Selingkuh Dengan Mantan Brondongku

Selingkuh Dengan Mantan Brondongku
Berteduh


__ADS_3

Dio dan Aimi akhirnya menemukan emperan toko untuk sekedar berteduh. Banyak orang yang juga memanfaatkan emperan toko itu untuk berteduh.


"Kak, kita berteduh di sini dulu ya?"


"Nanti kalau sudah reda, kita lanjutkan perjalanan lagi" begitu kata Dio kepada Aimi


"Ya Dio" jawab Aimi pendek


"Oh ya, ngomong-ngomong suami kakak pulang kapan?" tanya Dio penasaran


"Oh, suamiku pulang seminggu lagi"


"Dia terbiasa rapat di luar kota karena menjalankan promosi rumah sakit miliknya" jawab Aimi


Cuaca hari itu makin dingin saja, dan tak terasa hari sudah malam. Namun hujan tak kunjung reda.


"Kak, bagaimana nih?"


"Hujan tetap belum reda" ujar Dio sambil melihat langit-langit


"Kakak sih, gak mau bawa mobil saja"


"Kita bukan anak muda lagi yang suka naik motor butut kayak gini" kata Dio sambil mengernyitkan dahinya.


"Iya nih Dio"


"Nenek aku pasti menunggu" jawab Aimi


Perjalanan Aimi dan Dio kerumah nenek nya kurang 15 menit perjalanan. Namun karena hujan, perjalanan mereka menjadi terhambat.


Beberapa orang yang berteduh di emperan toko satu persatu telah pergi menerobos hujan yang seperti nya awet. Mereka sudah menyerah dengan hujan itu.


Dio, ayo kita terobos hujan itu?" ajak Aimi kepada Dio


"Yah, kak"


"Jangan"


"Kakak kan gak kuat dingin?"


"Mantel juga hanya satu" ucap Dio pendek


"Aku pengen cepat sampai rumah nenek nih" kata Aimi


"Kalau begitu bagaimana kalau kak Aimi memakai mantelku, aku gak usah" ucap Dio memberi penawaran


"Tidak Dio" jawab Aimi menolak penawaran Dio


"Kamu kan di depan, aku di belakang"

__ADS_1


"Tubuhku masih aman terlindungi olehmu" kata Aimi sambil menatap Dio dalam


Karena tak punya pilihan, Dio pun akhirnya mengiyakan permintaan Aimi. Kerumah nenek Aimi lebih penting dari segalanya. Walau hujan menghadang, Aimi dan Dio tetap menerobos hujan itu.


Motor Dio melaju dengan kecepatan tinggi. Tangan Aimi terpaksa memegang pinggang Dio lebih erat lagi karena kalau tidak, Aimi bisa kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


"Kak, pegangan yang erat"


"Aku mau ngebut nih" ucap Dio kepada Aimi


"Ya dio" jawab Aimi pendek


Di tengah perjalanan, Aimi merasakan kedinginan yang amat sangat, namun ditahannya. Aimi memang mempunyai penyakit yang tak kuat akan cuaca dingin dan jika dia berlama-lama di dalam cuaca dingin, Aimi akan merasakan sesak dan pusing.


Semakin lama menahan, semakin tak kuat Aimi untuk melawan rasa dingin itu. Perjalanan untuk sampai di rumah nenek Aimi masih membutuhkan 5 menit lagi, namun pertahanan Aimi sudah semakin menipis


Karena sudah tak kuat, Aimi segera menepuk bahu Dio dan meminta Dio untuk berhenti sebentar


"Dio, berhenti dulu"


"Aku sudah gak kuat dingin" pinta Aimi pada Dio.


Dio pun segera meminggirkan motor butut nya di tempat yang aman. Kebetulan ada tempat berteduh yaitu sebuah rumah kosong tak berpenghuni yang ada di pinggir jalan.


Aimi pun turun dari motor. Jaket yang dipakai Aimi basah kuyup terkena hujan. Mulut nya pucat pasi, dan bibirnya bergetar karena kedinginan.


Tiba-tiba saja tangan Aimi merasakan kram sehingga sulit untuk digerakkan.


"Ya Dio, aku kram" kata Aimi pendek


Aimi berusaha sekuat-kuat nya di hadapan Dio walau sebenarnya kesehatannya makin rapuh.


"Kak Aimi, kenapa diam?" Dio mulai memperhatikan wajah Aimi yang semakin pucat


"Tidak Dio, aku hanya butuh istirahat sebentar saja"


"Dingin sekali malam ini" ucap Aimi pada Dio


Dio pun mendekat ke arah Aimi. Tak lupa Dio memberikan jaket nya pada Aimi, karena jaket Aimi sudah basah kuyup.


"Kakak, pakai jaket ku" kata Dio


Aimi pun memakai jaket Dio, dan tubuhnya sedikit menghangat


"Dio, makasih ya" ucap Aimi sambil tersenyum senang.


Walau jaket yang diberikan Dio bisa sedikit menghangatkan tubuh Aimi, namun rasa dingin tetap ada pada tubuh Aimi.


"Kak, kamu masih kedinginan?" Dio mulai memperhatikan lagi kondisi aimi, dan Dio mulai memeriksa nadi Aimi.

__ADS_1


"Kak, nadi mu lemah dan gak teratur"


Dio langsung mendekat ke arah Aimi dan langsung memeluk wanita itu.


"Maaf kak, aku akan memelukmu karena jika tidak, kau akan tetap kedinginan" ucap Dio


Tubuh Dio pun mendekap Aimi begitu erat. dan Aimi pun diam mematung tak tahu apa yang harus dilakukan nya saat itu..


Mau menolak, tubuhnya sudah tak mampu bergerak lagi, mulut nya seperti terkunci dengan keadaan yang sangat tak disukai nya. Jatuh ke pelukan Dio lagi setelah sekian lama tak pernah bertemu dengan nya


Hati Aimi mulai haus kasih sayang karena Beni tak pernah menghiraukan hal-hal kecil seperti itu


Aimi tampak tenang dalam pelukan Dio. Pelukan yang selama ini ditunggu nya karena rasa haus yang selalu menyerangnya.


Telepon Aimi pun berdering, namun tak dihiraukan oleh Aimi. Saat itu Aimi dibuai oleh sikap romantis Dio kepadanya yang tak pernah berubah sedikitpun.


Di tempat lain, Beni suami Aimi berusaha menelepon Aimi hingga berulang kali.


"Kemana sih Aimi" gumam Beni sambil terus memanggil Aimi dengan menggunakan ponsel yang ada di tangannya.


Sementara itu, Sita yang saat itu berada di samping Beni berkata


"Dokter, mungkin Aimi lagi senang-senang karena kau tak ada di rumah" ucap Sita asal bicara


Sita memang suka membuat Hati Beni menjadi mendidih dan hal itulah yang membuat Aimi dan Beni sering bertengkar.


Karena Aimi tak kunjung mengangkat teleponnya, Beni langsung membanting ponsel nya ke meja kerjanya. Untung saja ponsel Beni tidak pecah saat itu dan masih bisa dipakai.


"Awas saja kalau kau macam-macam Aimi" gumam Beni sambil mengepalkan tangannya


Hari itu hari yang sangat berat bagi Beni. Selama dia pergi ke luar kota, Aimi tak pernah menghubungi nya sama sekali.


Untuk menghilangkan kegalauan nya, Beni mulai menelepon ajudannya. Dia ingin mengetahui kebiasaan Aimi jika dirinya tak ada di rumah


"Hendra, kau ada di mana?" tanya Beni ketus


"Tuan, saya ada di tempat ngopi"


"Ada apa memangnya?" tanya Hendra penasaran


"Sekarang, aku memintamu memantau apa yang dilakukan istriku saat aku pergi" ucap Beni


"Aku akan memberikan uang banyak kepadamu jika kau bisa memberikan informasi yang lengkap kepadaku" janji Beni pada Hendra


"Baiklah Tuan Beni, aku akan melaksanakan tugas ini dengan baik"


Hendra langsung membayar kopi nya, dan berangkat menuju ke rumah Beni. Dia ingin melihat Apa yang dilakukan Aimi ketika Beni berada di luar kota.


Sementara itu, Aimi dan Dio berteduh di rumah kosong, Hingga akhirnya hujan pun reda, Dio dan Aimi melanjutkan perjalanan ke rumah nenek Aimi yang hanya kurang lima menit lagi.

__ADS_1


Sesampai di rumah nenek, Aimi pun dengan senang mengetuk pintu rumah nenek nya.


__ADS_2