Selingkuh Dengan Mantan Brondongku

Selingkuh Dengan Mantan Brondongku
Sebuah alasan


__ADS_3

"Sebelum membaca episode ini, teman teman harus buka episode sebelumnya karena ada pengubahan kata yang banyak..soal nya episode itu terulang dibagian flasback..maaf banget ya" trus sampai sekarang masih tahao review yang episode sebelumnya.


"Sakit?"


"Kepalamu sakit?"


"Sekarang masih sakit?" tanya Beni penasaran


Aimi pun menjawab sekenanya


"Masih mas Beni"


"Nih aku udah minum obat pereda nyeri yang beli di toko obat" ucap Aimi sambil memberikan obat yang tadi Aimi minum


"Oh ya" jawab Beni sambil melihat jenis obat yang diminum oleh Aimi itu


Beni menganggukkan kepalanya sambil berpikir


"Aimi, darimana kau tau jenis obat pereda sakit seperti ini?"


"Setahuku kau selalu bertanya padaku jika sedang sakit kepala dan aku memberikan nya dalam bentuk pil" tanya Beni penasaran


"Mas Beni, aku bertanya pada pihak apotik"


"Aku ingin membeli obat pereda sakit kepala, dan pihak apotik memberikan obat ini kepadaku" jawab Aimi berusaha meyakinkan Beni jika obat itu dirinya sendiri yang membeli


"Oh ya sudah" jawab Beni


Beni pun segera melupakan hal itu dan meminta Aimi masuk ke dalam kamar hotel nya. Untuk sementara waktu rencana mereka untuk jalan-jalan telah batal, karena kondisi Aimi sedang sakit.


Beni pun segera membawa Aimi ke dalam kamar hotel pribadi mereka.


Di dalam hotel, satu kecupan hangat menempel di pipi Aimi, dan itu dilakukan oleh Beni, suami nya saat ini


"Aimi, aku sayang kamu"


"Jangan pernah pergi dariku ya?"


"Jika itu terjadi, aku tak segan untuk memakanmu" ujar Beni berbisik di telinga Aimi


"Ah, mas Beni nih ada-ada aja"


"Jangan bicarakan hal itu"


"Aku tak mau kau terlalu posesif kepadaku" ucap Aimi sambil tersenyum tipis


"Tidak"


"Aku tak kan posesif kepadamu asal kau mau menuruti semua perintahku" ucap Beni pada Aimi


Sambil menatap ke arah Aimi Beni mulai bertanya pada istrinya itu


"Aimi, apa pusing mu uda ilang?" tanya Beni pada Aimi


"Iya mas"


"Pusing ku uda ilang"


"Kenapa?" tanya Aimi penasaran


"Kalau uda ilang, sini peluk aku" kata Beni.


Tubuh Beni yang atletis akhirnya mendekap tubuh Aimi kala itu. Aimi terlihat pasrah karena yang ada di depan nya adalah suaminya sendiri.


Kali ini Aimi memiliki dua kepribadian berbeda. Dirinya bisa beradaptasi dengan suaminya maupun Dio. Kepribadian yang ganda.


Terjadilah hubungan yang mulai sedikit lunak. Beni melakukan nya dengan lembut tanpa ada kekerasan lagi.


Aimi mulai sedikit nyaman dengan sikap Bsni saat itu.

__ADS_1


"Kenapa kau bersikap lembut saat aku sudah menemukan pria yang mau menerimaku apa adanya?"


”Kenapa itu tidak kau lakukan saat dulu mas?"


"Saat aku belum bertemu dengan Dio" gumam Aimi sedikit menangis


"Ahhh" ******* Beni mulai terdengar lirih di dalam kamar itu


Begitu juga dengan Aimi


Beni mulai melihat Aimi dan tetesan air matanya


"Aimi, kenapa?"


"Sakit?"


"Apa aku harus pelan-pelan?" tanya Beni bertanya


"Tidak mas"


"Tidak sakit"..


"Lakukan saja sesukamu"


"Sudah kewajiban ku melayani mu" jawab Aimi berusaha menahan air matanya yang saat itu ingin menetes saja.


"Oh baiklah" jawab Beni


Penyatuan tubuh antara Beni dan Aimi dilakukan sampai puncak dan hal itu membuat Beni berbunga-bunga begitu juga dengan Aimi.


Walau hatinya sudah terbagi, tak bisa dibohongi kalau hati Aimi juga ada rasa pada Beni.


Karena Beni adalah suaminya yang selalu menikmati tubuhnya setiap waktum Berbeda dengan Dio


Dio yang dulu hanya mantan selingkuhan nya ketika dirinya bersama Alex dan juga pacar rahasia Aimi.


Jika dilihat, Dio adalah sosok pria malang. Mencintai istri orang, dan belum ada kepastian


Di tempat lain, Dio rupanya telah sampai di kamar hotel nya. sebelum dirinya masuk ke dalam kamar hotel nya, Dio masih saja melirik kamar Aimi dan Beni yang saat itu berada di dekat kamar nya.


"Kenapa kamar kak Aimi tertutup?"


"Sedang apa mereka di dalam?"


"Aku tak rela jika kak Aimi tidur bersama mas Beni" gumam Dio dalam hati


"Aduh, mengapa isi otak ku sangat jahat?"


"Bukankah wajar?"


"Aimi masih jadi istri Beni sekarang"


"Aku tak boleh berpikiran hal buruk lagi"


"Sekarang, aku akan menemui Indah untuk sekedar menghibur diriku" gumam Dio sambil masuk ke dalam kamar nya


"Dio, kau sudah kembali rupanya" ujar Indah menyapa Dio


"Ya Indah"


"Aku ingin tiduran dulu bersantai"


"Setelah ini, kita jalan-jalan sambil berbelanja" ucap Dio pada Indah.


Mata Dio menerawang ke atas. Masih tak dilupakan ciuman hangat nya bersama Aimi di kolam renang itu.


"Ciuman kak Aimi sangat menggairahkan"


"Aku tak bisa melupakannya" gumam Dio dalam hati.

__ADS_1


Saat itu, hati Dio mulai bergetar berkali-kali. Nafasnya naik turun menikmati indahnya angan-angan bersama Aimi yang selalu membekas di alam pikirannya.


Indah yang ada di samping Dio menatap Dio dengan tatapan penuh tanda tanya


"Ada apa dengan kamu Dio?"


"Mengapa kau tersenyum sendiri?"


"Apa aku yang salah melihat?" gumam Indah sambil mengamati gelagat Dio saat tidur


"Atau, kau sudah tertidur dan sekarang kau sedang menikmati mimpi indahmu?"


"Jika benat bermimpi, kau sedang bermimpi apa?" gumam Indah bertanya-tanya


Hanya itulah yang ada di dalam pikiran Indah tanpa Indah tau apa jawabannya.


Dua hari lagi, mereka akan bertunangan dan hal itulah yang ditunggu-tunggu Indah.


Setelah bertunangan seminggu lagi, mereka akan melangsungkan pernikahan karena orang tua Indah meminta hal itu.


Tentumya hal itu dulunya sudah disetujui oleh Dio.


"Sebentar lagi kita bertunangan dan menikah"


"Aku harap, kau menjadi kekasih selamanya buatku" gumam Indah dalam hati.


Indah pun tidur di sebelah Dio saat itu. Hingga beberapa jam kemudian Dio terbangun dan terkejut karena melihat Indah tidur dengan memeluknya.


"Indah, mengapa kau lancang sekali tidur sambil memelukku?"


"Mengapa kau tak tidur di kasur sebelah?"


"Kan kasur ada dua?" tanya Dio sedikit kesal.


"Maaf Dio"


"Aku tak sengaja"


"Aku ketiduran disamping mu setelah melihat wajahmu yang lelah" ujar Indah berusaha membela diri


"Ah, sudahlah"


"Lain kali, kita tidur berjauhan"


"Lagian kita juga belum menikah" ucap Dio pada Indah


Indah hanya bengong mendengar ocehan Dio. Tak biasanya Dio seperti ini.


"Kenapa kau Dio, seperti jijik saat melihatku?" tanya Indah penasaran


"Tidak Indah"


"Aku tak jijik"


"Aku hanya bad mood aja" ujar Dio pendek


Dio akhirnya pergi ke halaman depan hotel disusul Indah.


Mereka berdua akhirnya duduk di kursi dan berbincang seperti biasa.


"Dio, apa yang akan kita lakukan sekarang?"


"Besok, kita harus kembali ke kota baru"


"Dan lusa, kita sudah melaksanakan acara pertunangan kita" ucap Indah memulai pembicaraan


"Hem, entahlah Indah"


"Aku belum memikirkannya"

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita pergi cari oleh-oleh buat ibuku?"


"Sudah lama aku tak membelikan nya sesuatu" ujar Dio pada Indah


__ADS_2