
Hari ini adalah hari yang sangat berat untuk keluarga besar Tuan Ardiantara, semuanya berharap mendapatkan suatu keajiban yang bisa mencegah nya untuk pergi. Tetapi takdir sudah menakdirkan Papa dan para tentaranya harus pergi.
Sungguh itu membuat semua orang terluka, dengan kepergiannya selama 2 tahun, tak tau masalah apa yang nanti nya akan terjadi. Tetapi itu memang sudah tugas dari seorang tentara bukan. Mau atau tidak nya, mereka harus pergi untuk menjalankan tugas Negara.
Keluarga dari yang ditinggalkan, untuk waktu yang cukup lama hanya dapat mendoakan yang terbaik, agar mereka semua kembali ke negara nya dengan keadaan selamat.
Pengorbanan dari seorang Tentara, terutama seorang Jendral sangat lah berat dan sangat berarti, mereka harus meninggalkan seluruh anggotanya demi kepentingan Negara, mereka harus mampu menahan rasa rindu nya kepada keluarga yang mereka tinggalkan.
Termasuk seorang Papa yang penuh dengan perjuangan, dan menjadi kebanggan dari keluarganya. Ia harus pergi, dan entah kapan ia harus pulang, 2 tahun? Bukan kah itu adalah waktu yang cukup lama dan memakan waktu, lantas bagaimana nantinya rasa rindu yang tak akan bisa terobati, tak akan ada komunikasi diantara mereka nanti, mungkin Mama sang Istri dari seorang Jendral yang luar biasa, akan sangat merasa kehilangan.
Karena sang Suami akan pergi, dan selama 2 tahun lamanya tak bisa lagi menyentuh badannya, merasakan kehangatannya, bahkan tak akan bisa mendengar suaranya lagi.
Mama tak henti-henti nya menangis, Mama terus berada dalam pelukan Papa, karena tak mau merasakan kehilangan untuk sekian lamanya, sungguh tak akan mudah baginya untuk melepaskan suaminya.
Papa yang sedari tadi berada dalam pelukan Mama, merasa berat untuk melangkah. Jika dia tak bertanggung jawab atas rakyat nya, mungkin dia tak akan memperdulikan ini semua, bahkan kemungkinan besar ia tak akan pergi untuk berperang, tetapi Papa bukanlah tipe orang seperti itu, ia adalah orang yang sangat bertanggung jawab, dan pengabdiannya terhadap negara adalah nomor 1 dalam kehidupannya.
" Jangan menangis Istriku, aku tak mampu melihat tangisan mu". Sambil mengusap air mata Istrinya yang mengalir dipipinya.
" Aku berharap ini semua hanya mimpi Suamiku".
" Ini bukan mimpi, tetapi ini kenyataan yang tak bisa lagi dipungkiri. Jaga diri mu baik-baik, aku akan segera kembali untuk keluarga kita".
" Kau juga harus menjaga diri mu disana, aku tak akan bosan mengingatkan mu untuk kembali kemari dengan keadaan selamat".
" Akan ku usahan, doakan saja yang terbaik untuk ku dan para pejuang disana, aku mencintai mu Istriku dan juga anak-anak kita, melebihi seluruh samudra dimuka bumi ini". Mengecup kening sang Istri.
" Aku juga sangat mencintaimu Suamiku". Memberikan senyuman hangat.
__ADS_1
Papa melangkah pergi lalu mengusap kepala anak-anak nya, memberikan senyuman terbaik yang pernah ada. Sungguh ini adalah sebuah penghargaan besar untuk nya karena berpura-pura tegar, padahal hati nya sudah menangis membanjiri jiwanya.
" Aldi tolong jaga kepercaan Papa, saat ini kamu memiliki tanggung jawab yang cukup besar. Tolong jadilah pemimpin yang jujur dan amanah, walaupun usia mu masih belum cukup matang, tetapi kamu adalah orang yang memiliki kepribadian cukup besar dalam memimpin". Sambil mengusap kepalanya.
" Iya Pah, Aldi akan melakukan apa yang Papa perintahkan pada Aldi".
" Terimakasih Nak, Papa percaya kamu bisa melakukannya".
Lalu menatap Alda yang berdiri bersebelahan dengan Aldi.
" Nak Alda, tolong jaga Aldi, dan berikan suport terbaik untuk nya".
" Baik Pak, Alda pasti akan melakukan nya". Senyuman hangat yang diberikannya, untuk meyakinkan Tuan Ardiantara.
" Terimakasih". Sambil tersenyum.
Lalu melanjutkan langkah nya menuju Riki dan Fahri.
" Baik Tuan, akan saya lakukan yang terbaik untuk semuanya, saya akan melindungi Tuan Muda, dan menjaga nya".
" Baik terima kasih". Sambil mengelus kepalanya.
" Pah, apakah hanya itu saja yang kau berikan pada ku". Ucap Fahri.
Papa Bingung dengan pernyataan anak bungsunya, tak mengerti dengan apa yang diinginkan anak nya.
" Apa Papa tak akan memberi pelukan hangat mu pada anak-anak mu?".
__ADS_1
Papa tersenyum lalu memberikan pelukan hangat pada Fahri, lalu mengulurkan lengan nya di udara untuk memanggil Aldi agar cepat kemari. Papa memberikan pelukan hangat kepada kedua anak nya. Rasanya ingin sekali menangis, tetapi ia memang harus terlihat tegar sekarang.
" Kalian adalah anak-anak Papa yang hebat, tolong jaga diri kalian termasuk Mama mu". Sambil mengusap pipi Istri nya, lalu mecium kening Istrinya, bergantian dengan anak-anak nya.
Setelah dirasa cukup akhirnya Papa mun melangkah pergi menuju pesawat pribadinya, tak lupa juga ia dikawal oleh seluruh tentara, seluruh tentara sudah berjejer di depan pintu, untuk memberikan hormat terlebih dulu pada sang Jenderal Tuan Ardiantara.
Tangisan semua orang pecah, saat melihat kepergian orang-orang tercinta nya, saat melihat punggung nya dari belakang. Itu lah pertemuan terkahir mereka, mereka hanya berharap semua akan baik-baik saja disana.
Mama menangis mengejar Papa yang sudah berada tepat didepan pintu pesawat, ia mengejar nya hingga terjatuh dilantai, sambil berteriak mencegah Suaminya untuk pergi.
"Suamiku aku mohon jangan pergi". Teriaknya hingga terdengar sendiri oleh sang Suami.
Papa menghampiri, dan berjongkok tepat dihadapan sang Istiri.
"Jangan seperti ini Istri ku, aku tak bisa melihat mu menangis seperti ini, tolong ikhlas kan aku untuk pergi, kamu adalah hidup ku, dan kamu akan selalu ada didalam hatiku". Sambil mencium kening istrinya, lalu memberikan pelukan yang terakhir.
Dengan hati yang sangat berat, Papa pun melangkah pergi untuk masuk kedalam pesawat, tanpa melihat keluarga nya, sebab jika ia terus melihat keluarga nya, ia tak akan bisa pergi, karena hati nya sungguh tak rela jika harus meninggalkan keluarga nya.
Semua tentara telah masuk kedalam pesawat, keculi keluarga yang mengantar, ditempat ini lah semua orang dibanjiri air mata. Seperti awan yang awal nya cerah, pasti akan ada juga datangnya hujan yang datang secara tiba-tiba, termasuk saat ini.
Aldi dan Fahri menghampiri Mama yang masih menangis, lalu memberikan kekuatan pada Mama nya.
" Ma, kami pasti akan selalu menjaga Mama, dan menggantikan posisi Papa sementara, agar Mama tak merasa sedih saat Papa tidak ada". Aldi.
" Ma jangan menangis, kita mohon. Ayo ma senyum, jadilah Mama yang tegar dan seceria dulu, ini memang berat Ma, tapi Papa pasti akan kembali bukan?". Fahri.
" Iya Nak, terima kasih banyak". Mama tersenyum, walaupun hatinya masih menangis.
__ADS_1
Aldi dan Fahri pun membantu Mama untuk berdiri, lalu pulang dengan perasaan hampa, tanpa sang Suami, tanpa sang Papa yang selalu menemaninya kapan pun, kini beliau sudah tak ada lagi ditengah keluarga ini. Doa lah yang bisa mereka panjatkan untuk saat ini dan nanti saat waktunya telah tiba.
-Selesai😊