
"Ya nak"
"Kamu mau tanya apa pada ibu?" tanya Ibu dio pada Indah
"Dulu, sebelum bersamaku, apakah Dio telah mempunyai kekasih?" tanya Indah penasaran
"Oh, itu to"
"Setahu ibu, Dio hanya berteman dekat saja"
"Dia tak mempunyai kekasih yang pas"
"Pernah sih, dia menyukai seorang wanita, tapi wanita itu lebih tua darinya"
"Dio hanya sebagai teman baik saja karena teman wanita itu juga telah mempunyai kekasih"
"Jadi, anggap saja Dio belum pernah mempunyai kekasih yang resmi seperti kamu" ucap ibu Dio menjelaskan secara detail perihal anaknya.
"Oh ya bu"
"Makasih banyak, ibu sudah memberi tahu aku" ucap Indah sambil tersenyum
"Nak Indah"
"Mengapa kau sampai bertanya hal yang tak penting pada ibu?"
"Emangnya Dio tak menceritakan kepadamu perihal masa lalunya?" tanya ibu Dio penasaran
"Ehm, ya bu"
__ADS_1
"Dio sangat tertutup kepadaku"
"Bahkan semenjak menikah, Dio sedikit canggung jika berbincang dengan ku"
"Hubungan kami semakin renggang saja" ucap Indah sambil melihat ke langit-langit rumah Dio
Saat mereka berdua berbincang perihal Dio, tampak Dio sudah selesai mandi dan keluar dari kamar nya.
"Bu, Indah"
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Pembicaraan kalian seakan rahasia"
"Aku jadi penasaran" ucap Dio sambil menatap ke arah Indah dan ibu Dio
"Aku hanya berbincang masalah yang tidak terlalu penting kok" jawab Indah sedikit gugup.
Dio hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah ibu dan Indah yang terlihat akrab.
Dalam hati Dio, dirinya mulai sedikit tak suka melihat Indah yang mulai mendekati ibunya.
"Indah tak boleh terlalu dekat dengan ibuku"
"Aku tak mau alam pikiran ibuku dipengaruhi olehnya" gumam dio dalam hati.
Dio akhirnya pergi ke dapur untuk menyantap makanan yang telah dimasakkan oleh Indah dan ibunya. Suasana di ruang makan terlihat canggung. Antara Indah dan Dio sudah tak ada camistry lagi. Tak ada candaan sama sekali yang meramaikan suasana. Hingga akhirnya ritual makan telah diselesaikan oleh mereka.
Setelah selesai makan, Dio kembali ke dalam kamarnya disusul oleh Indah.
__ADS_1
Saat itu, Indah mencoba memakai baju tidur berwarna merah dan memperlihatkannya di hadapan Dio.
Tujuan utama Indah hanyalah satu. Indah Ingin Dio melayani nya dan melakukan hubungan yang sakral itu. Suatu hubungan yang pastinya halal dan diridhoi oleh Tuhan.
gunung kembar Indah mulai terlihat dan Dio sejenak melihatnya. Tak ada rasa sama sekali walaupun pemandangan itu berada tepat dihadapannya.
"Ah, apakah aku sudah gila?"
"Mengapa hatiku tak bergairah ketika melihat tubuh Indah?"
"Mau tidak mau, aku harus melayani nya agar aku tak dicurigai telah menyembunyikan sesuatu tentang pilihan ku" gumam Dio dalam hati.
Dio mulai berusaha mendekati Indah dan berusaha meluapkan hasrat nya yang tersimpan hanya untuk Aimi.
Dalam pikirannya, Dio percaya dengan semua yang diucapkan oleh Aimi yaitu, Aimi membebaskan nya bercinta dengan istrinya selama dirinya masih sah menikah dengan Indah.
"Apakah lebih baik aku melayaninya saja?"
"Aku harus menutupi rasa ku agar terhindar dari prasangka buruk Indah" gumam Dio dalam hati
Dio segera mendekat ke arah Indah. Namun aneh bagi Dio. Segala hasrat nya hampir tak ada sama sekali.
Untuk membuat hasrat nya meluap, Dio terlebih dahulu melihat ponsel yang selalu ada di tangannya.
"Hem, aku harus melihat foto Aimi dulu"
"Mungkin saja dengan melihat nya saja gairahku bisa aku tingkatkan"
"Setelah ini, aku akan segera meninggalkan Indah agar dia bisa mendapatkan lelaki terbaik selain aku" gumam Dio dalam hati
__ADS_1