
Mentari telah menampakan sinarnya, burung-burung telah berterbangan dengan bebas. Hari yang menyenangkan bagi siswa kelas 2 akan segera dimulai.
Seluruh siswa telah berkumpul dengan anggota kelompok nya masing-masing. Dilanjut dengan mengabsen para siswa agar teratur menaiki bus.
Alda kini telah menyebutkan nama-nama siswa wanita, begitu pun Dalvin yang menyebutkan siswa lelaki.
Untuk pembagian kursi, seluruh siswa duduk sesuai nomor yang telah diberikan, agar siswa bisa menaati tata tertib yang telah dibuat.
Aldi duduk bersama Alda, karena tempat duduk sesuai dengan abjad nama. Ia senang karena bisa duduk bersama dengan wanita yang ia sayangi, begitu pun sebaliknya. Karena mungkin Aldi akan lebih sering menjahili Alda, begitu lah fikirnya.
Tetapi Alda malah diam menatap ke arah jendela, hingga akhirnya perjalanan panjang menuju tempat camping pun segera dimulai.
Saat diperjalanan, terjadi masalah, rem yang digunakan tiba-tiba tidak berfungsi. Itu membuat semua orang yang berada didalam bus berteriak panik.
Alda terus saja berdoa, agar mereka semua selamat sampai tujuan, lalu ia menggenggam erat lengan Aldi karena takut, yang digenggam memberi pelukan pada gadis disampingnya sangat erat, agar ia merasa tenang.
" Jangan kuatir Al, gue bakal lindungin lo".
" Aldi, aku takut". Lebih erat memeluk Aldi, sambil memejamkan matanya.
Selang beberapa waktu bus melaju semakin cepat, hingga membuat semua orang semakin panik, tetapi Bu Tasni tetap memberi aba-aba, supaya semua orang tidak panik.
Pak Rudi mengabari seseorang dari balik telepon genggamnya, agar bisa dimintai bantuan, entah siapa yang beliau telpon saat itu. Karena yang dibalik telpon terdengar sangat panik dan kuatir. Ya, itu adalah Ayah Riki, Asisten pribadi Papa Aldi. Dengan segera, beliau pun memberitahu Pada Tuan nya, bahwa bus yang digunakan oleh Aldi, mengalami rem blong.
Papa Aldi sangat kuatir, ia mengerahkan seluruh anak buah nya untuk menghentikan bus yang digunakan oleh Aldi beserta rombongannya. Karena memang tidak terlalu jauh dengan tempat kejadian. Setelah mendapat perintah, mereka pun bergegas untuk pergi, Papa Aldi terlihat sangat panik, karena kuatir jika anak nya nanti tidak dapat terselamatkan.
Sementara didalam bus, Aldi tidak tinggal diam. Ia beranjak berdiri dari tempatnya, tetapi Alda menarik lengan sahabatnya agar kembali duduk.
Aldi tetap melangkah menuju supir, ia berusaha untuk membantu, karena ia memang mengerti dengan hal berkendara. Supir yang mengendarai sudah sangat frustasi, sehingga Aldi menggantikan posisi Bapak supir tersebut.
" Biar saya coba Pak". Dengan buru-buru menggantika posisi Bapak supir.
Aldi mengendarai dengan sangat tenang, walaupun fikirannya kini diambang ketakutan. Selang beberapa menit, seseorang memberikan intruksi didepan sana, untuk menabrakan bus menuju tank yang digunakan anak buah Papa.
Mereka turun dan membantu mengehentikan bus. Aldi yang mengendarai sedikit demi sedikit berusaha tenang, dan membantingkan stir, ia melajukan dengan sedikit pelan lalu menabrakan bus agar segera berhenti.
Aldi yang mengendarai terlihat sangat lemas, karena mengalami luka akibat pecahan kaca depan. Seseorang membuka pintu bus lalu melihat keadaan didalam, sebenarnya yang ia tuju adalah Aldi anak nya. Saat ia melihat anaknya, ia berteriak marah, karena anak nya yang bertanggung jawab dan mengalami luka yang cukup serius kali ini.
Alda yang sedari tadi duduk, beranjak dari tempatnya lalu berjalan menuju kedepan, ia melihat Aldi sudah terluka, lalu menghampiri dan memeluk pria yang sedang terluka itu, sungguh ia tak bisa menahan tangisannya dan saat itu ia menangis sejadi-jadinya.
***
__ADS_1
" Al, bangunn!".
Teriak seseorang dari dunia yang berbeda, saat ia membuka matanya ternyata ia hanya bermimpi. Sungguh itu adalah mimpi yang buruk baginya, melihat Aldi terluka, semua orang yang ada didalam bus berteriak, membayangkannya kembali, sungguh membuatnya sangat frustrasi.
Alda berkeringat dingin, dan mengeluarkan suara nafas yang tak beraturan, seperti habis berlari dan dikejar-kejar oleh anjing yang galak.
" Al, lo kenapa? Lo sakit? Ini Al minum dulu biar lo tenang". Tanya nya kuatir, karena sejak Alda bangun ia tampak begitu pucat.
Alda tersadar dengan suara seseorang yang berada disampingnya.
Ahh jadi ini semua cuman mimpi kan, hiks, jangan sampai mimpi yang aku alami barusan kejadian. Hiks. Hiks. Hiks. Alda.
Ia menangis karena kejadian yang ada didalam mimpinya barusan terlihat begitu nyata.
" Al, lo kenapa sih, lo mimpi apa sampai nangis kaya gini? Jangan bikin gue tambah kuatir Al". Tanya nya sambil mendekap Alda dalam pelukannya, karena Alda sudah mulai menangis.
" Huaaa,, Aldi kamu baik-baik aja kan, aku takut sampai kamu kenapa-kenapa".
Ia menangis sejadi-jadinya, membasahi jaket yang digunakan oleh Aldi, tetapi tangisan itu tak terdengar oleh orang lain, hanya ia dan Aldi lah yang mendengarnya.
Aldi membiarkan Alda memeluk dirinya erat, karena ia tak tega melihat Alda menangis, lebih baik ia menagis dalam pelukannya. Begitu fikirnya.
" Yaudah Al, tenangin aja diri kamu, aku tau kamu abis mimpi buruk, kalo kamu belum mau cerita ga apa-apa kok".
Alda meneguk air tersebut, sambil membayangkan mimpi barusan. Semoga tak akan pernah terjadi.
Seseorang dari belakang datang untuk menghampiri Alda, dia adalah Dalvin, ia datang karena mau memberikan jadwal acara hari ini. Dalvin melihat Alda yang sedang memeluk Aldi sangat erat, ia kuatir apa yang sebenarnya terjadi.
" Al, kamu kenapa?".
Alda menghapus air matanya, lalu mendongak keatas. Dan meyakin kan Dalvin dan juga Aldi agar tidak kuatir.
" Engga kok, aku ga apa-apa, ada apa Vin?".
" Ini Al, jadwal acara hari ini".
" Oke, makasih ya Vin".
" Iya Al, kamu sakit Al? kalo kamu sakit aku bawain obat untuk kamu ya?".
" Gausah Vin, aku baik-baik aja kok".
__ADS_1
" Tapi Al..". Kata-kata nya belum selesai, tetapi sudah di potong oleh Aldi.
" Udah Vin, Alda bilang kan ga apa-apa. Lagian lo sibuk kan, mending lo balik lagi ke tempat lo".
Dalvin merasa kalo dia sudah terusir oleh Aldi, ia sadar dan ia kembali ke tempat nya duduk.
" Yaudah Al, kalo kamu butuh apa-apa bilang ya".
" Iya Vin siap". Sambil tersenyum.
Setelah Dalvin pergi, Aldi menyentuh pipi Alda, yang masih berada di dalam pelukannya, entah lah mungkin berada di dalam pelukan Aldi membuatnya merasa nyaman.
Aldi membiarkan Alda terus membenamkan muka didadanya. Sampai Alda tenang, dan tidak menangis kembali.
" Al, udah tenang kan?".
" Udah kok Di, tapi semoga mimpi ku engga jadi kenyataan".
Karena aku pengen kamu selalu baik-baik aja Di. Alda.
" Emang lo mimpi apa sih sampai kaya gini?".
" Aku mimpi tentang kamu Di, dan semua orang yang ada di sini".
Aldi mengernyitkan dahinya bingung, sebab tak mengerti dengan apa yang diucapkan Alda.
" Aku mimpi buruk Di". Sambil menceritakan semua yang ada di dalam mimpinya, ia berkeringat kembali seperti baru bangun dalam mimpinya tadi.
" Jadi ini yang bikin lo jadi ketakutan, lo berdoa aja semoga semuanya baik-baik aja ya".
" Iya Di pasti".
Dan aku ga mau sampai ngeliat kamu terluka kaya dimimpiku tadi Di. Kamu adalah segalanya, gabisa dibayangin kalo kamu gaada dikehidup aku. Hiks. Alda.
Di sepanjang perjalan, yang seharusnya mereka ikut bersenang-senang didalam bus, justru Aldi hanya menenangkan Alda agar tidak memikirkan mimpinya barusan, karena itu tak akan membuatnya berkonsentrasi nanti.
Sungguh perjalanan kali ini, membuat fikirannya sangat kacau, bukan berarti lebay. Tetapi ia hanya takut dengan kejadian yang ada didalam mimpinya. Ia takut Aldi terluka, ia takut semua orang yang ada didalam pun ikut menangis dan terluka.
-Selesai๐
Ps ๐ฌ
__ADS_1
Untuk para readers ayo dong bantu dukungannya untuk Author, agar Autor bisa terus semangat untuk buat cerita yang lebih keren lagii. Jika kalian sudah membaca jangan lupa tinggalkan jejak ya๐.
Author sayang kalian semuaa ๐