
"Baik kak, nanti malam aku akan mengantar kakak ke rumah nenek" itulah jawaban Dio untuk seorang Aimi. gadis tercantik di mata Dio
"Makasih ya Dio, kalau begitu aku tutup teleponnya"
"Selamat bekerja" ucapan Aimi membuat hati Dio berbunga-bunga kali ini.
"Kesempatan emas ku gak boleh aku sia-siakan" gumam Dio sambil melihat jam dinding yang terpampang jelas di tembok tempat kerjanya.
Kurang 30 menit lagi, jadwal operasi pasien Dio dimulai. Dio mulai bersiap memakai baju operasi ditemani asisten nya yaitu perawat dan bidan.
"Sudah siap semuanya?" tanya Dio pada rekan tim nya
"Sudah pak" jawab seluruh tim medis yang bekerjama dengan nya.
Dio pun memulai operasi kandungan pada pasien pertamanya yaitu seorang ibu muda yang melahirkan anak pertamanya.
Karena tak bisa melahirkan normal, ibu muda itu terpaksa melahirkan di meja operasi.
Dengan keahliannya, Dio cukup lihai melakukan hal ini, karena memang cita-cita sejak pacaran dengan Aimi, Dirinya ingin menjadi seorang dokter spesialis kandungan.
Hal ini di dorong oleh kebiasaannya saat muda ketika dirinya mengantar Aimi periksa kandungan saat Aimi menjadi istri Alex.
Operasi akhirnya dilaksanakan oleh Dio dan rekan tim nya.
Mereka melaksanakan operasi dengan baik. Banyak yang puas dengan kinerja Dio karena jahitannya juga sangat rapi.
Selesai operasi, Dio duduk di meja kerjanya.
Dia segera menyelesaikan beberapa laporan pertanggung jawaban pasien dan tugas lain.
"Yah sudah"
"Aku harus cepat pulang sekarang" gumam Dio.
Dio akhirnya keluar dari kantornya. Beberapa perawat dan bidan yang ada di rumah sakit mitra medika tampak kagum melihat pesona Dio yang sangat memikat.
Dia menjadi artis baru di rumah sakit itu. Tapi bagi Dio, dirinya hanya berusaha bertahan hidup dan ingin menjadi lelaki tandingan dari suami Aimi yang lebih dahulu menjadi dokter.
Di perjalanan menuju ke rumah, Indah sang kekasih yang saat ini berada di kota sebelah mulai menelepon Dio
"Dio, bagaimana kabarmu?"
"Semenjak kita beda kota, kau jarang menghubungiku" ucap indah
"Oh, Indah"
"Maafkan aku"
"Aku terlalu sibuk"
"Semenjak menjadi dokter, aku jarang pegang ponsel karena banyak pasien yang menunggu" itulah alasan yang selalu dilontarkan untuk menutupi segala perubahan hatinya saat itu.
Tubuh Indah terasa lemas saat itu. Dirinya mulai pesimis akan hubungannya dengan Dio.
"Aku tak yakin jika Dio akan setia kepadaku"gumam Indah dalam hati
__ADS_1
Di rumahnya, Indah tinggal bersama ayah dan ibunya saja. Sedangkan adiknya masih menyelesaikan studi nya di salah satu kampus ternama di kotanya.
Sebenarnya, Indah adalah lulusan dokter umum. Namun, karena Dio tak membolehkannya bekerja, Indah tak mencari pekerjaan setelah lulus dan percaya kalau Dio siap untuk menafkahinya.
"Kalau begini terus, aku akan mencari pekerjaan di klinik saja, untuk mengisi kekosongan" gumam Indah sambil membuka internet di komputer milik nya.
Di tempat lain, Dio mulai mempersiapkan diri untuk mengantarkan Aimi ke rumah neneknya.
Sebelum berangkat, Dio menelepon Aimi terlebih dahulu untuk memastikan Aimi siap tidak nya untuk berangkat ke rumah nenek bersamanya.
"Kak, aku berangkat ke rumahmu sekarang ya?" tanya Dio pada Aimi
"Ya Dio, aku tunggu"
"Oh ya, aku ingin kita naik motor butut mu ya?" ajak Aimi
"Hah, mau pakai motor lamaku?"
"Kakak gak lagi bercanda kan?" tanya Dio penasaran
"Enggak Dio, aku pengen aja"
"Mumpung mas Beni lagi keluar kota, aku ingin bersantai menikmati udara segar bersamamu saja" ucap Aimi sedikit berani menggoda Dio.
"Wah, baiklah kak kalau begitu"
"Sekarang, aku siap mau berangkat"
"Jangan lupa, kak Aimi pakai jaket, kita nih sudah tidak muda lagi kak" ucap Dio bercanda
"Ayo cepatlah" ajak Aimi dengan nada tak sabar
"Oke kakak" Dio pun menutup telepon nya. Kunci mobil miliknya langsung saja di letakkan di dekat televisi, dan Dio beralih ke motor butut miliknya.
"Bu, aku keluar sebentar" ucap Dio meminta ijin pada ibunya.
"Ya, nak, hati-hati"
"Emangnya kamu mau kemana sih kok burur-buru amat?"
"Kamu gak naik mobil saja?" tanya ibu Dio penasaran
"Enggak bu, aku ingin naik motor butut ku ini" ucap Dio pendek
"Aku mau anter temen sebentar kok" ucap Dio
"Baiklah kalau begitu"
"Hati-hati di jalan nak" kata ibu Dio mendoakan.
"Ya bu" jawab Dio
Dio pun segera mengendarai motor bututnya, motor dimana dirinya pernah jalan bersama Aimi memakai motor itu. Lama tak dipakai, motor itu tetap diletakkan di garansi rumah ibu Dio. Sesekali ayah Dio memakai motor itu untuk membeli sesuatu yang jaraknya masih dekat.
Motor butut Dio melaju dengan kecepatan sedang dan beberapa menit kemudian, Dio telah sampai di tempat dimana aimi memberikan arahan untuk pertemuan rahasia mereka.
__ADS_1
"Dio, kau cepat sekali sampai"
"Ayo cepat ya?" Aimi langsung menaiki motor Dio dan tak lupa dirinya memakai helm yang sudah dibawakan oleh Dio sebelumnya.
"Sudah siap kak?" tanya Dio
"Sudah, ayo kita berangkat biar tidak terlalu malam" ajak Aimi penuh semangat
Aimi dan Dio pun segera berangkat menuju ke rumah nenek Aimi.
Jarak rumah nenek Aimi dan rumah Aimi membutuhkan perjalanan satu jam lamanya.
Sementara itu, Beni yang ada di luar kota sedang melakukan pertemuan dengan pemilik rumah sakit lain demi urusan bisnis.
Tak terasa perjalanan Dio berlangsung sekitar 15 menit, Aimi memegang pinggang Dio dengan erat.
Ketika Dio melihat Aimi lewat spion, Dio melihat ada kejanggalan
"Kak, kamu gak pakai jaket ya?" tanya Dio sambil sedikit mengurangi kecepatan nya.
"Oh ya Dio, aku lupa"
"Aku biasa naik mobil jadinya aku lupa gak pakai jaket" ucap Aimi santai.
"Kak, apa kita mampir ke toko baju terdekat?"
"Aku tahu kau tak kuat dingin" ucap Dio mengingatkan
"Sudahlah Dio"
"Kan ada kamu di depan, jadi aku gak mungkin dingin karena aku terhalang oleh tubuh mu yang gendut" ucap Aimi sambil mencubit pinggang Dio
"Yah, kak Aimi bisa aja"
"Kalau begitu, pegang erat-erat ya"
"Aku mau ngebut nih" ucap Dio
Dio akhirnya menambah kecepatan motornya dan merekapun asyik menikmati perjalan menuju ke rumah nenek Aimi.
Di tengah jalan, tiba-tiba, hujan turun dengan derasnya dan Dio hanya membawa mantel satu saja karena tak menyangka jika saat itu akan terjadi hujan.
"Yah, kan kak Aimi"
"Hujan deras nih"
"Kita berhenti dulu ya?"
"Aku lupa membawa mantel dua"
"Pikirku tidak hujan" ucap Dio beralasan
"Baiklah Dio, ayo kita berteduh di emperan toko itu" ajak Aimi
"Ayo kak" Dio pun mengarahkan motor nya pergi ke sebuah toko untuk sekedar berteduh
__ADS_1