Sahabat Rasa Rindu

Sahabat Rasa Rindu
Episode 52


__ADS_3

Setelah Acara selesai, akhirnya keluarga besar Tuan Ardiantara pulang ke rumah, sebab Mama ingin lebih lama bersama Papa, karena mulai besok Papa sudah tak ada lagi disampingnya.


Sementara Aldi, ia pergi entah kemana. Sebab ia mengendarai mobil sendiri dan tak mau Riki menemaninya, Papa juga memintanya untuk pulang bersama, tetapi Aldi menolak tanpa alasan. Hingga membuat semua orang semakin kuatir.


Mungkin seperti biasa ia ingin menenangkan fikirannya, dan tempat yang membuat nya tenang adalah Danau yang berada dekat sekolah, sungguh suasana disana sangat damai, itu membuat orang-orang yang berkunjung pasti akan merasa tenang kembali.


Dalam perjalan, Aldi terus memukuli stir yang berada tepat di hadapannya, ia merasa dunia tak adil padanya, sebab ia belum bisa menerima keadaan seperti sekarang.


Setelah cukup lama dalam perjalanan, akhirnya ia sampai ditempat tujuan. Suasana di danau begitu hening, hanya ada suara air yang mengalir, rerumputan yang ditiup angin, dan sebagainya.


Ia duduk tepat ditempat favoritnya, ia menatap rembulan yang bercahaya begitu nampak, bintang yang berkelip dan awan yang begitu indah. Mungkin saat ini ia sedang menghadapi beban yang cukup besar. Tetapi mau tak mau ini tak boleh dijadikan beban terus menerus, sebab ia juga sudah tahu, jika ini memang sudah tanggung jawabnya.


Ia berteriak sekeras nya, mengeluarkan apa yang ada dalam hatinya.


" Pa! Kalo Aldi boleh jujur, Aldi ga mau Papa pergi!".


"Aldi pengen Papa masih disini, waktu dua tahun itu sangat lama Pa".


"Sikap Aldi juga belum cukup dewasa sekarang, belum seperti apa yang Papa bayangkan, Aldi masih membutuhkan bimbingan Papa disini".


"Aldi mohon jangan pergi Pa, sungguh Pa ini sangat berat untuk Aldi, Aldi harus menanggung semua nya saat Papa pergi".


"Sementara Papa tahu kan Aldi masih sekolah sekarang!!".


Seorang wanita asing yang tidak ia kenali datang menghampiri, lalu menepuk pundak Aldi dengan so akrab, ia juga mendengar semua teriakan Aldi sedari tadi, lalu duduk disamping Aldi, dengan senyuman hangat.


Aldi justru sedikit menggeserkan posisi duduk nya, sebab tak mau terlalu dekat dengan wanita yang berada tepat disamping nya.


" Lo siapa?". Tanyanya dingin.


" Oh hei, kenalin aku Marisa". Sambil mengulurkan lengannya diudara.


Aldi tak membalas uluran lengan wanita di sebelahnya, sebab ia tak peduli.


" Oh iya kalo kamu ingin cerita, kamu bisa loh cerita dengan ku. Cape tau kalo dipendam sendirian".


" Ga perlu". Balas nya dingin.


" Papa mu itu Tuan Ardiantara kan, Papa ku juga kenal dekat dengan Papa mu. Oh ia bisakah mulai sekarang kita berteman?".


Aldi mengernyitkan kening nya, bingung dengan wanita yang berada disebelah nya. Padahal ia sudah mendiamkannya, tetapi terus saja orang ini tak bisa diam.


" Bagaimana?".


" Gue gapeduli sama apa yang lo bilang". Jawab nya masih menatap langit.

__ADS_1


" Ayo kita mulai mendekatkan diri sekarang".


Aldi tak menjawab, tetapi wajah wanita itu sudah berada tepat di depan wajah nya, wanita itu sangat tergiur dengan wajah Aldi yang tampan, sehingga ia tak mampu menahan nafsunya, ia terus mendekatkan wajah nya sampai menempel dengan wajah Aldi.


" Ayo kita melakukannya sekarang". Bisik wanita itu sambil menempelkan bibir nya ditelinga Aldi.


Aldi diam karena ia sedang masuk dalam lamunannya sambil menatap sang rembulan dilangit, hingga ia tak menyadari bahwa wanita itu akan melancarkan aksinya.


Wanita itu sudah akan melalukannya, tetapi dua orang datang dari arah belakang, lalu seseorang menyeret wanita itu dengan kasar, bahkan sempat akan menamparnya, tetapi tidak jadi karena ia tak ingin jika wanita disebelahnya melihatnya.


Sebab ia teringat dengan perkataan Aldi yang mengatakan, jangan melakukan kekerasan dihadapan Alda, sebab ia tak menyukai itu.


" Beraninya kau, menyentuh tubuh Tuan Aldi".


" Ma, maafkan saya Tuan".


Sebab ia mengenali Riki sebagai salah satu orang yang paling menakutkan, dan memiliki hati yang dingin sekeras es di Kutub, ia juga mengenalnya, karena ia selalu berada disamping Tuannya, dan akan menjadi menakutkan jika seseorang membuat masalah padanya terutama pada Tuannya.


" Tapi ini tidak bisa dimaafkan, mari ikut saya Nona".


" Ti, tidak Tuan, saya mohon ampuni saya Tuan".


Riki menarik lengan gadis itu, entah apa yang mau dilakukan Riki, tetapi terserah lah itu sudah menjadi urusannya.


Sementara itu, Alda yang baru datang hanya diam tak berbicara, ia menatap Aldi sekilas, lalu membalikan badannya untuk pergi. Entah lah ia merasa jijik dengan melihat kejadian barusan, ya walaupun memang itu tidak sempat terjadi. Tetapi entah mengapa hatinya merasa tercabik-cabik kali ini.


" Jangan pergi Al, aku mohon".


" Lepasin Di, lepas!". Sambil memaksa untuk melepaskan lengan Aldi yang memeluknya.


" Al, aku bisa jelasin semuanya".


" Ga perlu Di, aku mau pulang, lepasin!".


" Engga aku gaakan lepasin kamu Al".


" Terserah tapi aku mau pulang sekarang". Ia tak bisa menahan badan Aldi yang kuat, tetapi rasanya ia juga tak ingin pergi, hanya saja terlalu sakit untuk nya melihat kejadian barusan.


" Al, aku gabisa lepasin kamu sampai kamu mau denger penjelasan aku". Sambil memeluk nya lebih erat, dan menyimpan dagu nya dibahu Alda.


Alda tak menjawab ia hanya diam, ia merasa pelukan Aldi kali ini membuatnya sangat nyaman, tetapi tetap saja ia terus memberontak untuk melepaskan pelukan Aldi, tetapi hasilnya nihil, ia tak bisa melepaskannya.


Jika semua nya sudah tenang, Aldi pun langsung menjelaskan hal yang barusan terjadi.


" Aku gatau siapa dia, dan aku gapeduli". Ucapnya lalu menghembuskan nafasnya, hembusan nafas Aldi begitu terasa hangat pada leher Alda. "Entahlah aku juga sempat terkejut saat wanitu itu sudah menempel dengan wajah ku tadi, untung saja kalian datang".

__ADS_1


" Tapi kamu jahat banget Di, kenapa kamu gabisa jaga perasaan ku". Ucap nya tak sadar, lalu Aldi membalikan tubuh Alda agar berhadapan dengan nya, sambil masih memberikan pelukan pada Alda.


" Maksud kamu?". Senyuman licik nya mulai keluar.


" E, eum engga ko".


Aldi menempelkan dahinya dengan dahi gadis didepannya, otomatis hidungnya juga ikut bersentuhan, dengan keadaan masih memeluk gadis dihadapannya.


Aldi kenapa sih, dia mau ngelakuin apa, apa kita mau berciuman kaya di novel novel?. Alda.


" Aku sayang sama kamu Al". Sambil mendekatkan bibir nya ke bibir Alda.


Tetapi suara dari arah tidak terlalu jauh datang menghampiri, itu membuatnya tak jadi melakukannya.


Arghh gila, apa yang gue lakuin barusan. Aldi.


" Tuan, semuanya sudah saya bereskan. Apakah anda mau pulang sekarang?".


" Iya kita pulang sekarang". Aldi melihat Alda yang masih tersipu, muka nya merah padam karena malu. " Al, aku minta maaf ya". Alda hanya tersenyum tak menjawab, ia masih tersipu malu.


Akhirnya mereka pun pulang, Aldi mengantar Alda terlebih dulu, dengan disupiri oleh Riki sang pengawal yang setia. Mereka pun sampai di depan rumah Alda, tetapi Aldi menarik lengan Alda, ia mengatakan soal Papa nya yang akan pergi esok, karena tadi sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam satu sama lain.


" Al mulai besok Papa akan pergi, apa kamu mau ikut ke bandara?".


" Bukannya Papa mu seharusnya pergi 4 hari lagi kan?".


" Ia, tapi keberangkatan Papa dipercepat".


" Sabar ya Di, kamu harus kuat". Sambil mengusap pipi kanan Aldi.


" Makasih Al, pasti ko".


" Oke besok aku bisa temenin kamu, jam berapa Di?".


" Besok Papa pergi jam 7 malam Al".


" Oke nanti aku ikut temenin kamu kok".


" Makasih Al, besok aku jemput kamu di depan rumah mu ya".


" Iya Di".


" Udah sana masuk, udara nya lagi dingin, kamu istirahat ya".


" Oke kamu juga, yaudah dadah semuanya".

__ADS_1


Alda masuk kedalam rumah nya, lalu Riki pun mengantar Tuannya pulang, ia melajukan mobil dengan kecepatan sedang, ditengah kemacetan Jalan Raya di Ibu Kota.


-Selesai😊


__ADS_2