Selingkuh Dengan Mantan Brondongku

Selingkuh Dengan Mantan Brondongku
Salah tingkah


__ADS_3

Beni pun melihat ponsel nya karena Aimi tak menjawab nya sepatah katapun.


Saat melihat ponsel nya, Beni mengetahui kalau yang menelepon nya adalah Sita.


"Yah, Sita"


"Ngapain dia telpon aku pagi-pagi" gumam Beni dalam hati.


Aimi hanya melirik Beni, dan mulai berdandan lagi. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


"Aimi, ayo kita berangkat sekarang"


"Aku sudah selesai nih" ucap Beni berusaha merayu Aimi


"Ya, ayo mas" jawab Aimi pendek.


Mereka pun akhirnya berangkat menuju ke butik mereka.


Tak ada percakapan antara mereka berdua dan hal itu membuat Beni semakin gerah saja namun ditahannya


Hingga akhirnya mereka berdua telah sampai ke butik.


"Pagi nyonya Aimi"


"Pagi tuan Beni" ucap Ririn


Tampaknya karyawan Aimi mulai menyapa mereka berdua.


Beni hanya tersenyum menanggapinya dan akhirnya mereka berdua masuk ke dalam bjtik milik Aimi.


Beni mulai berjalan melihat beragam pakaian hasil rancangan Aimi.


"Istriku pintar juga merancang pakaian"


Beni mulai melirik ke arah Aimi. Tampak Aimi hanya diam saja tanpa sepatah katapun terucap di mulutnya. Hingga Beni tak tahan juga


"Aimi, mengapa kau diam saja?"


"Apa kau masih jengkel kepadaku?" tanya Beni penasaran


"Ya mas"


"Jujur, aku ingin cerai dengan mu" ucap Aimi sekenanya.


"Apa kamu bilang?"


"Cerai?"


Beni mulai memegang erat tangan Aimi hingga Aimi kesakitan


"Lepaskan mas, sakit" rintih Aimi menahan kesakitan


"Tidak"


"Aku tidak akan menceraikan mu"


"Ingat itu" jawab Beni dengan tatapan penuh ketidakrelaan.


"Kenapa mas?"


"Kenapa kau tak melepaskanku begitu saja?"


"Bukankah kau terus menyiksa batin ku hingga aku seperti sekarang ini?"


"Aku tak tahan mas hidup bersamamu yang selalu menyiksa aku" kata Aimi dengan meneteskan air mata.


Beni dengan muka penuh kemarahan menjawab

__ADS_1


"Aimi, sampai kapan pun aku tak akan menceraikan mu"


Dengan penuh paksaan, Beni mulai memeluk Aimi.


Aimi berusaha memberontak namun tangan kuat Beni mencengkeram tubuh Aimi yang kecil itu.


"Kalau mas gak mau ceraikan aku, biarkan aku pulang ke rumah orang tuaku"


"Aku ingin menemui anakku Rico"


"Aku akan menenangkan diri disana dulu" ucap Aimi memberi sebuah pilihan


Beni terdiam sejenak dan berkata


"Ya, kau boleh pulang ke rumah orang tuamu, aku akan mengantar mu"


"Setelah itu, aku akan menjemputmu kembali jika suasana hatimu sedikit mereda"


Begitulah jawaban Beni yang sedikit bijaksana. Mereka pun rukun lagi seperti sedia kala. Tak ada permintaan cerai lagi dari mulut Aimi karena Aimi telah menyerah saat itu


Sementara itu, Karyawan yang ada di kantor begidik ketakutan karena Beni telah berbuat kasar lagi pada Aimi.


"Heh, lihatlah di dalam ruangan"


"Aku gak mendengar mereka sedang berbicara apa"


"Tapi yang aku lihat mereka sedang bertengkar sekarang" ucap Ririn salah satu karyawan butik Aimi kepada teman kerjanya


"Yah, bagaimana?"


"Apakah kita berusaha melerai mereka?" tanya salah satu teman Ririn


"Sudahlah"


"Yang penting pak Beni tak memukul nyonya Aimi, kita tak perlu bergerak"


"Aku kasihan juga dengan nyonya Aimi"


"Suaminya selalu saja kasar kepadanya"


"Apa yang kurang dari dia?"


"Nyonya Aimi juga sangat cantik" ucap Ririn pada teman teman butik nya.


"Ya, itulah kehidupan"


"Harta cukup belum tentu bahagia" jawab karyawan butik yang lain.


Merek semua akhirnya hanya melihat Aimi dan Beni tanpa berusaha ingin tahu lebih banyak lagi.


Sementara itu di rumah sakit kusuma bangsa tempat Beni bekerja, tampak Sita mondar mandir tak tentu arah tujuan. Kerjaannya terbengkalai waktu itu.


"Mas Beni tak masuk hari ini"


"Kemana sih" gumam Sita menggerutu kesal ..


"Dasar sial"


"Cincin yang aku pakai ini masih belum menunjukkan reaksi apapun" gumam Sita sambil melihat cincin merah yang saat itu sedang dipakainya.


Sita mulai menyentuh cincin merahnya dan rupanya hal itu membuat reaksi aneh pada tubuh Aimi yang saat itu sedang bersama Beni.


"Ah, ada apa dengan ku?"


"Badan ku seperti disentuh oleh seseorang" Aimi terus merasakan hal yang tak nyaman pada tubuhnya


Rupanya, pelet gendam sukma menyerang raga Aimi yang saat itu masih lemah. Di hati Aimi ditimbulkan rasa penuh kebencian pada suaminya Beni.

__ADS_1


Foto Aimi dan Beni telah di bungkus rapi di rumah nenek Sita. Foto itu dilapisi beragam bunga tujuh rupa dan dimasukkan ke dalam sebuah kotak kecil.


Selama foto itu ada di dalam, rumah tangga Aimi menjadi tak tenang dan selalu diliputi pertengkaran kecil.


"Kenapa kau?" tanya Beni sambil melihat gelagat Aimi yang sangat aneh


"Gak tau mas"


"Aku seperti mau muntah" jawab Aimi sambil memegang perut nya karena mual.


Lambat laun Aimi tak dapat menahan mual nya. Aimi muntah berkali-kali. Makanan yang dimakan tadi pagi keluar semua.


Tubuh Aimi langsung lemas. Beni yang melihat kejadian itu langsung membopong tubuh Aimi yang sedang tak stabil.


Aimi mulai menenangkan pikirannya dan minum air segelas.


"Gimana?"


"Sudah enakan Aimi?" tanya Beni


"Udah, lepaskan aku"


"Aku sudah enakan" jawab Aimi


Setelah melihat Aimi sudah stabil, Beni segera membersihkan bekas muntahan Aimi sehingga ruangan menjadi bersih kembali.


Di saat yang bersamaan , Dio datang ke butik Aimi tanps melakukan perjanjian terlebih dahulu dengan Aimi.


Sementara itu, karyawan Aimi mulai saling pandang.


"Eh lihatlah"..


"Tuan Dio datang lagi" ucap Ririn sambil mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Dio


"Oh, silahkan tuan Dio masuk"


"Mau mencari Nyonya Aimi?"


"Nyonya Aimi ada di dalam ruangannya"


"Sebentar saya panggil" ucap Ririn


Ririn pun memanggil Aimi yang saat itu masih dalam keadaan sedikit lemas.


"Permisi"


"Nyonya Aimi, dicari tuan Dio" ucap Ririn


Hati Beni tampak nya tak karuan ketika mendengar nama Dio disebut oleh salah satu karyawan nya. Namun rasa itu ditahannya dan berusaha bersikap profesional.


"Ya, suruh dia masuk ke sini" jawab Aimi pendek.


Aimi tak ingin ada kesalahpahaman antara Beni dan Dio. Aimi langsung saja menyuruh Dio masuk walau di dalam ruangannya ada Beni


Aimi ingin menunjukkan pada Beni, bahwa hubungannya dengan Dio hanyalah sebagai penjual dan pelanggan saja


Ketika Dio masuk, tampak Beni dengan muka cemberut melihat nya


"Permisi kak Aimi, mas Beni, aku mau konfirmasi tentang baju desain kakak"


"Minggu depan, aku akan kesini lagi bersama Indah" ucap Dio datar.


Dio berusaha seminimal mungkin tak menunjukkan dirinya sangat khawatir dengan Aimi karena saat Dio masuk ke ruangan Aimi, dia melihat wajah Aimi sedikit pucat.


"Oh ya Dio"


"Desain bajumu sudah hampir jadi"

__ADS_1


"Minggu depan kau bisa melihat bajumu dan mencobanya, mungkin ada yang kurang puas, kau bisa membicarakannya dengan ku" ucap Aimi sambil memandang Dio. Kali ini tatapan Aimi sangat tajam berbeda dari biasanya


__ADS_2