
"Hah?"
"Mengapa kau tak jujur padaku sejak awal Hana?"
"Lihatlah sekarang"
"Sita mengaku hamil dan dia mempunyai bukti-bukti yang kuat" ujar Beni dengan nada jengkel
"Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu kelahiran bayi yang tidak jelas itu" ucap Beni sambil memandang sinis ke arah Hana
"Jika nanti, aku membutuhkan mu, kau harus datang Hana"
"Hanya kau saksi mata atas kejadian ini" ucap Beni pada Hana.
Hana pun mengangguk saja menanggapi setiap ucapan yang dilontarkan oleh Beni. Setelah Beni puas mendengarkan keterangan Hana, Beni langsung melemparkan uang ratusan ribu sebanyak 100 lembar.
"Hana, ini uang untuk mu"
"Pakailah"
"Mulai sekarang, kau selalu aku pantau" ucap Beni sambil meninggalkan Hana yang masih saja bengong melihat uang ratusan ribu yang dibuang sia-sia dihadapannya.
Setelah kepergian Beni, Hana segera memungut uang ratusan ribu itu dan meletakkan nya di kantong celananya.
"Sayang sekali uang ini kalau tidak diambil"
"Mubazir" gumam Hana santai
Sementara itu, Beni dengan muka masam segera menyetir mobil nya dan kembali pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Beni berusaha tak membicarakan pada Sita terlebih dahulu karena dirinya tak ingin Sita menyusun rencana baru yang lebih licik lagi.
Beni menjalani sesuai alur yang dibuat oleh Sita.
"Lebig baik, aku diam saja sekarang"
"Aku akan merencanakan suatu hal yang membuat Sita hilang selamanya di muka bumi ini" gumam Beni dalam hati.
Entah apa yang ada di kepala Beni kala itu. Saat menyetir mobil, Beni mulai membuka ponsel nya. Seseorang yang pertama kali dia hubungi setelah dia menemui Hana adalah Rudi.
"Halo Rudi"
"Aku membutuhkan kamu sekarang"
"Aku ingin kita bertemu empat mata di rumah makan amel" ucap Beni pasa Rudi
"Oh, ya tuan Beni"
"Setengah jam lagi, aku udah ada di sana"
"Aku tunggu kedatangan mu" ucap Beni
"Baiklah tuan Beni" jawab Rudi pendek
Beni segera menutup teleponnya begitu juga dengan Rudi.
Rudi yang baru saja mendapatkan panggilan mendadak dari Beni merasa heran. Biasanya jika Beni membutuhkan bantuannya, Beni cukup membicarakan hal itu lewat telepon saja. Namun kali ini sangat berbeda.
"Aneh"
__ADS_1
"Tuan Beni biasanya meminta bantuan ku hanya lewat telepon saja"
"Tapi, mengapa sampai dia mengajakku bertemu empat mata?"
"Sepertinya ada hal yang sangat penting hingga dia menghindari pembicaraan lewat telepon" gumam Rudi dalam hati.
Tanpa berpikir panjang lagi, Rudi segera bersiap menemui Beni. Sebelum berangkat menemui Beni, Rudi pamit pada istrinya terlebih dahulu.
"Dik, aku keluar sebentar ya?"
"Aku dipanggil oleh tuan Beni" ujar Rudi pada Istrinya
"Ya mas"
"Hati-hati ya"
"Cepat pulang kalau urusanmu sudah beres" jawab istrinya singkat
Ruri mengangguk menanggapi permintaan istrinya. Setelah meminta ijin pada istrinya, Rudi segera tancap gas pergi menemui Beni.
Tak menunggu waktu lama, Rudi akhirnya telah sampai di rumah makan amel, sebuah rumah makan yang laris manis di kota baru.
Rudi mulai masuk ke dalam rumah makan itu dan mencoba mencari keberadaan Beni.
Setelah beberapa menit melakukan pencarian terhadap Beni, Terlihat Beni sudah menunggu dirinya di meja nomor 5
"Yah, tuan Beni sudah datang duluan rupanya"
"Aku harus segera menemuinya"
__ADS_1
"Aku tak mau dia mengomel karena keterlambatanku" gumam Rudi dalam hati.