
Tak terasa, Dio dan Aimi telah sampai di tempat tinggal masing-masing. Tampak Indah tertidur pulas di kasur hotel.
Dengan mengendap-endap, Dio mulai tidur di samping Indah dan berusaha seminimal mungkin tak menimbulkan suara keras supaya Indah tidak bangun dari tidurnya.
"Dio, kau dari mana saja?" tanya Indah.
Tampak nya Indah sudah terbangun dari tadi dan Dio tak menyadari nya.
Oh, kau sudah bangun rupanya"
"Maaf Indah, barusan aku keluar hotel untuk mencari udara segar" ucap Dio berusaha menutupi rasa tegang nya karena sudah berbohong pada Indah.
"Ehm, apakah kau tak berbohong Dio?"
"Kau pergi meninggalkan ku sejak jam 11 malam tadi"
"Dan sekarang, jam 5 pagi kau baru pulang" ucap Indah ketus
Dio berusaha tenang agar Indah tak curiga dengan tingkah nya.
Dengan sedikit menahan amarahnya, Dio berkata
"Indah, aku sudah tak sanggup menikah dengan mu" ucap Dio tiba-tiba
Indah terkejut mendengar ucapan Dio yang memutuskan nya sepihak
"Dio, apa benar yang kau katakan padaku?"
"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Indah pada Dio
Indah yang semula tidur santai di kasur hotel langsung bangun saat itu juga. Wajah Indah memerah menahan rasa marah yang tak terbendung.
__ADS_1
"Ya, kau tak salah dengar"
"Aku sudah bosan mendengar ocehan mu yang tak jelas"
"Semakin lama, kau semakin membosan kan saja" ujar Dio mencoba menahan diri untuk tetap tenang.
"Baiklah Dio"
"Aku akan diam"
"Aku tidak akan mengusik kamu lagi"
"Tapi, aku tak ingin bercerai"
"Aku tak mau pisah dengan kamu Dio" ucap Indah sambil berurai air mata.
Entah mengapa Indah semakin lama semakin tak ingin berpisah dengan Dio. Walaupun Dio belum pernah memberikan nafkah batin kepadanya, Indah tetap saja menunggu sampai Dio bisa luluh kepadanya.
"Yaudah Indah"
"Lebih baik, kau bersiap-siap mandi"
"Jam delapan pagi, kita pergi ke tempat hiburan yang ada di korea"
"Maafkan aku yang telah kasar kepadamu"
"Intinya, jangan memarahiku dengan kata-kata yang tak jelas"
"Aku tak suka wanita cerewet" ucap Dio
Dio pun segera merebahkan tubuh nya ke kasur. Wajah lelah terlihat di raut wajah nya yang tampan.
__ADS_1
Pikiran nya melayang memikirkan pertempuran nya dengan Aimi yang baru daja dia lakukan.
"Ternyata, itu keindaham dunia yang belum pernah aku rasakan"
"Dan sekarang, aku sudah merasakannya dengan kak Aimi"
"Terimakasih kak, kau telah memberikan hal lebih kepadaku" gumam Dio dalam hati.
Dio mulai tertidur di kasur hotel tempat dia menginap.
Indah melihat Dio yang saat itu tertidur lelap di samping nya.
"Dio, apa yang telah kau lakukan malam tadi, hingga kau terlihat lelah seperti ini?"
"Sekarang waktu sudah pagi"
"Tapi, kamu tidur lagi" gumam Indah miris
Indah langsung menuju ke kamar mandi untuk menghilangkan pikiran nya yang suntuk.
Sementara itu, di rumah Aldi, Aimi sedikit menyesal karena telah memberikan semuanya pada Dio
"Apa yang aku lakukan dengam Dio?"
"Semua mengalir begitu saja"
"Dia telah menikmati tubuh ku dengan gratis"
"Apakah aku memang berjodoh dengan Dio?" gumam Aimi dengam raut wajah penuh sesal.
Untuk menghibur diri sendiri, Aimi segera pergi ke dapur untuk memasak, karena Aldi akan pulang pagi ini.
__ADS_1
Walau badannya lelah karena sudah bertempur di ranjang dengam Dio, Aimi berusaha seprofesional mungkin dalam bekerja. Dia tak ingin Aldi kecewa dengan kinerjanya.