
Indah sudah berdandan cantik hari ini. Sementara itu, Beni dan Sita juga turut diundang untuk menghadiri acara pernikaham antara Dio dan Indah. Mereka berdua berada di sudut ruangan menyaksikan hari bahagia yang dijalani oleh Dio dan Indah.
Penghulu juga sudah hadir. Keluarga Dio dan Indah berada di tempat itu untuk menemani Dio dan Indah dalam melaksanakan acara ijab qabul.
Penghulu memimpin pernikahan dengan membimbing Alex untuk mengucapkan janji suci.
"Saya terima nikah dan kawinnya Indah binti pak Sunaryo dengan mas kawin cincin emas seberat 5 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai" Ucap penghulu.
Dio mengikuti apa yang diucapkan penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Aim est... Indah binti pak Sunaryo dengan mas kawin cincin emas seberat 3
5 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai" Ucap Dio gugup
Tampak nya Dio salah mengucapkan kata-katanya. Dia menyebut nama Aim yang sebenarnya adalah Aimi wanita yang sekarang entah ada di mana, tapi selalu ada dalam pikirannya.
"Bagaimana para saksi sah"? Tanya penghulu kepada para saksi pernikahan Indah dan Dio
"Belum sah, ayo diulang lagi karena nak Dio kurang konsentrasi dalam penyebutan nama Indah" ucap orang tua Indah pada penghulu yang memimpin acara pernikahan itu.
"Baiklah, kita ulangi lagi"
Penghulu pun mengulangi lagi dan memberi arahan pada Dio agar Dio mengikuti setiap kata yang diucapkan olehnya
"Bagaimana para saksi sah"? Tanya penghulu kepada para saksi pernikahan Indah dan Dio
"Sah" Ucap semua saksi yang menghadiri acara pernikahan itu.
Akhirnya pernikahan Dio dan Indah sah di mata agama, maupun hukum Indonesia. Indah sedikit lega mendengar nya karena dirinya sekarang telah berubah nama menjadi Nyonya Dio.
Hari ini Indah telah resmi menjadi nyonya Dio dan harus siap menjadi istri Dio dan menemani Dio suka maupun duka.
Dio mencium kening Indah begitupun Indah mencium kening Dio. Suasana pernikahan Dio sederhana namun meriah di hati semua orang yang hadir.
Setelah selesai acara pernikahan, seluruh rekan kerja Dio termasuk Beni mengucapkan selamat pada kedua mempelai.
"Selamat ya pak Dio, pernikahannya semoga langgeng" ucap agnes dengan senyum genitnya. Matanya mulai memandang Dio dengan tatapan liar.
"Dokter Dio, aku masih menyimpan semua rahasia tentang mu"
"Entah kapan aku akan mengungkap nya" Agnes membatin dalam hati tentang rencana busuk nya pada Dio.
"Iya Agnes, terimakasih" jawab Dio sedikit tersenyum
"Kapan kamu menyusul kami"? Tanya Indah pada Agnes
"Gampang Bu Indah, aku masih muda, tidak memikirkan tentang pernikahan dulu" ucap agnes pendek.
Memang, usia Agnes masih sangat muda. Saat ini Agnes masih berusia 22 tahun dan masih belum memikirkan pernikahan.
Semakin lama, Tamu undangan yang menghadiri pernikahan Dio pulang ke rumah masing masing. Keluarga besar Indah meminta izin untuk segera pulang ke kota mereka, dan Indah tetap bersama Dio. Sepertinya Indah akan ikut tinggal di kota Dio, dan menetap di sana.
"Dio ayo kita pergi bulan madu", Ucap Indah kepada Dio yang saat itu duduk di kursi pengantin
__ADS_1
"Indah, kita mau bulan madu dimana?" tanya Dio sambil sedikit kesal.
"Bagaimana kalau Kita bulan madu ke Bali saja ya" Ucap Indah memberikan sebuah ide pada Dio.
"Jangan Indah"
"Bukankah kita sudah pernah ke Bali?"
"Aku bosan berlibur ke Bali"
"Bagaimana kalau kita bulan madu ke luar negeri saja?" ucap Dio memberikan ide nya sendiri
Tanpa berpikir panjang, Indah menyetujui rencana Dio.
"Baiklah kalau begitu"
"Aku ikut aja apa katamu"
"Emang kita akan pergi ke negara mana Dio?" tanya Indah penasaran
"Kita ke Korea saja"
"Di sana, kebetulan ada teman ku se profesi yang bekerja di sana"
"Sekalian aku ingin bertemu dengan nya" ujar Dio pada Indah.
"Siapa namanya?" tanya Indah penasaran
"Yaudah"
"Aku setuju saja" jawab Indah pada Dio.
Rencana mereka akan pergi berbulan madu dua hari lagi, karena Indah harus mempersiapkan semua barang yang akan dibawa ke sana sebagai bekal.
Malam pertama
Saat itu, Dio terlihat lelah, begitu juga dengan Indah.
"Dio, kau gak mau Mandi?"
"Bersihkan tubuh mu dulu"
"Jadi kau bisa tidur dengan nyenyak sebentar lagi" ucap Indah
"Ya Indah, aku mau mandi dulu" jawab Dio pendek.
Dio pun segera mandi membersihkan tubuhnya.
Sambil mandi, Dio mulai membayangkan sosok Aimi yang saat ini entah berada dimana
"Kak, entah apa yang aku lakukan dengan Indah sebentar lagi"
"Aku tak ingin melakukan nya dengan wanita lain sebelum aku melakukan dengan mu" guman Dio dalam hati
__ADS_1
Hati Dio seakan telah mati jika dengan wanita lain
Selesai mandi, Dio segera mengambil handuk, sementara itu Indah segera mandi juga.
Dio mulai melihat wajah asli Indah yang biasa saja, ketik tidak memakai make up. Hal itu sangat berbeda sekali dengan wajah Aimi yang tetap cantik walau tak memakai make up sekalipun.
Mata Dio terpejam di kamar itu. Hari itu Dio tak berhasrat pada Indah istrinya. Dirinya pura-pura tidur agar Indah tak meminta lebih darinya
Hati dan raga Dio hanya untuk Aimi seorang kala itu. Lambat laun Dio tertidur. Sementara itu tampak Indah yang baru selesai mandi melihat Dio yang sudah terlelap tidur.
"Dio, kamu terlihat sangat lelah" gumam Indah dalam hati
Indah segera menghampiri Dio dan mulai mencium kening Dio dengan sangat lembut.
"Dio, aku sangat mencintaimu" Indah terus melihat wajah Dio yang terlihat makin tampan saat dia tertidur.
Saat Indah mencium kening Dio untuk kedua kalinya, Dio mulai terbangun dan masih dalam setengah sadar.
"Kak Aimi?"
"Kau kah itu?"
"Kau mencium ku?" tanya Dio sambil mengingau
"Hah, Aimi?"
"Bukankah Aimi adalah istri Beni yang telah hilang itu?" gumam Indah dalam hati
Hati Indah sangat terpukul mendengar yang dipanggil Dio adalah wanita lain dan wanita itu juga sangat mengenalnya dengan baik.
"Ada apa dengan mu Dio?"
"Apakah kau mempunyai hubungan khusus dengan Aimi tanpa aku ketahui sebelumnya?"
"Rupanya, kau diam-diam telah menyakitiku Dio"
"Kau jahat" gumam Indah
Tak terasa, air mata Indah mulai menetes tak tertahankan. Dirinya merasa ditipu oleh sosok Dio yang menurut nya sangat mencintai nya itu
"Kalau tahu akan seperti ini, aku tak akan menikah dengan mu Dio"
"Sekarang, aku terlanjur menikah dengan mu"
"Apa yang harus aku katakan pada ayah ibuku?"
"Apakah aku harus menutupi semua ini?"
"Ah, entahlah"
"Aku tak bisa berpikir lagi"
Indah akhirnya tidur di kursi. Dirinya merasa tak terima dengan hal ini. Hatinya masih sakit
__ADS_1