
Setelah meluapkan hasrat nya, Aimi tampak semakin kelelahan. Dia merebahkan tubuh nya di dada Beni yang bidang. Saat Aimi merebahkan tubuh nya, Beni tersenyum puas. Sejenak dirinya melupakan kecemburuan nya terhadap Dio, sang kekasih gelap Aimi yang sampai sekarang masih membuat Beni penasaran tentang hubungan mereka.
Beni mulai mencium kening Aimi dan mereka tampak sangat lelah karena dua ronde telah dilewati oleh mereka.
Beni dan Aimi tertidur sampai pagi. Hingga saat nya pagi menjelang dan mereka berdua tampaknya bangun kesiangan karena kelelahan akibat melakukan pertempuran itu.
Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Aimi dan Beni sama-sama terbangun dari tidur mereka.
"Aimi, kau udah bangun?" tanya Beni sambil melihat wajah istrinya yang tampak cantik walau dia baru bangun tidur.
"Ya mas, aku ingin pergi ke butik" Aku ingin bekerja lagi di sana" ucap Aimi pada Beni
"Aimi, kau jangan bekerja dulu" Semenjak kau diculik, butik mu aku tutup sementara sampai waktu yang tidak ditentukan" Semua karyawan mu juga sudah aku beri pesangon" Lebih baik seminggu lagi saja bukanya" Sekarang, nikmatilah istirahat mu di rumah saja" ucap Beni pada Aimi
"Hem, iyadah mas" Aku nurut aja" jawab Aimi singkat. Aimi mulai malas berdebat dengan Beni karena sikap Beni yang selalu berubah-ubah.
__ADS_1
Melihat Aimi yang mulai luluh dengan nya, Beni pun langsung menuju ke kamar mandi dengan perasaan puas. Dirinya hendak bekerja hari ini. Banyak pasien yang pastinya menunggu kedatangannya.
Selesai melaksanakan ritual mandinya, Beni langsung berangkat menuju Rumah Sakot Harapan bangsa. Dirinya sangat senang hari itu.
Sampai di pintu lobi, dia melihat Sita dan perut nya yang makin membuncit.
"Loh, kau Sita?" tanya Beni dengan perasaan terkejut.
"Mengapa Sita masih saja ada di sini?" apa dia akan meminta pertanggungjawaban ku?" gumam Beni dalam hati.
Sita yang saat itu melihat gelagat Beni langsung berdiri dan membisikkan sesuatu di telinga Beni.
Beni makin terkejut mendengar perkataan Sita yang sangat mendadak itu.
"Apa?" Sita berubah pikiran dengan sangat cepat?" gumam Beni terkejut dengan perubahan sikap Sita kepadanya. Namun, agar tak terlihat mencolok, Beni menganggukkan kepalanya dengan sejuta pertanyaan dalam hatinya.
__ADS_1
Beni pun akhirmya melangkahkan kakinya tanpa menoleh ke arah Sita lagi.
Sementara itu, Dio yang saat itu masih memikirkan Aimi langsung pergi menuju Rumah sakit tempat nya bekerja tanpa ijin pada Indah. Biasanya sebelum berangkat kerja, Dio meminta ijin pada Indah.
"Dio, kenapa kau langsung pergi begitu saja?" gumam Indah sambil melihat mobil Dio yang saat itu langsung berangkat keluar dari pintu gerbang nya.
Indah pun dengan langkah lemah lesu masuk kembali ke dalam rumahnya. Saat indah terduduk di kamar, Indah merasakan nyeri perut yang hebat.
"Kenapa dengan perutku?" kok sakit?" gumam Indah dalam hati.
Ibu dio yang saat itu berada di ruang tamu melihat Indah yang terlihat kesakitan langsung mendekati menantunya itu.
"Ada apa nak?" tanya ibu Dio
"Ehm, gak apa apa bu, perut ku rasanya sakit sekali" ujar Indah pada ibu Dio
__ADS_1
"Loh, sakit?" ayo ibu antar ke rumah sakit saja" Mumpung ada Dio di sana" ucap ibu Dio pada Indah
Indah pun mengangguk kan kepalanya.