
Beni tak menggubris perkataan Aimi. Dirinya tetap menikmati ritme penyatuan tubuh dengan istrinya itu.
"Aimi, aku tak menyangka bisa selega ini" Aku harap kau menikmatinya"
Akh,,,, Beni menikmati rasa nikmat yang tiada tara. Rasa itu begitu sampai ke ubun-ubun nya.
"Mas, aku gak kuat lagi mas" Sakit" rintih Aimi kesakitan.
"Sakit kah?" Apa aku harus membuat mu naik?" tanya Beni sambil terus mencari titik lemah Aimi.
Beni pun mulai memegang bagian yang dirasa bisa membuat Aimi bisa naik. Dan ternyata bagian itu di temukan nya. Wajah Aimi memerah karena merasakan sensasi yang tak pernah di dapatkannya.
Rasa sakit itu berangsur-angsur mereda ketika aliran air memancar dari dalam tubuh nya.
Aimi pun akhirnya mengikuti ritme Beni yang naik turun dengan teratur.
Keringat keduanya mulai bercucuran, hingga mereka berdua sama-sama mencapai titik puncak kenikmatan penyatuan tubuh itu.
"Ahkzz" Aku akan mengeluarkannya" Beni pun dengan sekuat tenaga mengeluarkan segala keinginan nya itu hingga membuat Aimi kewalahan.
__ADS_1
Dan akhirnya mereka berdua mencapai puncak kenikmatan itu
Setelah selesai melakukan ritual tubuh itu, Beni dan Aimi saling berpelukan. Dalam lubuk hati Aimi yang paling dalam, dirinya berkata
"Ada apa dengan mas Beni?" Mengapa dia mulai lunak dengan ku saat bercinta?" Walau awal nya sangat sakit, tapi di pertengahan pertempuran, mengapa dia tau titik lemahku?" Apa Mas Beni sudah mulai berubah?" gumam Aimi terus saja berpikir jernih.
Selimut itu mulai menutupi tubuh Beni dan Aimi. Kedua insan itu menyatukan diri hingga terlelap di ranjang itu.
Sementara itu, Dio dengan mobil nya rupanya telah sampai di depan pintu rumah Aimi. Tampak pintu rumah Aimi terkunci rapat dengan gerbang yang sangat tinggi. Ada pak Sarto yang berjaga di depan gerbang.
Dio pun memberanikan diri untuk bertanya pada Sarto tentang keberadaan Aimi.
Sarto pun menjawab
Dio pun hanya terdiam tak bisa berbuat apa-apa. Dio hanya bergumam
"Kak, apakah kau masih mencintaiku?" Aku selalu menunggu mu bagaimanapun keadaan mu" gumam Dio dalam hati
Dio pun bergegas pergi meninggalkan Sarto dengan tangan hampa. Dalam mobil nya, Dio mulai membuka ponsel nya dan berusaha mencoba menghubungi Aimi lagi.
__ADS_1
"Kring..." Ponsel Aimi berdering dan hal itu rupanya membuat Beni terbangun, sementara itu Aimi masih asyik tertidur karena lelah telah melayani Beni.
"Siapa sih, yang menelepon Aimi malam-malam" gumam Beni dalam hati
Beni pun langsung membuka ponsel Aimi dan Terkejut lah Beni ketika melihat siapa yang menelepon Aimi.
"Hah, Dio?" Mengapa dia masih berani menghubungi istriku malam-malam?" gumam Beni. Nafasnya naik turun mendengar telepon itu.
Beni langsung menutup telpon Aimi dan hal itu membuat Dio semakin kawatir.
"Loh, kenapa ponsel nya dimatikan?" gumam Dio dalam hati. Dio pun berusaha menelepon Aimi untuk kedua kalinya dan hal itu membuat ponsel Aimi berdering untuk kedua kalinya juga.
"Kring..." Suara itu rupanya terdengar oleh Beni lagi dan Beni mulai melihat siapa yang menelepon istrinya lagi
"Loh, Dio lagi" Mau apa sih ini orang" gumam Beni
Beni pun tak bisa menahan marahnya. Dia melihat istrinya yang sedang tertidur pulas.
"Aimi, apa kau berselingkuh?" gumam Beni dalam hati
__ADS_1
Beni pun menggenggam tangan Aimi, seakan tak ingin istrinya direbut oleh lelaki lain.
"Kau tak boleh dengan yang lain, aku ingin kau layani aku lagi sekarang" ucap Beni sambil menggoyang-goyangkan tubuh Aimi yang saat itu sedang kelelahan