Selingkuh Dengan Mantan Brondongku

Selingkuh Dengan Mantan Brondongku
Tempat Asing


__ADS_3

Aimi yang saat itu di culik Hendra, rupanya telah sadar dari pingsan nya.


"Dimanakah aku?"


"Mengapa tempat ini sangat asing bagiku?" gumam Aimi dalam hati.


"Hah, mengapa aku berada di tempat gelap?"


"Tollong..."


"Lepaskan aku" teriak Aimi


Ternyata, saat ini Aimi berada di suatu tempat yang jauh dari kota baru. Butuh waktu 18 jam jika ingin pergi ke tempat terpencil itu.


Tampak Hendra, salah satu orang suruhan Sita berjaga di depan ruangan itu.


"Siapa kamu?"


"Kenapa kau membawa ku kemari?"


"Lepaskan aku" ! pinta Aimi pada Hendra


"Hei wanita cantik"


"Maaf, aku hanya orang suruhan saja"


"Kalau saja aku lebih mengenal mu dahulu dibanding aku mengenal dia, aku tak mungkin mau menculikmu" ujar Hendra


Tatapan Hendra sedikit lunak pada Aimi. Dia tak sekejam seperti yang dibayangkan oleh Aimi. Hanya saja Hendra saat itu hanya melaksanakan tugas dari Sita.


"Tolong, kalau kau kasihan kepadaku, lepaskan aku" ucap Aimi mencoba memohon pada Hendra


"Sudahlah"


"Kau turuti saja sekarang permintaan ku"


"Makanlah dahulu"


"Seminggu ini, kau jarang sekali mau makan"


"Lihatlah badan mu makin kurus saja" ujar Hendra sambil memperhatikan tubuh Aimi dari atas sampai bawah.


Memang, setelah penculikan itu, Aimi terlihat depresi. Saat Aimi sadar, Aimi hanya makan satu suapan dan tidur lagi. Begitu seterusnya. Saat Aimi bangun, pasti Aimi selalu bertanya dimanakah dia saat itu berada.


Aimi seakan mengalami amnesia sesaat. Tentunya itu karena pengaruh dari pelet gendam Sukma milik nenek Sita.


Aimi akhirnya menuruti apa kata Hendra. Dirinya mulai memakan sedikit demi sedikit hingga tubuhnya sehat kembali.


Saat Aimi sedang makan, terdengar bunyi telepon dari seseorang dan Hendra mulai mengangkatnya.


"Halo, bagaimana Hendra?"


"Apakah Aimi masih bersamamu sekarang?" tanya Sita penasaran


"Ya, dia masih bersamaku sekarang" ujar Hendra pendek.


"Kali ini, suami Aimi akan mencari keberadaan Aimi dan dia telah meminta Rudi untuk menanganinya"


"Aku harap kau hati - hati saja" ujar Sita memperingatkan Hendra.


"Tenanglah Sita"

__ADS_1


"Aku akan menyembunyikan Aimi dengan baik"


"Kau tidak usah kawatir" ucap Hendra pada Sita.


"Oh ya Hendra"


"Kalau kau tak keberatan, Habisi saja dia"


"Dengan begitu, kita akan terbebas dari segalanya"


"Jangan lupa, hilangkan bukti dan jejaknya" ujar Sita meminta Hendra untuk menghabisi Aimi dan melenyapkan nya dari muka bumi.


"Ah, yang benat saja kau Sita"


"Aku takut nantinya polisi menemukan bukti nyata jika aku membunuhnya"


"Bagiamana kalau aku buang saja dia ke luar negeri?" ucap Hendra memberikan ide gilanya.


"Wah, bagus juga rencanamu"


"Tapi masalahnya, mas Beni telah menyebarkan berita hilang nya Aimi ke seluruh negeri. Pasti mereka akam tahu jika Aimi menaiki pesawat bersamamu" ujar Sita penuh keraguan


"Tenang saja Sita, aku akan mengubah identitas nya"


"Kau jangan kawatie kalau masalah hal itu"


"Kebetulan, aku punya adik perempuan yang telah meninggal, aku akan menggunakan namanya untuk mengelabuhi petugas bandara"


"Aku juga punya kartu identitas adikku"


"Kebetulan, wajah nya sedikit mirip" ujar Hendra memberikan solusi terbaiknya pada sita.


"Oh baguslah kalau begitu"


Sita pun segera menutup teleponnya. Hendra yang melihat sikap Sita mulai menggelengkan kepalanya. Dirinya tak menyangka jika Sita menjadi sejahat itu.


Namun, Hendra memaklumi sikap Sita menjadi sangat kejam karena itu semua adalah ulah Beni sejak dulu yang selalu memberi harapan palsu kepadanya.


Hendra segera menemui Aimi dan melihat wajah Aimi yang lugu serta polos.


"Jika kuhabisi nyawanya kasihan juga"


"Aku akan membawanya pergi dari negara ini, kebetulan Sita memberikan aku uang yang banyak jadi aku sekalian berlibur sejenak" gumam Hendra dalam hatio


"Aku titipkan saja pada suadaraku" gumam Hendra dalam hati.


Hendra pun langsung menarik tangan Aimi dan Aimi pun berteriak


"Hei, pelan-pelan"


"Sakit tau"! rintih Aimi mengeluh kesakitan.


"Ya, nih sudah pelan" jawab hendra santai


Hendra akhirnya membawa Aimi ke luar dari tempat itu.


"Mau dibawa kemana aku?" tanya Aimi sambil berusaha meronta kesakitan


"Tenanglah"


"Kau akan memulai kehidupan baru"

__ADS_1


"Sekarang, ikutlah denganku" ujar Hendra pada Aimi


Aimi terdiam saat itu.


"Bukankah aku ingin pergi dari kehidupan ku di kota baru?" gumam Aimi dalam hati


"Alangkah baiknya aku ikuti saja pemuda ini"


"Aku sudah lelah memikirkan semua hal yang ada di kota baru"


"Suamiku, semua keluargaku?"


"Selamat tinggal"


"Aku ingin pergi untuk sementara waktu"


"Mungkin, Tuhan sudah mengabulkan permintaan ku lewat pemuda ini" gumam Aimi sambil terus melihat Hendra yang saat itu berjalan cepat menuju ke mobil nya.


"Siapa namamu?" tanya Aimi tiba-tiba kepada Hendra yang saat itu sedang mencoba menghidupkan mobil nya.


"Namaku Hendra"


"Aku hanyalah orang suruhan, kau tak perlu tahu banyak tentang ku" jawab Hendra pendek


"Baiklah"


"Nama sudah cukup bagiku" ujar Aimi pada Hendra


Aimi sedikit tenang karena tampak nya Hendra tak berbuat jahat padanya. Hendra juga sangat sopan. Dia tak pernah menyentuh tubuh sensitifnya sehingga dirinya tetap terjaga dengan baik.


Sampai di Bandara, Hendra dan Aimi berhasil mendapatkam tiket pesawat. dan mereka rupanya berhasil pergi ke negara Korea, dimana disana adalah negara yang sangat asing bagi Aimi.


Aimi yang tak tahu bahasa korea menjadi sangat bingung ketika dirinya berada di sana.


"Aimi, maaf"


"Aku akan meninggalkan mu disini"


"Aku hanya akan membawakan sedikit uang, untuk kau makan selama seminggu"


"Untuk selanjutnya aku tak bisa banyak membantu" ujar Hendra


Tatapan Hendra sedikit merasa iba, namun dirinya tak bisa berbuat banyak karena besok dia harus ke Indonesia untuk kembali bekerja.


Aimi hanya terdiam melamun. Dirinya tak bisa berpikir lagi harus kemana.


"Aku harus kemana?"


"Aku tak punya alat komunikasi apapun"


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Bahasa inggris pun aku tak terlalu lancar" gumam Aimi dalam hati.


Aimi pun pasrah menerima nasibnya di negara yang sangat asing baginya.


Di Indonesia, tepatnya di kota baru, Rupanya sudah sampai di hari pernikahan Indah dan Dio. Mereka rupanya telah sepakat hidup bersama. Walau begitu, bayangan Aimi masih saja ada di pikiran Dio


"Kak, hari ini aku akan menikah dengan Indah"


"Andai saja kau ada disini, mungkin saja aku akan mengurungkan niatku untuk menikah dan pasti aku akan membawamu pergi ke tempat yang jauh.

__ADS_1


"Aku tak peduli jika aku disebut pebinor" gumam Dio dalam hati.


Pikiran Dio melayang kemana-mana. Dirinya merasa tak siap untuk menikah dengan Indah. Sementara itu, Sita sedikit demi sedikit bisa masuk dalam kehidupan Beni tanpa ada yanh mengganggu lagi


__ADS_2