Selingkuh Dengan Mantan Brondongku

Selingkuh Dengan Mantan Brondongku
Bertemu kembali


__ADS_3

Sekitar lima belas menit kemudian, Dio dan Indah telah sampai di butik Aimi.


"Selamat pagi"


"Selamat datang di butik kami"


"Adakah yang bisa kami bantu" begitulah kiranya karyawan Aimi yang bernama Ririn menyapa Dio dan Indah yang datang ke butik mereka.


"Oh ya"


"Kami berdua ingin menemui Nyonya Aimi larasati" ujar Indah dan Dio secara bersamaan.


"Oh ya masuklah" ujar pelayan butik


Mereka berdua pun masuk ke ruangan Aimi. Jantung dio tetap saja tak karuan dibuat nya, saat dirinya melihat wajah Aimi.


Setelan baju berwarna hitam ditambah rok merah sampai lutut membuat Aimi sangat cantik dari sebelumnya.


"Eh Dio"


"Ayo kesini" panggil Aimi sedikit manja.


Indah yang saat itu berada di samping Dio tertegun sebentar, namun langsung berusaha menghilangkan rasa cemburu dalam hatinya.


"Oh ya kak" jawab Dio pendek


Dio pun segera menghampiri Aimi dan melihat baju yang sudah ada di atas meja.


"Coba lihatlah, baju pertunangan mu sudah aku selesaiakan"


"Sekarang kau coba dulu mungkin ada yang kurang" ucap Aimi pada Dio


Dio langsung mengambil baju pemberian Aimi, begitu juga indah. Mereka berdua ganti baju di ruang ganti yang telah disediakan oleh Aimi.


Sekitar 5 menit kemudian, Dio dan Indah kembali ke ruangan Aimi dengan berpakaian hasil desainnya.


"Wah, bagus banget Dio"


"Aku senang sekali" ujar Indah sambil melihat baju yang dipakainya di cermin yang disediakan Aimi.


"Ya, aku juga suka dengan baju desain kak Aimi"


"Baiklah kalau begitu, kita cocok dsn fix pilih yang ini ya?" ucap Indah tersenyum senang


Mereka pun kembali ke tempat ganti baju dan berganti baju lagi seperti sedia kala.


Perbincangan demi perbincangan dilakukan oleh Aimi, Dio dan Indah. Mereka bertiga akhirnya membicarakan rencana liburan mereka yang akan dilaksanakan besok.


"Bagaimana kak?"


"Mas Beni mau ajak kita semua liburan di bali"


"Indah sih ngikut aja, akupun juga ngikut" ucap Dio pada Aimi


"Ya Dio,"


"Sepertinya Mas Beni sudah mengosongkan jadwal nya untuk besok"


"Besok pagi kita berangkat ya, sekitar jam 07.00" ucap Aimi pada Dio

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu kak"


"Aku pulang saja sekarang"


"Besok, aku akan persiapkan semuanya" ujar Dio


"Baiklah Dio" jawab Aimi pendek


Dio dan Indah segera berpamitan, tak lupa mereka membawa baju hasil desain Aimi ke dalam tas mereka.


Selama bersama Indah, Dio tak bisa leluasa berbincang dengan Aimi. Semua gerakan nya kaku seolah ada hal yang ditutupinya rapat-rapat.


Mobil Dio melaju dengan kecepatan tinggi. Hal yang sangat berbeda dengan sebelumnya.


"Dio, pelan-pelan jalannya"


"Aku ingin menikmati indah nya kota Baru" ucap Indah sambil menggenggam lengan Dio


Dengan wajah yang gugup, Dio berkata


"Oh, ya maaf Indah" jawab Dio pendek


Dio akhirnya mengurangi kecepatan mobil nya menjadi kecepatan yang sedang.


"Nah, gitu dong" ucap Indah tersenyum senang


Perjalanan pulang antara Indah dan Dio dilewati tanpa percakapan yang berarti. Mereka berdua tak semesra seperti dahulu. Sebelum Aimi datang dalam kehidupan mereka.


Keesokan harinya


Di rumah Aimi


"Ayo mas Beni, cepetan"


"Mereka sekarang sudah dalam perjalanan ke Bandara" ujar Aimi penuh semangat


"Kita kan sudah pesan tiket pesawat"


"Takut telat nanti nya" ucap Aimi menambahkan.


"Iya Aimi, sebentar"


"Aku masih bersiap ambil barang-barangku di lemari" jawab Beni kesal.


"Tenang mas"


"Semua pakaian dan keperluan mu sudah aku siapkan sejak kemarin"


"Mas Beni tinggap berangkat saja bersamaku"


"Biar pak Sarto yang membawa dan meletakkan nya dalam mobil" ujar Aimi sambil membenarkan syal nya yang hampir terjatuh.


Beni pun terdiam dan ketika dirinya mengintip tas kopernya, memang sudah siap semuanya mulai dari baju dan keperluan Beni yang lain.


"Baiklah ayo kita berangkat sekarang" ajak Beni pada Aimi


"Ayo, mas" jawab Aimi


Mereka berdua pun segera berangkat ke bandara setelah pak Sarto memasukkan semua koper ke dalam mobil.

__ADS_1


Mobil Beni melaju dan tak membutuhkan waktu lama, mobil mereka telah sampai di Bandara.


"Yah, kita telah sampai"


"Tuh Dio dan Indah sudah ada di ruang tunggu" ujar Beni pada Aimi


"Oh ya mas, ayo kita kesana" ajak Aimi


Mereka berdua akhirnya bertemu langsung dengan Dio dan Indah. Penampilan kali ini lumayan modis dan membuat mata Dio jelalatan dan membayangkan hal di luar nalarnya.


Rasa yang ada di hati Dio makin meningkat saja, hingga membuat nya sejenak tak ingat kalau ada Beni dan Indah yang berada di tempat itu.


"Heh, Dio, kok melamun"


"Ayo kita berangkat" ajak Indah diikuti Beni dan Aimi


Mereka berempat pun berangkat ke Bali, dimana disana banyak hiburan yang membuat pikiran mereka terhibur walau sejenak.


Sesampai di Bali


Aimi sengaja mengajak Beni dio dan Indah menikmati pemandangan yang ada di kota Bali. Mereka meminta bantuan pemandu wisata untuk mengambil foto mereka berempat


"Ayo, kita berfoto berpasangan"


"Tempat ini akan menjadi kenangan kita berempat" ujar Aimi tersenyum senang


Mereka pun berfoto bersama..



Fotografer mulai memotret mereka berempat. Pelan tapi pasti, tangan Dio bersembunyi di belakang tubuh Indah dan menggenggam tangan Aimi begitu erat.


"Dio, apa yang kamu lakukan" gumam Aimi dalam hati. Aimi tak berkata sepatah katapun waktu itu.


Hati Aimi makin bergejolak, dan berusaha melepaskan genggaman itu. Namun, semakin Aimi berusaha melepaskan tangan itu, justru Dio menggenggam lebih kuat dari sebelumnya.


Untuk menghindari agar Beni dan Indah tak tahu sikap mereka, Aimi bersikap tenang seolah tak terjadi apapun antara dirinya dan Dio.


Setelah berfoto ria, Aimi mulai merasakan lelah. Usia yang tak muda lagi membuatnya mudah capek jika berjalan jauh.


"Sudah, ayo kita ke hotel"


"Aku sudah capek banget" ajak Aimi


"Oh ya baiklah ayo Aimi" jawab Beni


Mereka berempat langsung pergi ke hotel yang sebelumnya sudah dipesan terlebih dahulu.


Aimi dan Beni menempati kamar nomor 41, sedangkan Indah dan Dio berada di kamar nomor 42. Kamar mereka saling berdekatan sehingga membuat mereka mudah untuk komunikasi.


Di kamar nomor 42 (tempat Indah dan Dio)


Indah dan Dio mulai bersantai di kamarnya. Tak ada teguran apapun dari Dio pada Indah. Dio asyik dengan ponsel nya sendiri, dan Indah menghilangkan kebosanan dengan menonton televisi.


"Dio, sepertinya kau mulai berubah sikap terhadapku"


"Aku merasa kau tak seperti dulu lagi" ujar Indah mencoba membuka pembicaraan.


"Apa sih Indah?"

__ADS_1


"Kau jangan ngelantur kalau bicara"


"Aku tak suka jika kau selalu mengkritik ku tanpa sebab yang jelas" ujar Dio pada Indah


__ADS_2