Sahabat Rasa Rindu

Sahabat Rasa Rindu
Episode 43


__ADS_3

Mentari pagi telah menampakan sinarnya, burung-burung berkicaw dengan suara nya yang indah, ditambah angin pagi yang berhembus segar. Kini kegiatan siswa masih tetap berlanjut.


Sarapan pagi ini, seluruh siswa memasak makanan dengan kelompoknya masing-masing. Dikarenakan seluruh siswa harus bisa bersosialisai dengan anggotanya sendiri.


Di dalam kelompok Aldi, anggota wanita memasak makanan dengan sangat heboh, mungkin itu adalah cara agar Aldi dapat memperhatikan, atau mungkin agar Aldi mau membantunya, karena kali ini ia hanya memotong wortel, tanpa berbicara sepatah katapun. Yah itu lah Aldi, orang yang dingin dan sangat jarang berbicara, bukan berarti ia pemalu tetapi ia sangat tak peduli dengan apapun yang dilakukan orang lain.


" Aldi ini makanan nya udah jadi".


Ucap sista, yah siapa lagi kan yang berani memanggil Aldi, dengan tak tau malunya. Padahal Aldi masih ingat jelas perbutan sista yang membuat dirinya marah, jika siswa lain mungkin sudah lari dan tak mau lagi bertemu Aldi.


" Hemm".


" Di biar aku suapi ya, kamu kan lagi motong wortel, jadi aga sulit juga kan untuk kamu makan".


" Gausah so peduli". Ucapnya. " Mending Lo aja yang makan, gue gabisa makan makanan lo". Senyum sinis dibibirnya.


" Tapi, aku kan udah masak".


" Hemm, lo liat di wajan makananya aja udah abis".


" Ah iya, tapi kan aku udah bawain makanan buat kamu, aku ga apa-apa ga makan, yang penting kamu makan ya?".


Aldi tak menjawab, karena malas meladeni gadis dihadapannya. Jujur saja ia memang lapar, tetapi ia tak mau memakan makanan yang dibuat sembarang orang, dan ia juga masih memiliki hati yang baik kok, karena makanan yang diwajan habis ia menyuruh sista untuk memakan makanan yang dibawakan sista untuknya. Karena ia juga tak tega jika melihat wanita kelaparan.


" Aldi kamu sama Riki kan belum makan, sementara bahan-bahan udah abis, ayolah makan aja dengan ku".


" Huft". Mendengus kesal.


" Aldi ayolah, aku mohon".


Aldi tidak meladeninya hingga membuat sista lelah sendiri, karena memang percuma ia membujuk Aldi, toh jika dia sudah bilang tidak, berarti sudah keputusan mutlak.


Sementara Alda yang berada tidak jauh dari kelompok Aldi memasak, ia terus memperhatikan seorang pria yang tak mau makan makanan yang dibuat oleh sembarang orang itu. Alda juga sudah membuat masakan cukup banyak untuk kelompoknya, ia sengaja membuat lebih, karena ia akan menghampiri Aldi setelah memasak.


Makanan pun akhirnya telah selesai, ia menghampiri Aldi dengan membawa dua piring nasi, ia berharap semoga Aldi mau memakannya. Karena makanan yang diberikan Sista saja ia tak mau memakannya.

__ADS_1


" Aldi?".


" Alda, kenapa lo kesini?".


" Kenapa kamu ga makan? Acara masih panjang Di, jangan nyiksa diri kamu sendiri dengan ga makan".


" Hemm, lo tau sendiri kan kalo".


Kata-katanya belum selesai, Alda sudah memotongnya.


" Iya iya aku tau, kamu gasuka kan makan masakan orang lain, tapi se engga nya kamu makan ya, makanan yang aku buat.


" Hemm, lo sendiri juga belum makan kan?".


" Iya aku belum makan, ini aku bawa dua ko". Ia melihat Riki disamping Aldi, ia baru ingat jika Riki pun belum makan bukan. " Eh iya, Riki juga belum makan kan?".


" Hemm".


" Riki". Panggil Alda. " Kamu juga belum makan kan? Ini aku bawain juga buat kamu sama Aldi".


" Iya Rik, sama-sama".


" Tapi kan lo juga belum makan Al?". Tanya Aldi.


" Ga apa-apa ko, aku bisa ambil lagi disana".


" Hemm, gimana kalo kita makan satu piring berdua aja Al?".


" Hemm, memang kamu mau kalo satu piring berdua dengan ku Di?".


" Gue nawarin lo Al".


" Tapi". Kata-katanya belum selesai, tetapi Aldi sudah menyuapi Alda terlebih dulu. " Ihh Aldi ko suapin aku sih, aku kan bisa makan sendiri". Sambil memanyunkan bibir nya kesal.


" Hahaha ga apa-apa Al, lo mah banyak mikir".

__ADS_1


" Yaudah, sekarang giliran aku yang nyuapin kamu ya? Kamu harus cobain masakan aku dan kelompok aku".


" Hemm, asalkan masakan lo, gue mah ga apa-apa".


Mereka makan satu piring berdua, serasa dunia hanya milik mereka berdua, padahal banyak orang yang melihat sampai-sampai mereka menggenggam tangannya sendiri karena geram.


Sista menatap tidak suka pada Alda, seperti mengatakan gue lebih cantik dari dia, tapi kenapa Aldi malah mau deket sama cewe kegatelan kaya dia sih, gue udah ngelakuin apapun untuk dia, tapi kenapa yang dapet orang gatau malu itu sih. Sista.


Selain Sista ada juga orang yang menatap tak suka pada Aldi, ia mengatakan dalam hatinya.


Gue yang lebih dulu kenal Alda, tapi kenapa lo yang bisa bikin Alda semakin perhatian sama lo, emang apa sih lebihnya lo, ya emang sih lo disukai banyak wanita, lo anak dari orang terhormat, lo lumayan tampan, tapi ga sampai Alda juga dong yang lu ambil, eh sebentar-senbentar kenapa gue jadi ngasih pujian ke orang itu sih, ahh kacaw banget gue. Dalvin.


Ya sebenarnya Dalvin memang sudah menyukai Alda sejak lama, ia juga pernah mengatakan perasaannya pada Alda, tetapi Alda menolaknya, dengan alasan lebih fokus pada pelajaran dan ekskul, dan ia tak mau membuat persahabatannya dengan Dalvin semakin canggung nantinya.


Epilog :


Saat itu adalah saat dimana Alda belum terlalu dekat dengan Aldi, ia masih selalu pergi bersama Dalvin jika disekolah.


Hari itu Dalvin mengatakan perasaannya pada Alda, hingga membuat nya tak percaya, dengan yang diucap kan dalvin.


" Al, aku mau bilang sesuatu sama kamu".


" Ada apa Vin?".


" Hemm, maaf Al sebenernya aku suka sama kamu, udah lama aku suka sama kamu, tapi aku takut nyatain perasaan ku sama kamu, aku takut sampai kamu benci sama aku". Ujarnya, ia mengatakan dengan hati yang berdegup kencang, menunggu jawaban Alda".


" Tapi Vin, aku lebih nyaman kita sebagai sahabat, maaf Vin kalo aku nyakitin hati mu, tapi jujur saat ini aku masih fokus untuk pelajaran ku, dan ekskul yang lagi kita jalani sekarang, bukannya kita harus sama-sama ngembangin nya kan Vin? Toh kita bakal selalu bareng juga kan, karena ketua dan wakil itu harus bersatu, dan ini yang aku takutin kalo nanti kita akan ada rasa canggung". Ucapnya sambil merasa bersalah.


" Iya aku paham ko, makasih ya Al. Mungkin dengan berjalannya waktu aku bisa ambil hati mu Al, tanpa buat kamu ngerasa canggung sedikit pun".


Alda tak menjawab, justru ia mengalihkan topik lain membahas mengenai ekskul, agar Dalvin tak membahas lagi mengenai perasaannya, dan juga hari itu adalah hari patah hati untuk Dalvin.


Setelah mengingat masa lalunya, Dalvin kembali menatap Alda yang sedang bahagia dengan pria lain. Ia tersenyum seperti mengatakan aku bahagia jika kamu bahagia, tetapi jika dia sakitin kamu, aku yang akan maju paling depan untuk lindungin kamu.


Begitulah mereka, yang mengalami kisah percintaan yang sangat rumit. Tetapi memang hati tak bisa dibihongi, karena hati adalah sumber segalanya. Kita juga dapat belajar dari Dalvin, untuk merelakan dan meng ikhlaskan seseorang yang kita sayang, demi bahagia bersama orang lain, yang memang pemilik hati dari raga yang kita cintai.

__ADS_1


-Selesai😊


__ADS_2