
"Aimi, kau sudah enakan?" tanya Beni tiba-tiba
"Hem, ya mas, aku sudah enakan" jawab Aimi pendek. Tampaknya Aimi merasa risih dengan kedatangan Beni yang menyebalkan hatinya.
"Kalau sudah enakan ayo pulang"
"Aku akan segera membayar semua administrasinya" kata Beni sambil mendekat ke arah Aimi.
Beni pun memapah tubuh Aimi yang masih sedikit lemah.
Aimi hanya diam saja melihat tingkah Beni yang mulai baik padanya.
Sementara itu, Dio hanya diam melihat Beni yang membopong tubuh Aimi.
Saat Beni tak melihat gerakan Aimi, dengan spontan Aimi mencolek tangan Dio dan memberi sebuah kode. Tampaknya Aimi mulai memberikan sinyal baru untuknya.
Dio manggut-manggut tanda mengerti apa yang dimaksud oleh Aimi.
Tak lama kemudian, Aimi dan Beni pun segera pulang menuju ke rumah mereka.
Sesampai di rumah Beni
Aimi hanya diam saja tak berbicara dengan suaminya sepatah katapun. Dirinya masih marah dengan kelakuan Beni kepadanya.
"Aimi, tolong lihatlah aku"
"Aku suamimu"!
"Kau tak pernah menghargaiku sebagai suami" ucap Beni ketus
"Mas, apa katamu?"
"Kamu yang mulai duluan"
"Sejak awal menikah, aku tak pernah merasakan kebahagiaan" ucap Aimi sambil memandang Beni dengan tatapan nanar
Beni sebenarnya sangat marah dengan ucapan Aimi yang sangat kelewatan. Tapi ditahannya melihat Aimi baru sembuh dari sakitnya.
Karena tak ingin dia menyakiti Aimi lagi, Beni pergi ke kamar yang ada di ruang kerjanya dan tidur disitu.
Tampaknya pelet gendam sukma sekarang telah merasuk dalam tubuh Aimi. Bedanya Aimi mulai bergairah dengan lelaki lain yaitu dengan sosok Dio.
Pelet gendam sukma adalah sebuah pelet yang unik. Jika sebuah rumah tangga terkena pelet itu maka nafsu seseorang semakin meningkat dan tak cukup melakukan sekali dalam penyatuan tubuh dengan pasangannya.
Biasanya, saat menyerang suatu keluarga, pelet itu tak menyerang langsung kedua orang korbannya melainkan salah satu.
Jika salah satu terkena serangan dan tak mempan, maka serangan itu berpindah pada salah satu pasangan nya yang lemah.
Jika kemarin, Beni yang terkena pelet itu. Berhubung Beni sangat kuat imannya, dia hanya melampiaskan penyatuan tubuh nya hanya dengan istrinya.
Karena bisa kuat menahan hasrat, akhirnya pelet itu berpindah pada sosok Aimi. Kini Aimi sedang meluap-luap gairah nya dan mulai tertarik dengan Dio lagi. Sosok pria yang bukan suaminya..
Di kamar Beni
__ADS_1
Beni tak bisa tidur saat itu dan masih memikirkan Aimi istrinya.
Dia mulai sadar dan menyesali perbuatannya. Pengaruh pelet gendam sukma yang di arahkan pada Beni rupanya tak berpengaruh sehingga reaksi pelet itu berpindah pada sosok Aimi yang lebih lemah.
"Kenapa aku melakukan hal buruk pada istriku dalam beberapa bulan ini?"
"Apa yang ada di otakku sih?" Beni terus saja menyesali semua perbuatannya. Karena tak bisa tidur Beni mulai membersihkan tubuhnya di kamar mandi.
Tampak air mata membasahi pipi Beni. Air mata itu tertutupi oleh siraman air yang Beni tumpahkan di kepalanya.
Setelah mandi, Beni mulai menuju ke kamar Aimi. Tampak Aimi sedang tiduran di kamar mereka berdua.
Saat Beni masuk, Aimi terlihat sangat takut dan trauma.
"Mas Beni, kau mau lakukan apa lagi kepadaku?" tanya Aimi dengan nada naik turun. Nafasnya mulai tak beraturan karena Aimi mengingat kejadian yang membuat tubuhnya remuk waktu itu.
"Aimi, aku gak akan melakukan apa-apa kepadamu" ucap Beni menenangkan istrinya
"Aku hanya ingin melihat kondisi mu, apakah sudah baikan atau belum" ucap Benu mencobs menenangkan Aimi.
Mendengar perkataan Beni yang mulai lunak, Aimi sedikit lega dibuatnya dan duduk seperti biasa.
Namun, semua sangat berbeda dengan dahulu. Tamparan keras yang ada di pipi Aimi yang membekas sudah menjadi kenangan buruk di hati Aimi.
"Aimi, bolehkah aku melihat lukamu?" tanya Beni sambil berusaha menyentuh luka memar yang ada di pipi Aimi.
"Tidak mas"
"Aku sudah sembuh kok"
Karena tak ingin luka Aimi parah, Benu terpaksa memaksa Aimi untuk menuruti permintaan nya itu.
"Aimi, kali ini aku akan memaksaku"
"Aku tak ingin kamu kenapa-napa"
"aku tahu aku salah"
"Tapi, aku melakukan nya tanpa sadar" ucap Beni berusaha memperbaiki suasana
"Mas, tak sadar katamu?"
"Kamu melakukannya dengan sadar"
"Kamu masih waras, tidak gila" jawab Aimi sambil memandang Beni dengan tatapan penuh kebencian.
Aimi mulai sedikir takut karena Beni dengan cepat mendekatinya.
Beni pun memegang wajah Aimi dengan paksa karena Aimi sejak tadi menolak untuk disentuh olehnya
Saat memegang wajah Aimi, Beni mulai melihat luka lebam di pipi Aimi.
"Aimi, luka mu harus secepatnya diobati karena bisa infeksi jika tak diobati"
__ADS_1
"Sebentar aku ambilkan salep"
"Kau tunggu di sini" ucap Beni sambil pergi menuju ke tempat praktik pribadinya.
Tak lama kemudian, Beni datang lagi ke kamar Aimi dengan membawa sebuah salep wajah untuk meredakan luka lebam wajah
"Aimi, mendekatlah padaku" pinta Beni
Aimi pun mau tak mau segera mendekat ke arah Beni. Rasa takut mulai dihilangkannya saat itu karena Aimi juga ingin cepat sembuh agar wajahnya bisa cantik lagi seperti sedia kala
Dengan telaten, Beni mengoleskan salep itu tipis tipis di wajah Aimi.
"Ah, pelan-pelan mas"
"Sakit sekali" rintih Aimi sambil menarik nafas dalam
"Tenanglah Aimi"..
"Aku akan pelan-pelan mengoleskannya" ucap Beni mencoba menenangkan Aimi.
Aimi pun menuruti semua arahan Beni. Salep itu dioleskan pelan pelan di pipi Aimi.
"Ahzzz, pelan-pelan mas, sakit" ujar Aimi sambil meringis menahan sakit
"Aimi, kamu yang tenang"
"Kalau gerak terus gimana aku bisa mengoleskan salep ini secara sempurna di pipi kamu?"
"Nih salep nya belepotan kesana kemari akibat kamu banyak gerak" ucap Beni memperingatkan Aimi
Aimi akhirnya diam karena takut jika salep yang dioleskan Beni belepotan mengenai wajahnya yang lain.
"Nah, sudah selesai"
"Sekarang, istirahatlah" pinta Beni pada Aimi
Aimi pun istirahat. Dirinya mulai menenangkan hatinya. Pak Sarto yang melihat kejadian di balik jendela tersenyum tipis.
"Sungguh aneh keluarga ini"
"Kadang bertengkar"
"Kadang sangat mesra"
"Apa sih yang ada di dalam pikiran mereka berdua?" gumam pak Sarto dalam hati.
Di tempat lain, Dio mulai tak tenang.
Semenjak melakukan tindakan kuret pada Aimi, dirinya mulai tak bisa tidur. Dio melihat seluruh tubuh Aimi terutama bagian yang sangat sensitif
"Aku telah melihat semuanya dan hal itu membuat aku tak bisa melupakannya" gumam Dio
Karena tak bisa tidur, Dio mulai membuka ponsel nya. Ada lima panggilan tak terjawab dari Indah calon tunangan nya.
__ADS_1
"Aduh, Indah menelepon ku"
"Aku harus bagaimana agar Indah tak berharap banyak padaku?" gumam Dio dalam hati