
Pagi hari sekitar jam 07.00 pagi, Dio tampak terburu-buru dan melahap apa yang ada di meja makan.
"Dio, jangan tergesa-gesa"
"Minum dulu susunya" ucap ibu Dio sambil memperhatikan ulah anaknya itu.
"Iya bu, hari ini aku mau interview jam 7.30 ucap Dio sambil bergegas pergi meninggalkan rumah.
"yah, Dio sikap mu tetap saja kayak dulu" ucap ibu Dio sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mobil Dio melaju cepat menuju ke salah satu rumah sakit ternama di kota baru. Rumah sakit itu berdekatan dengan rumah sakit milik dokter Beni.
Kedua rumah sakit itu adalah rumah sakit rujukan dari seluruh penjuru kota, sehingga tenaga medis yang ada di sana dipilih yang mempunyai kemampuan skil yang tinggi, dan bersekolah di universitas ternama.
Dio salah satu mahasiswa lulusan terbaik, rupanya menjadi incaran direktur rumah sakit itu.
Sebenarnya, Dio ingin melamar di Rumah Sakit milik dokter Beni supaya dirinya bisa lebih dekat dengan Aimi.
Namun, keinginan itu diurungkan oleh Dio karena dirinya tak ingin diatur oleh Beni, yang merupakan salah satu direktur di rumah sakit itu.
Tak terasa, mobil Dio telah sampai di Rumah Sakit Mitra Medika, dan Dio pun masuk ke ruangan interview sesuai dengan perjanjian dengan pihak HRD rumah sakit.
Tampaknya, interview yang dijalankan Dio di rumah sakit itu tak terlalu lama. Skil dan nilai Dio yang baik membuat pihak Rumah Sakit langsung menempatkan Dio di jajaran dokter spesialis terbaik di rumah sakit itu.
Dio mulai keluar dari rumah sakit. Minggu depan, Dio mulai bisa bekerja di rumah sakit itu.
"Hari ini hari tersantai ku"
"Aku mau ngapain ya?" gumam Dio berjalan menyusuri parkiran.
Sampai di mobil, Dio teringat akan tempat ngopi langganannya dahulu.
"Lebih baik, aku pergi ngopi di warung bi marni" gumam Dio tersenyum senang
Dio pun pergi ke tempat ngopi langganan nya.
Saat sampai di tempat kopi langgganannya, Dio melihat bi marni sudah semakin tua.
"Bi marni" Dio mulai memanggil seorang wanita yang sudah sangat lama tak ditemuinya itu.
"Siapa ya?" tanya bi marni sambil berusaha melihat Dio lebih dekat lagi
"Oh, kamu Dio ya?" bi marni mulai menebak siapa sosok lelaki tampan yang ada di depannya
"Iya bi"
"Bibi lupa sama aku ya?" ucap Dio sedikit manja.
"Oh, bibi sedikit lupa nak"
"Kamu makin gagah dan tampan saja" ucap Bi marni sambil tersenyum senang
"Ayo duduk nak Dio"
"Kemana Aimi?"
__ADS_1
"Biasanya kamu membawa Aimi kesini" ucap bu Marni
"Aimi tidak jadi nikah ama aku bi"
"Tuh, dia nikah ama seorang dokter yang lebih tua darinya" ucap Dio sambil meminum kopi buatan bi Marni.
"Oh, aku pikir Aimi nikahnya ama kamu Dio"
"Gak apa-apa Dio, emang kamu udah nikah kan?" tanya Bi marni lagi
"Belum bibi, ni ntarlagi aku mau bertunangan dengan pacarku"
"Doakan lancar ya?" ucap Dio
"Oh ya ya, semoga lancar nak Dio" jawab bi marni.
Begitulah perbincangan antara seorang Dio dan bi Marni. pembicaraan candaan yang buat Dio sedikit melupakan kesedihannya berpisah dari seorang Aimi.
Setelah asyik ngopi di bu Marni, Dio langsung pulang karena hendak mengabarkan kepada orang tuanya bahwa dia sudah diterima di tempat kerja yang sejak dulu diinginkan olehnya.
Saat perjalanan pulang, tak sengaja Dio melewati butik milik Aimi, dan terlihat mobil Aimi terparkir di sana.
Karena tak ingin kehilangan kesempatan ini, Dio langsung mampir di butik milik Aimi.
Terlihat suasana halaman butik yang rapi dan bersih.
"Permisi, apakah saya bisa bertemu dengan nona Aimi?" tanya Dio kepada petugas butik
Pegawai Butik mengamati wajah Dio dari atas hingga bawah. Tampak wajah Dio tak asing bagi mereka.
"Ya, benar"
"Saya ingin menanyakan progres baju yang saya pesan" ucap Dio basa-basi
"Oh ya, tunggu sebentar" jawab pelayan butik
Akhirnya pelayan butik pergi ke dalam ruang kerja Aimi dan memanggilnya.
"Nyonya Aimi, maaf mengganggu waktunya" panggil karyawan Butik memanggil Aimi
"Masuk dah"
"Ada apa?" tanya Aimi kepada karyawan butiknya.
"Ada yang mencari Nyonya"
"Siapa?" tanya Aimi penasaran
"Tuan Dio, yang kemarin memesan baju pertunangan dengan kekasihnya" ucap pelayan butiknya.
"Oh Dio, suruh dia masuk ke dalam" ucap Aimi seakan Dio hanyalah pelanggannya saja, dan bukan teman spesial.
Wajah Aimi rupanya bisa menutupi segala tingkah lakunya di hadapan karyawannya.
"Tuan Dio, silahkan masuk ke dalam"
__ADS_1
"Nyonya Aimi meminta anda masuk ke dalam ruangan pribadinya" ucap karyawan yang tadi memanggil Aimi.
Dio pun mulai masuk ke dalam ruangan pribadi Aimi dan tampak Aimi sudah menunggunya di dalam.
"Kak, Aimi, maaf aku menemuimu lagi"
"Aku gak kuat menahan rasa yang dulu kak" ucap Dio tanpa malu-malu lagi
Aimi melihat Dio dengan tatapan sedikit tenang. Dia tak mau karyawan melihat dirinya terlalu baper saat bertemu Dio.
"Dio, jaga bicaramu dan pelan-pelan" ucap Aimi berusaha menekan Dio
"Ya, kak"
"Kak Aimi, bolehkah aku sekedar kangen sama kamu?" Dio mulai berusaha merayi Aimi lagi
Aimi menggeleng-gelengkan kepala atas apa yang diucapkan Dio baru saja
"Sejak dulu sampai sekarang, kamu terus saja begitu Dio" jawab Aimi ketus.
Tak sengaja, baju Aimi tersingkap ke bawah dan dada Aimi terlihat. Tampak bekas sayatan merah ada di sana dan Dio pun melihatnya.
"Kak, kenapa dadamu merah seperti terluka?"
"Apa kamu dipukul oleh suamimu?" tanya Dio penasaran
Aimi yang mulai sadar dengan hal itu berusaha menutupi bekas lukanya itu
Aimi pun menjawab
"Sudahlah Dio"
"Ini hanyalah luka kecil, kau tak perlu menghiraukan nya" jawab Aimi singkat
"Kau juga tahu bahwa suamiku juga dokter"
"Dia pasti tahu obat apa yang cocok untukku" ucap Aimi berusaha mengalihkan pembicaraannya dengan Dio.
"Tidak kak"
"Itu serius"
"Aku tak ingin kau terluka sedikit saja" ucap Dio berusaha mendekat ke arah Aimi dengan tujuan ingin melihat lebih jelas luka yang Aimi alami.
"Sudah Dio, aku tidak enak jika karyawan ku melihat mu membuka dadaku"
"Apa yang kamu inginkan?"
"Akan buat luka aku ini sembuh sekarang juga?"
"Tidak kan?" ucap Aimi semakin naik darah
Air Mata Aimi mulai sedikit keluar melihat perhatian Dio yang sangat berlebihan kepadanya.
Dia tak ingin perhatian itu membuatnya semakin bergantung pada Dio lagi.
__ADS_1
Aimi teringat dimasa lalu, Dio lah yang selalu menjaga nya, disaat Aimi patah hati, Dio lah tempat dia bersandar