Sahabat Rasa Rindu

Sahabat Rasa Rindu
Episode 37


__ADS_3

Saat menuruni tangga, Aldi melihat keluarganya yang sudah berada di ruang makan. Ia melihat Papa dengan lirih, karena ingat kejadian semalam, karena dengan hitungan hari, Papa sudah tidak bisa bersama lagi dengan keluarganya.


Aldi duduk, lalu diam membisu dengan keheningan dikepalanya. Entah apa yang ia fikirkan, hanya dia dan Tuhan lah yang tahu.


Seketika keheningan itu dibuyarkan oleh Papa yang memanggil Riki, karena ia sudah berada di depan pintu utama.


" Riki, ayo masuk, kita makan bersama Nak".


" Baik Tuan Besar, terima kasih".


Riki pun menghampiri meja makan, sebenarnya ia tak enak jika harus bergabung, tetapi jika Tuan besar sudah memanggil, berarti itu sudah tidak bisa dibantah, karena ia ingat dengan kata-kata Ayah nya semalam.


" Rik, tumben lo pagi-pagi gini udah ke rumah gue?".


" Maaf Tuan, tapi mulai sekarang saya akan berangkat sekolah bersama dengan anda setiap hari".


" Hemm, apa harus sampai segini nya Pa?".


Tanya Aldi pada Papa nya, karena menurut nya peraturan ini sudah sangat ketat sekarang. Ia tahu bagaimana Riki, ia adalah orang yang teguh dengan prinsip nya, jadi jika ia sudah mendapat perintah, pasti akan ia laksanakan bagaimanapun caranya.


Jika yang kalian tahu, Riki adalah sosok pria yang ceria, itu salah besar. Karena ia mampu melakukan hal apapun agar semua perkataan yang telah ia ucapkan dapat terlaksana, termasuk kali ini sumpah yang tak bisa dia ingkari pada Papa Aldi.


Riki jauh lebih dingin dari Aldi, ia hanya akan bicara pada orang-orang yang dianggapnya bisa dipercaya, contoh nya seperti Alda, orang yang telah dipercaya oleh Aldi.


Karena ia telah belajar dari Ayahnya, untuk menjadi seorang panglima ia harus jauh lebih kuat, supaya tidak gampang dikelabui oleh orang lain. Termasuk melindungi Tuan nya mulai dari sekarang.


" Ia nak, karena Papa mempercayakan mu pada Riki".


" Tapi kenapa? Memang Riki harus selalu ada disamping Aldi terus gitu?".


" Bukannya memang tugas Riki seperti itu?".


Tanya nya sambil melihat ke arah Riki.

__ADS_1


" Riki memang selalu ada disamping Aldi, tapi jika Aldi minta Riki, untuk tidak di samping Aldi terus bisa Pa?".


" Itu tergantung kamu memberi perintah pada Riki". Sambil mengunyah.


" Maaf Tuan itu tergantung anda, semua perintah, ada di tangan anda, saya hanya menuruti perintah yang Anda berikan pada saya, tetapi jika anda meminta saya untuk tidak terlalu dekat, saya akan mengawasi anda dari jarak aga jauh".


Nah kan Riki menjawab juga, karena apapun urusan Tuan nya, mau sekarang ataupun nanti, itu sudah menjadi urusannya, walaupun ia harus mengawasinya dari kejauhan sekalipun.


" Oke, tapi kalo nanti gue bareng sama Alda, lo jangan sampai ngikut".


" Baik Tuan Muda, tapi saya akan tetap mengawasi anda dari kejauhan".


" Terserah lu lah Rik". Nadanya sudah mulai kesal.


**


Di sekolah mungkin bisa dikatakan hari yang sangat ceria untuk sebagian orang, karena bisa bercengkrama dengan teman-teman sebayanya, senang karena bisa tertawa ria dengan banyak orang.


Jam makan siang di kantin, Aldi menghabiskan waktunya hanya untuk melamun. Riki yang berada disampingnya diam tak bergumam. Karena ia tahu Tuan nya sedang memikirkan banyak hal.


Seseorang yang melihat nya dari kejauhan merasa bingung, karena ia tahu Aldi memanglah tak bisa di tebak. Tetapi menurut nya ini aneh, karena tak biasanya seorang Aldi terlihat sangat gundah gulita hatinya, terlihat dari raut wajah nya, ia sedang memiliki beban yang cukup berat.


Alda yang sedang bersama teman-teman nya seketika datang untuk menghampiri Aldi, ia penasaran ada apa dengan sahabat nya. Ia duduk berhadapan dengan Aldi di meja makan, sambil membawa nampan yang berisi makanan. Tetapi Aldi tak sadar jika Alda sudah berada dihadapannya.


" Aldi, kamu kenapa?".


Seketika lamunannya tersadar, saat mendengar seseorang berbicara padanya.


" Alda, dari kapan lo disini?".


" Baru tadi, tapi kamu ga sadar, hiks, ada apa di, kamu lagi ada masalah kah?".


Sambil menatap kepada Riki yang berada di samping Aldi, tetapi yang di tatap tak memberikan jawaban.

__ADS_1


" Ada apa?". Tanya nya kembali.


" Gue ga apa-apa Al".


" Jangan bohong, kalo memang kamu ga mau cerita sekarang, aku gajadi masalah kok. Tenangin aja diri kamu Di".


Aldi menatap gadis yang berada didepannya dengan hangat. Lalu memberikan kode pada Riki agar ia beranjak dari tempat nya duduk. Riki pun beranjak dari tempatnya lalu mengawasi Aldi dari jarak yang tidak terlalu jauh.


" Kemari Al". Sambil menepuk kursi disampingnya.


Alda pun beranjak dari tampat nya duduk, menuju tempat yang Riki duduki barusan.


" Ada apa Di?".


" Papa minggu depan pergi Al".


" Kemana, ko kamu sedih gitu sih Di?".


" Gimana gue ga sedih, Papa pergi selama dua tahun untuk berjuang disana".


Aldi pun menceritakan yang Papa bicarakan padanya semalam, ia menceritakannya dengan lirih, dengan hati yang berkecamuk. Ikhlas atau tidaknya, tetapi ia harus kuat sekuat baja, hati nya harus bisa menerima walupun memang terluka dengan kenyataan yang harus ia hadapi. Jujur saja ia tak mau menangis di hadapan gadis yang kini berada di hadapannya. Karena ia tak mau terlihat lemah.


Alda pun merasakan apa yang dirasakan Aldi saat ini, hatinya pasti sakit jika Papa nya pergi jauh. Ia paham ketakutan Aldi, karena disana Papa nya mempertaruhkan hidup dan mati. Tetapi ia berusaha memberikan semangat pada Aldi agar ia merasa lebih kuat dan tegar.


" Aldi, aku paham, hati kamu pasti sangat hancur sekarang, karena orang yang paling berjasa dalam kehidupan mu, harus pergi untuk berpisah lama. Tapi kamu harus kuat Di, kamu harus mendoakan Papa mu agar ia selalu sehat disana, dan bisa kembali kesini dengan selamat. Dan aku percaya kantor Papa mu akan baik-baik saja selama ditangan kamu Di, karena Papa mu beruntung sudah memiliki anak seperti kamu". Ucap Alda memberi kekuatan "sekarang sebelum kepergian Papa mu, kamu harus tunjukan bakti mu kepada Papa, tunjukan bahwa kamu adalah orang yang kuat, yang bisa membanggakan Papa dan Mama mu".


" Terima kasih Al, lo memang selalu kasih gue kekuatan, lo bener sebelum kepergian Papa nanti, gue harus bikin Papa bangga sama gue. Sekali lagi makasih Al udah suport gue". Ucap Aldi sambil menggenggam lengan Alda.


" Iya Di, aku seneng jika kamu kuat. Karena kebahagiaan kamu itu segalanya untuk aku".


Terima kasih Tuhan, karena telah menciptakan seorang sahabat seperti Alda, yang bisa memberi ku kekuatan untuk menjalani hidup. Aldi.


-Selesai😊

__ADS_1


__ADS_2