
Dio yang saat itu telah keluar dari kamar mandi bergegas menemui Aimi di sebuah hotel dimana dirinya pertama kali kehilangam keperjakaannya.
Sebelum pergi, Dio meminta ijin pada Indah untuk keluar sebentar membeli oleh-oleh keluarganya yang ada di Indonesia.
"Indah, aku ijin keluar sebentar"
"Kau tunggulah di sini"
"Aku akan membeli oleh-oleh untuk ibuku" ujar Dio pada Indah
"Oh, kau tidak mengajakku sekalian?" tanya Indah pada Dio
"Enggak"
"Aku hanya sebentar saja kok"
"Kau beresin dulu semua barang kita"
"Aku takut ada yang ketinggalan" ujar Dio membuat sebuah alasan
"Yaudah Dio" jawab Indah pendek
Setelah mendapat ijin dari Indah, Dio langsung pergi meninggalkan Indah dan pergi menemui Aimi.
Sementara itu, terlihat Indah dengan wajah penuh kekecewaan, tertunduk lesu. bulan madunya bersama Dio di luar negeri gagal total. Dio tak menyentuhnya sama sekalim Jangankan menyentuh, menciumnya saja Dio tak pernah.
Namun, rasa marah yang bergejolak di hatinya berusaha ditahan Olehnya. Indah tak ingin lagi bertengkar dengan Dio setelah pertengkaran hebat yang terjadi kemarin,
Beberapa saat kemudian saat Indah meratapi kesedihannya, Hati Indah merasakan suatu hal yang aneh pada Dio. Mimik wajah Dio menunjukkan Dio tak seperti dulu lagi. Walaupun mereka telah menikah, namun Dio seperti semakin jauh darinya
"Aku harus mengikuti diam-diam kemana Dio pergi"
__ADS_1
"Aku curiga dengan apa yang dilakukan nya"
"Apa dia punya selingkuhan?" batin Indah
Indah curiga bukan tanpa alasan. Setiap Indah ingin memegang ponsel milik Dio, dengan sigap, Dio mencegah nya dan selama menikah, hampir tak pernah dirinya melihat ponsel Dio.
Macam-macam alasan yang dilontarkan Dio saat Indah hendak meminjam ponsel nya, dan hal itu membuat Indah malas untuk bertanya lagi.
Tanpa menunggu waktu lama, Indah bergegas mengikuti Dio yang baru saja pergi meninggalkannya.
Sementara itu, Aimi rupanya telah sampai di hotel. Terlihat sosok Aimi mengenakan masker masuk ke dalam sebuah kamar yang telah disiapkan oleh Dio.
Selang beberapa menit, Dio pun juga telah sampai di hotel itu.
Saat Dio masuk ke kamar hotel, terlihat Aimi telah berada di dalam hotel itu.
"Kak, kau telah datang duluan rupanya" ujar Dio tersenyum senang.
"Duduk lah" ujar Aimi sambil menggeser kursi yang ada di dalam kamar hotel itu.
Dio pun duduk dengan santai, sembari menggenggam tangan Aimi.
"Kak, gairah ku tak bisa ku tahan ketika aku melihatmu" ucap Dio jujur.
"Dio, tenanglah"
"Aku sangat capek hari ini"
"Jangan membahas itu lagi" ucap Aimi pendek
"Oh ya Dio, aku memberikan sebuah cincin kepadamu"
__ADS_1
"Nih" ujar Aimi sambil menunjukkan sebuah cincin yang bertuliskan namanya
"Wah bagus sekali"
"Cincin ini berinisial MD" ucap Dio sambol mengamati cincin itu dengan seksama.
"Emang kak Aimi punya uang disini?"
"Sepertinya cincin ini sangat mahal" ucap Dio pada Aimi
"Tenanglah Dio"
"Aku membelikan cincin ini dengan uang hasil kerjaku bersama Aldi"
"Pakai ya?" ucap Aimi sambil memegang tangan Dio
"Ya, kak"
"Aku akan pakai cincin ini" ucap Dio sambil menyodorkan jari manisnya ke arah Aimi.
Aimi segera memasangkan cincin itu dan ternyata, cincin itu pas di tangan Dio.
"Wah, kak"
"Cincin nya pas sekali"
"Makasih ya kak?" ucap Dio sambil mengecup kening Aimi
"Ya dio" jawab Aimi pendek
Saat Dio mengecup kening Aimi, gairah Dio mulai memuncak dan dirinya mulai memeluk erat tubuh Aimi yang mungil itu
__ADS_1