
Aldi yang sejak tadi sibuk menyetir rupanya penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Aimi.
"Setahuku, Aimi tak memberitahukan keberadaan nya pada keluarganya"
"Lalu, siapa yang menelepon nya?" gumam Aldi dalam hati
Pikiran Aldi melayang kemana-mana sambil berspekulasi mengenai kehidupan Aimi yang masih misteri.
Hingga tiba waktu yang tepat, Aldi memberanikan diri untuk bertanya pada Aimi mengenai siapa yang menelepon nya barusan
"Aimi, siapa yang menelepon mu?" tanya Aldi penasaran
"ehm, bukan siapa-siapa tuan Aldi"
"Hanya teman akrab ku saja"
"Dia sekarang ada di Indonesia" jawab Aimi singkat
"Oh ya ya" jawab Aldi pendek
Aldi mulai berpikir tentang teman spesial Aimi yang masih misteri baginya.
"Spesial seperti apakah teman nya itu?"
"Sampai-sampai, Aimi mengingat nomornya?"
__ADS_1
"Orang tua nya sendiri saja belum diberi kabar oleh nya" gumam Aldi dalam hati.
Pertanyaan itu selalu terbesit di pikiran Aldi hingga mobil yang ditumpangi Aldi telah sampai di pusat perbelanjaan dimana Aimi akan berbelanja di sana.
"Tuan Aldi, saya belanja dulu ya?"
"Tuan Aldi tunggu di dalam mobil saja" pinta Aimi pada Aldi
"Oh ya baiklah"
"Jangan lama - lama ya?" ucap Aldi pada Aimi
Aimi menjawabnya dengan mengangguk. Dengan cepat Aimi masuk ke dalam toko bahan makanan dan mulai membeli kebutuhan yang akan digunakannya dalam seminggu ke depan.
Selama di korea, Aimi mulai bisa menguasai bahasa korea walau hanya sepatah dua patah kata. Kemampuan Aimi dalam mengingat sesuatu membuat nya mudah beradaptasi di sana.
"Aku harus bisa membujuk Aimi agar segera kembali ke Indonesia"
"Jika ini dibiarkan berlama-lama, aku akan semakin sulit mendapatkan nya" gumam Dio dalam hati.
Setelah memikirkan semua hal tentang Aimi, Dio pulang ke rumah nya setelah sekian jam bekerja di rumah sakit mitra medika. Tak ada gosip apapun tentang Dio di rumah sakit itu. Nama Dio tetap baik dan menjadi idaman para perawat maupun bidan yang bekerja di sana.
Sesampai di rumah, Tampak Indah berusaha mendekat ke arah Dio dan memintanya untuk makan makanan yang baru saja dimasak nya.
"Dio, ayo ganti baju dulu"
__ADS_1
"Aku sudah memasak makanam kesukaan mu bersama ibumu" ucap Indah sambil tersenyum senang.
Dio tampak cuek tak menjawab sepatah katapun untuk Indah. Dirinya langsung masuk ke dalam kamar pribadinya dan melakukan ritual mandi yang menjadi kebiasaan nya sepulang kerja.
Indah hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap Dio dengan tatapan penuh kecewa.
Di pojok ruangan, ibu Dio tampak sedih melihat perubahan anaknya yang tak menghargai menantunya itu. Tak ingin Indah larut dalam kesedihan, ibu Dio segera menghampiri Indah dan membelai rambut menantunya itu.
"Menantuku"
"Bersabarlah"
"Sebenarnya, Dio adalah anak yang baik dan berbakti pada orang tua"
"Dia pasti akan menyayangi mu suatu saat"
"Ibu berdoa untuk kebahagiaan kalian berdua" ucap ibu Dio penuh harap
Indah langsung menjawab ucapan ibu Dio dengan tersenyum. Hatinya sedikit tenang ketika ibu Dio memberikan dukungan kepadanya.
"Ya ibu"
"Makasih banyak kau telah menyayangiku dan menganggap sebagai anak sendiri"
"Aku juga berharap Dio secepat nya berubah baik kepadaku"
__ADS_1
"Oh ya bu, aku ingin menanyakan sesuatu tentang Dio" ucap Indah pada ibu Dio