
"Hallo Dio, gimana kabarmu"
"Kamu kok jarang menelepon ku sih"
"Apa kamu sangat sibuk?" tanya Indah berusaha menggali lagi apa jawaban Dio untuknya.
"Ehm, ya gak apa-apa Indah"
"Aku emang selalu sibuk"
"Banyak sekali yang kontrol kandungan kepadaku" ucap Dio dengan seribu alasannya
"Yaudah Dio, aku memakluminya"
"Oh ya, minggu depan aku dan orang tuaku mau ke rumahmu ya?"
"Kita sambil melihat baju desain pertunangan kita apakah sudah jadi atau belum"
"Apakah kamu sudah menghubungi pihak butik?" tanya Indah penasaran
"Ehm, belum Indah"
"Nanti malam, aku akan hubungi pihak butik ya?"
"Indah, apakah kamu benar-benar telah memilihku menjadi suamimu?" Dio mulai bertanya pada Indah karena dirinya sendiri juga mulai ragu pada Indah
"Ehm, ya iyalah"
"Kamu nih ada-ada saja pertanyaan nya Dio"
"Cari pertanyaan lain yang berbobot gitu loh" ucap Indah pendek
"Iya Indah"
"Maaf, aku hanya ingin tahu aja" jawab Dio
"Yaudah lah"
"Pokoknya minggu depan aku akan pergi ke rumahmu ya?"
"Salam ama ayah dan ibu kamu"
"Aku sayang kamu"
"Muach" kecupan lewat telepon mulai diberikan oleh Indah pada Dio.
"Oh yaw Indah, muach juga" jawab Dio.
Dio pun mulai menutup teleponnya begitu juga dengan Indah.
Selesai menelepon Indah, Dio tiduran dalam kamarnya. Pikirannya menerawang ke mana-mana. Dirinya tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Indah.
Dia tak ingin Indah tersakiti. Disisi lain dia juga ingin melindungi Aimi sepenuhnya
"Yah, biarlah berjalan sesuai alur"
"Aku akan menjalani dengan Indah maupun Aimi"
"Nanti jika waktunya telah tepat, aku akan mengatakan semuanya" gumam Dio dalam hati.
Dio mulai tertidur menikmati mimpi nya malam itu. Dalam tidur nya rupanya dio telah bermimpi. Mimpi yang sangat buruk
Mimpi Dio
Dalam mimpi, Dio berlari bersama Aimi. Ada sosok hitam besar yang mengejar Aimi.
"Kak Aimi, ayo ikut aku"
"Kesini kak"
"Kita sembunyi disini" ajak Dio
__ADS_1
Peluh Aimi bercucuran dan mata Aimi berurai air mata karena ketakutan melihat sosok tinggi besar dan hitam.
Entah siapa sosok hitak besar itu. Dalam mimpi, seperti sosok hantu yang menakutkan.
Dio mulai memeluk Aimi. Muncul dentuman yang sangat keras seperti petasan.
"Tutup telinga kak" ucap Dio..
Aimi menutup telinga nya dan Dio juga menutup nya.
Tiba-tiba terdengar suara jam beker yang tepat berada di telinga Dio dan jam beker itu menunjukkan pukul 05.00 pagi...
"Ahhhh"
Mata Dio mulai terbuka
Keringat Dio menetes
"Wah sial sekali"
"Ternyata suara keras itu hanyalah jam beker ku" ucap Dio sambil melempar jam beker nya ke kasur
Dio mulai bangun dan mencuci mukanya. Ibu Dio yang saat itu sedang memasak menanyakan mengapa wajah Dio terlihat pucat seperti ketakutan
"Nak, ada apa dengan wajahmu?"
"Kok pucat?"
"Kamu mimpi buruk nak?" tanya ibu Dio penasaran
"Ya bu"
"Aku hanya mimpi buruk saja"
"Tapi tak penting lah"
"Oh ya bu, hari ini aku ada jadwal operasi sore, jadi aku pulang agak malam ya?" kata Dio meminta ijin pada ibunya
"Ini ibu berikan bekal untuk mu"
"Jangan lupa makan ya?" kata ibu Dio menasehati putra kesayangannya itu
"Siap bu" jawab Dio
Dio pun langsung pergi ke kamar mandi karena dirinya harus berangkat bekerja di rumah sakit mitra medika.
Sementara itu, Aimi mulai pulih dari sakit yang dideritanya. Menstruasi nya juga telah berhenti.
Aimi mulai bisa melakukan aktifitas nya lagi dan rencana hari ini dia akan pergi ke butik untuk meneruskan rancangan baju milik Dio dan calon tunangan nya.
Saat Aimi mulai berdandan hendak berangkat ke butik nya, terlihat Beni mengintip Aimi dari luar. Tampaknya Beni tak terlalu sibuk hari ini.
"Aimi.."panggil Beni
"Ya mas Beni, ada apa?" tanya Aimi pendek
"Aku ingin pergi ke butik mu ya?"
"Aku ingin bersantai di sana bersamamu satu hari ini" ucap Beni pada Aimi
Aimi hanya diam saja mendengar permintaan Beni yang sangat aneh. Tak biasanya Beni ikut ke butik nya.
Beni hanya sesekali ikut ke butik itupun hanya sebentar. Dan hal itu membuat Aimi sedikit kesepian tak ada pendukung di butik.
Tapi, kali ini Beni berbeda dari biasanya. Beni lebih nempel pada Aimi dan hal itu membuat Aimi risih juga.
"Ya, terserah mas Beni kalau mau ikut"
"Hari ini aku sangat sibuk"
"Aku harus membuat desain baju milik Dio dan calon tunangan nya" jawab Aimi
__ADS_1
"hem, Dio akan bertunangan?"
"Baguslah kalau begitu"
"Dia tak akan mengganggumu lagi"
"Kapan-kapan aku akan mengajak mereka makan bersama kita"
"Kita jalan-jalan berempat bersama Dio dan calon tunangan nya"
"Bagaimana?" tanya Beni sambil melihat reaksi Aimi.
"Ya, bolehlah"
"Terserah mas Beni"
"Aku ngikut aja" jawab Aimi
"Baiklah, kalau mau berangkat, kabari aku ya"
"Aku mau mandi dulu"
"Hari ini, aku akan kosongkan semua jadwal ku di rumah sakit putra bangsa"
"Aku akan khususkan pergi ke butik sampai sore" ucap Beni tersenyum puas
Beni merasa tenang ketika Aimi mengatakan Dio akan bertunangan dengan calon tunangan nya. Dirinya tak mengerti, semenjak Beni menyiksa psikis Aimi, disitulah perasaan Aimi telah pupus sedikit demi sedikit
Ditambah, Dio memberikan pupuk dan air untuk menyiram pohon Aimi yang hampir mati.
Di tempat lain,Sita tampaknya menunggu kedatangan Beni.
"Kemana sih Beni kok gak muncul batang hidungnya?"
"Apa aku telepon saja ya?" gumam Sita dalam hati
Sita pun segera membuka ponsel nya dan menelepon Beni
Tampaknya ponsel Beni ada di dalam kamar dan Beni saat itu sedang mandi. Ponsel berdering terus menerus membuat Aimi terganggu.
Aimi akhirnya mendekati ponsel Beni dan mengangkat nya
"Hallo, siapa ini?"
"Mas Beni sedang mandi" ucap Aimi tanpa menanyakan terlebih dahulu siapa yang menelepon ataupun ada keperluan apa menelepon Beni
"Aku Sita, mantan asisten mas Beni"
"Baiklah kalau begitu, nanti aku telpon lagi kalau mas Beni sudah selesai mandi" jawab Sita
Sita pun langsung menutup teleponnya dengan perasaan jengkel.
"Apakah nomor ponsel ku tak diberi nama oleh mas Beni, kok Aimi tak tahu kalau aku menelepon?" gumam Sita dalam hati
"Jika memang benar, mas Beni benar-benar parah banget"
"Lihat saja nanti"
"Aku akan menghancurkan keluargamu Aimi" gumam Sita dalam hati.
Sementara itu, Aimi langsung meletakkan ponsel milik Beni dan asyik berdandan membetulkan make up nya yang masih belepotan.
Tampak Beni selesai melaksanakan ritual mandi nya.
"Aimi, siapa yang menelepon aku?" tanya Beni penasaran
Bersambung
Tunggu episode selanjutnya kawan
bentar lagi akan up lagi
__ADS_1