
"Gimana Indah?"
"Kau pasti bisa memberikan nya untuk ibu" ucap ibu Dio sambil memeluk tubuh Indah
"Ehm, iya ibu"
"Aku akan memberikan nya untuk ibu" jawab Indah berbohong
Mendengar jawaban dari Indah, hati ibu Dio mulai lega
"Yaudah, sekarang kalian masuklah ke dalam"
"Ibu sudah memasakkan makanan enak untuk kalian" ucap ibu Dio pada Indah dan Dio.
Dio dan Indah akhirnya ikut masuk ke dalam rumah untuk menikmati masakan ibu Dio.
Saar mereka menikah, Dio dan Indah tinggal bersama mertua mereka. Dio tak pernah mau diajak Indah untuk mandiri dan membeli rumah sendiri.
Rupanya, Dio bersikap demikian karena jika Dio memiliki rumah sendiri, Dirinya setiap hari akan mendapat omelan dari Indah mengenai tabiatnya yang mudah berubah.
Sedangkan jika bersama ibunya, Dio sedikit terlindungo dari omelan Indah karena pastinya Indah bisa sedikit mengontrol emosinya itu.
Selesai makan, Dio terlebih dahulu masuk ke dalam kamar nya. Sambil rebahan, Dio mulai memikirkan gairah nya pada Aimi yang sudah terlampiaskan.
"Kak, tunggu aku di sana"
"Aku akan datang lagi"
"Pasti, mas Beni sekarang masih mencari keberadaan mu"
"Tapi biarlah"
__ADS_1
"Akan lebih baik jika kau tak perlu bertemu dengan mas Beni lagi" gumam Dio dalam hati.
Saat memikirkan Aimi, tampak Indah masuk ke dalam kamar mereka.
"Wah, Dio, kau mau tidur?"
"Kau ingat apa kata ibumu?"
"Dia menginginkan cucu dari kita"
"Sedangkan kau belum pernah menyentuhku sama sekali" ujar Indah pada Dio
Dio terkejut mendengar ucapan Indah yang sangat sensitif.
"Berani sekali dia"
"Dia meminta ku untuk bercinta dengannya?"
"Betapa murahan sekali dia" gumam Dio dalam hati
"Indah, aku belum siap melakukannya"
"Nanti, jika aku telah siap, aku akan melakukan nya dengan mu"
"Biarkan aku tidur" ucap Dio pada Indah
Indah dengan kesal akhirnya tidur di samping Dio, tanpa mendapat sentuhan hangat dari Dio
"Yah, aku harus sabar"
"Ketika aku telah memilih menikah dengan Dio, aku harus segera menerima konsekuensi nya"
__ADS_1
"Aku tak boleh marah padanya"
"Mungkin saja dia belum siap" gumam Indah dalam hati
Akhirnya mereka berdua pun tertidur tanpa kehangatan layaknya suami istri yang baru menikah.
Di tempat lain, Beni tidur dengan kesendiriannya. Bayangan Aimi tetap ada hingga dirinya berusaha mencari Aimi ke seorang paranormal yang berada di luar kota
"Kalau seperti ini, Aimi tak mungkin bisa ditemukan"
"Aku harus mencari nya melalui bantuan supranatural juga" gumam Beni
Beni pun mulai tertidur deegan segala kenangannya bersama Aimi
Keesokan harinya, di rumah sakit tempat Beni bekerja
Beni berjalan gontai diikuti oleh beberapa perawat yang mendampingi nya saat melakukan visite pasien.
"Dokter Beni, gimana kabar istrinya?"
"Apakah sudah ditemukan?" tanya salah satu perawat yang mendampinginya visite
"Belum"
"Aku belum bisa menemukannya" jawab Beni singkat
"Oh ya, besok, aku akan mengosongkan jadwal ku"
"Aku meminta dokter Amel yang menggantikan ku sementara untuk memeriksa pasien" ujar Beni pada salah satu perawat kepercayaan nya
"Baiklah dokter Beni"
__ADS_1
"Nanti, saya akan menyampaikan hal ini kepada dokter Amel" ucap perawat kepercayaan Beni.
Di tempat lain, yaitu di ruang administrasi, tampak Sita sedang mengetik sesuatu berkas rumah sakit. Dia memikirkan bagaimana cara untuk secepatnya mendapatkan Beni sebelum Beni menemukan Aimi.