakan saat itu Ia benar-benar dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Elardo langsung mendekap tubuh itu masuk ke dalam pelukannya. "Tidak sayang semua sudah berlalu. Jangan takut, aku disini."
Ekor mata Elsa masih melirik ke area itu. Ia kemudian mengurai dekapan prianya. "Aku ingin pulang." Suara Elsa yang begitu lemah bahkan bibirnya yang merah alami terlihat bergetar dengan permintaan.
Elardo mengangguk. Tanpa berlama-lama, Ia langsung tancap gas.
Sesampainya di rumah Elsa lebih memilih langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Tuan, apa yang sudah terjadi? Kenapa wajah Nyonya?" Kepala pelayan Leo yang melihat gelagat aneh Elsa mempertanyakan. Ya Elardo memang membawa Elsa pulang ke kediaman Cashel karena jika pulang ke apartemen tidak akan ada yang menjaganya.
"Paman tolong jaga istriku, aku harus membereskan masalah tapi untuk saat ini biarkan dia sendirian," ucap Elardo sembari terus mengawasi Elsa yang sudah hilang dari pandangannya.
"Baik Tuan."
__ADS_1