
Beni dengan nafsu yang menggebu mulai meluapkan hasrat nya pada istrinya itu, tanpa tahu bagaimana kondisi psikis Aimi yang sedikit terpuruk
"Mas Beni, hentikan"
"Aku tak mau kau berbuat kasar kepadaku"
"Pelan-pelan saja" ucap Aimi meringis kesakitan
"Aku sedang datang bulan, aku gak kuat lagi" rintih Aimi meringis kesakitan
Waktu itu ternyata Aimi mengalami menstruasi dan Beni tak memperdulikan itu.
Dia terus melakukan penyatuan tubuh dengan istrinya itu.
Suara rintihan terdengar malam itu dan Beni sangat menikmatinya. Nafsu liar Beni ternyata juga dipengaruhi energi negatif pelet gendam sukma yang dilakukan oleh Sita.
Karena terkena pelet itu, Beni haus akan **** dan selalu ingin melampiaskan hasrat nya itu. Karena Beni tergolong lelaki setia, hasrat nya hanya dilampiaskan kepada Aimi seorang, tidak dengan yang lain.
Namun, karena Beni jarang bertemu dengan Aimi, Beni terus menahan hasrat itu hingga emosi nya meluap-luap.
Untungnya, Beni belum pernah memukul dengan kasar istrinya itu. Beni hanya menyerang psikis Aimi dan hal itu membuat Aimi hampir gila
Untungnya, anak Aimi dititipkan pada ibu kandung Aimi yang saat ini berada di kota tape sehingga tak melihat tindakan kejam yang dilakukan oleh ayah tirinya itu.
"Mas Beni, sakit sekali" rintih Aimi menahan rasa sakit akibat ulah Beni yang memaksa Aimi untuk melakukan hubungan itu.
Darah mengalir di sprei berwarna putih dan tubuh Aimi lemas. Beni rupanya telah mencapai puncak kenikmatannya. Dirinya tak tahu jika Aimi mengalami perdarahan. Beni asyik tidur di kamar itu dengan nafas yang masih naik turun.
Aimi dengan wajah lelah mulai tertidur di ranjang. Dirinya tak menghiraukan apa yang terjadi kepadanya...
Tubuh Aimi yang terasa remuk ditambah rasa capek yang menyerang nya membuat pertahanan Aimi runtuh.
Aimi juga tertidur di samping Beni dengan rasa sakit yang dideritanya.
Keesokan harinya, Beni bangun dengan keringat yang masih membasahi tubuhnya. Dia melirik Aimi yang saat itu tertidur di ranjang bersamanya.
Dengan langkah gontai, Beni menuju ke kamar mandi karena hari ini ada rapat di rumah sakit miliknya.
Beni mulai melirik ke arah Aimi yang tertidur pulas.
Wajah Aimi tampak pucat waktu itu hingga membuat Beni sedikit panik.
"Aimi, bangun.." Beni menggoyang-goyangkan tubuh Aimi hingga Aimi mulai terbangun
"Ya mas Beni"
"Aku pusing" ucap Aimi sambil tertidur lagi
"Ayo bangun Aimi"
"Sudah siang nih"
"Siapkan makanan untukku sekarang" pinta Beni pada Aimi.
"Ya mas, sebentar ya"? jawab Aimi
__ADS_1
Aimi berusaha terbangun dan tiba-tiba Aimi mengeluh sakit perut
"Mas Beni perutku sakit" rintih Aimi sambil memegang perut nya yang sakit
Beni yang seorang Dokter mulai memeriksa wajah Aimi yang terlihat sangat pucat.
"Aimi, kau sangat pucat"
Sebentar aku ambil tensi dulu" ucap Beni
Beni segera pergi ke tempat praktik pribadinya dan mengambil alat pemeriksaan miliknya.
Tak lama kemudian, Beni datang lagi ke kamar dan langsung memeriksa keadaan Aimi saat itu.
Setelah Beni melakukan pemeriksaan terhadap kesehatan Aimi, Tekanan darah Aimi rupanya sangat rendah.
"Aimi, kau perlu istirahat di rumah saja"
"Tak perlu membuatkan aku sarapan"
"Aku akan membeli sarapan di luar saja" ucap Beni sambil mencium pipi istrinya itu.
Saat Beni mulai berdiri dan hendak pergi, Beni melihat ada darah segar di sprei yang dipakai untuk tidur.
"Hah, darah?"
"Darah apa ini?" gumam Beni sambil terus mengamati dari mana darah itu berasal.
Ternyata darah itu berasal dari Aimi yang saat itu mengalami halangan.
Dengan suara parau, Aimi berkata pada dokter Beni bahwa dia sudah mengatakan hal ini pada dokter Beni.
"Mas Beni"
"Bukankah aku sudah bilang sejak kemarin, kalau aku sedang berhalangan?" ucap Aimi lemah
Beni terdiam sebentar dan berkata
"Aimi, kamu pelan sekali bicaranya, aku tak dengar" jawab Beni sekenanya.
"Kau memang bikin aku kesal mas"
"Sekarang, aku sudah capek hidup dengan mu"
"Aku ingin cerai" ucap Aimi sekenanya
Mendengar ucapan Aimi yang diluar batas, Beni tak bisa memendam amarahnya dan menampar Aimi hingga Aimi tersungkur jatuh ke bawah ranjang.
"Diam kau Aimi"
"Aku tak akan pernah menceraikan mu"
"Tak akan pernah sekalipun" ucap Beni dengan nada keras.
Aimi menangis sejadi-jadinya. Baru kali ini Beni menampar dia dengan begitu teganya.
__ADS_1
"Mas Beni, sakit" jerit Aimi sambil menangis histeris
Pak Sarto yang ada di luar pura-pura tak tahu apa yang terjadi di dalam rumah dan menutup telinganya. Dia tak mau ikut campur urusan rumah tangga dokter Beni dan Aimi.
Setelah menampar Aimi, Beni merasa menyesal dan sedikit kawatir akan kondisi yang dialami Aimi.
Aimi pun langsung keluar dengan wajah yang lebam akibat ditampar oleh Beni.
Beni yang ada di dalam kamar hanya diam saja. Dirinya masih tak menyangka kenapa Aimi berani meminta dirinya untuk meceraikannya.
"Apakah Aimi mempunyai lelaki lain selain aku?" gumam Beni penasaran
"Awas saja kalau kau punya lelaki selain aku"
Tubuh Beni terasa remuk saat itu. Energi pelet gendam sukma rupanya telah merasuk ke dalam alam pikiran Beni sehingga sifat Beni menjadi kasar seperti sekarang ini.
Untuk menghindari amukan Beni, rupanya Aimi pergi ke butik miliknya. Saat itu Aimi menggunakan cadar hitam untuk menutupi luka bekas pukulan Beni.
Aimi langsung masuk ke dalam ruangan pribadinya dan langsung mengunci pintunya
Beberapa karyawan nya merasa heran kenapa bos nya langsung masuk ke dalam butik tanpa menegur mereka sama sekali.
"Ada apa dengan Nyonya Aimi?"
"Apakah dia sedang bertengkar dengan suaminya?"
"Mengapa dia menutup wajahnya pakai cadar?" gumam Ririn salah satu pelayan setia Aimi.
Di tempat lain, hati Dio sedang tak tenang hari ini. Dua jam lagi dia akan pulang ke rumah. Namun hatinya sangat tidak tentram kala itu.
Rupanya, hal buruk yang menimpa Aimi menbuat Dio merasakan hal aneh dalam hatinya
"Kenapa hatiku tak nyaman?"
"Apakah ada sesuatu hal yang buruk menimpa Aimi?"
"Aku tak yakin kak Aimi bahagia"
Karena penasaran, Dio mulai menelepon Aimi.
Saat memulai panggilannya, Dio langsung tersenyum puas ketika Aimi langsung mengangkat panggilannya.
"Hallo kak aimi apa kabar?" Dio mulai menanyakan kabar tentang Aimi karena sepulang dari rumah neneknya, Aimi tak memberi kabar padanya
"Aku baik saja Dio" jawab Aimi pendek
"Loh kak kenapa suaramu parau?"
"Apakah kamu sedang sakit?" tanya Dio pada Aimi.
"Tidak Dio"
"Jangan hiraukan suaraku" jawab Aimi pendek
Mendengar jawaban Aimi yang mencurigakan, Dio langsung melihat lokasi ponsel Aimi melalui aplikasi yang dimiliki di ponsel Dio.
__ADS_1
Tertulis jika Aimi berada di butiknya. Dio pun langsung berangkat ke butik Aimi saat itu juga karena penasaran dengan keadaan Aimi