Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Happy Ending


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


(Hehe, maaf part hareudangnya Author skip ya ...)


"Cepatlah, Sayang. Nanti kita terlambat!" ucap Farra kepada Zian yang masih memandangi bayangannya sendiri di depan cermin.


"Tidak akan, Raja tidak akan memulai acaranya tanpa kehadiranku," jawab Zian sambil terkekeh pelan.


Farra mencebikkan bibirnya sembari menatap punggung Zian yang berdiri membelakanginya. "Ish, memangnya kamu siapa hingga merasa begitu pentingnya di mata Raja?"


Lelaki itu tertawa renyah setelah mendengar sahutan Sang Istri yang sudah nampak bosan menunggu dirinya bersiap-siap.


"Hanya sepupu. Namun, percayalah padaku bahwa Raja tidak akan memulai acaranya tanpa kehadiran kita. Tidak percaya? Mari kita buktikan," ucapnya dengan kepercayaan penuh.


Setelah merapikan dasi serta jas mahal yang melekat di tubuhnya, Zian pun berbalik memghadap ke arah Istrinya. Lelaki itu memperhatikan penampilan Farra dengan seksama dan ia mengerutkan alisnya.


"Kenapa kamu cantik sekali, Sayang? Apa tidak sebaiknya kamu ganti saja dress ini dengan dress yang lain, agar penampilanmu tidak terlalu mencolok seperti ini. Aku takutnya Sameera kalah cantik dan orang-orang di sana malah menyangka bahwa kamu adalah calon pengantin wanitanya. Ah, tidak rela aku!" ucap Zian sembari membolak-balik tubuh Farra.


"Apaan sih, Mas. Perasaan ini dress yang paling simple yang ada di dalam lemari pakaianku. Apa kamu ingin aku menggantinya dengan yang lebih hot dan seksi, begitu?" kesal Farra dengan wajah menekuk menatap Zian.


Zian terkekeh pelan. "Maaf, Sayang. Aku hanya tidak ingin kamu menjadi pusat perhatian orang lain karena yang berhak menatapmu hanya aku. Hanya aku ...." Zian meraih bibir berwarna merah terang itu kemudian melumattnya untuk sesaat.


"Mas, nanti malam kita sambung lagi, ya! Tapi, untuk sekarang sudah cukup, nanti kita terlambat." Farra mendorong tubuh besar itu dengan perlahan.


"Baiklah kalau begitu. Tapi, janji! Malam ini kita sambung lagi." Zian meraih tangan Farra kemudian menuntunnya ke halaman depan rumah mereka, di mana lelaki itu memarkirkan mobilnya.


Ternyata Aksa dan Babysitter yang bertugas menjaga Baby Raffa sudah berada di dalam mobil terlebih dulu sembari menunggu kedatangan pasangan tersebut. Bocah tampan itu tersenyum hangat ketika mereka mendekat. "Ayo, kita berangkat Kak Zian!" ajak Aksa yang kini sudah mengubah panggilannya kepada Zian.


"Ayo!" sahut Zian, tak kalah semangatnya.


Setelah memasukkan barang-barang keperluan Baby Raffa ke dalam bagasi, Zian pun segera masuk ke dalam mobilnya kemudian melaju ke kediaman Raja.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, mereka pun tiba di depan kediaman Raja. Terlihat deretan mobil mewah yang sudah terparkir di sana. Farra memperhatikan halaman depan kediaman Raja yang sudah penuh dengan tamu undangan.


"Tuh 'kan, Mas. Tamunya sudah berkumpul semua. Jangan-jangan kita terlambat lagi," ucap Farra.


"Tidak akan." Setelah selesai memarkirkan mobilnya, Zian pun membukakan pintu untuk Farra kemudian menuntunnya memasuki tempat itu. Sedangkan Aksa dan Babysitter serta Baby Raffa mengikuti mereka dari belakang.


Setelah menemukan meja kosong, mereka pun segera duduk di sana sembari menikmati pesta tersebut. Para pelayan berdatangan dengan membawa makanan serta minuman untuk mereka semua dan menggelarnya di atas meja.


"Benar 'kan aku bilang, bahwa Raja tidak akan pernah memulai pestanya tanpa kehadiranku," ucap Zian sambil tersenyum lebar menatap Farra.


"Iya, kamu benar."


Tepat di saat itu, acara pertunangan sekaligus lamaran Raja dan Sameera pun di mulai. Seluruh keluarga besar Tuan Khalid berkumpul di sana dan mereka terlihat sangat senang, terlebih Sang Ayah dari mempelai wanita.


Lelaki paruh baya tersebut terlihat sangat bahagia dan ia tidak mempermasalahkan status Raja selama ini. Selama anak perempuannya bahagia akan pilihannya. Sama halnya Tuan Ameer (Ayah Zian), Tuan Khalid (Ayah Sameera) pun sudah tidak sabar ingin segera menimang seorang cucu.


Setelah beberapa saat, tiba saatnya para tamu undangan menghampiri pasangan yang tengah berbahagia tersebut untuk mengucapkan selamat. Zian dan Farra pun bersiap-siap menghampiri pasangan itu. Setelah meraih Baby Raffa dari pelukan Babysitter, Zian pun siap menuntun Farra.


Namun, baru saja mereka ingin beranjak dari tempat duduk, mata Zian dan Farra tertuju pada Vania yang kini berjalan menghampiri Raja dan Sameera.


"Raja, selamat, ya." Vania tersenyum hangat sembari mengulurkan tangannya kepada Raja dan Sameera.


Raja dan Sameera sempat saling tatap untuk sesaat, tetapi setelah itu mereka pun kembali fokus pada wanita yang tengah berdiri di hadapan mereka.


"Terima kasih, Vania." Raja menyambut uluran tangan mantan istrinya itu sembari membalas senyuman hangatnya.


"Sama-sama, semoga kalian terus bahagia hingga maut memisahkan." Setelah mengucapkan hal itu Vania pun pergi begitu saja.


"Bukankah dia mantan istrimu, Raja?" tanya Sameera sambil menautkan kedua alisnya saat menatap Raja.


"Ya, dan aku tidak tahu siapa yang mengundangnya ke pesta ini." Raja menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

__ADS_1


Setelah Vania pergi, Zian dan Farra pun bergegas menghampiri pasangan itu. "Selamat, Raja." Zian menepuk pelan pundak Raja sambil tersenyum hangat.


"Terima kasih, banyak. Aha, sini sama Ayah! Ayah sangat merindukanmu, Nak." Raja meraih si kecil Raffa dari pelukan Zian kemudian menggendongnya.


Sementara Raja dan Zian bicara, Farra juga malah asik berbincang bersama Sameera.


"Kenapa wajahmu memucat, Farra? Kamu sakit?!" pekik Sameera.


"Hah? Tidak." Farra merasa dirinya baik-baik saja bahkan ketika ia berangkat pun, dirinya baik-baik saja. Ya, walaupun sekarang Farra mulai merasakan ada sedikit rasa pusing.


"Serius! Benar 'kan Raja, Zian?" Sontak kedua lelaki itu pun menoleh dan memperhatikan wajah Farra. Cantik tetapi agak pucat.


"Ya, Sayang, kamu kenapa? Bukankah tadi pagi kamu baik-baik saja?" tanya Zian panik.


"Entahlah, tapi sekarang pun aku masih baik-baik saja," sahut Farra.


"Apa sebaiknya kita pulang saja dan beristirahat?" ucap Zian lagi.


"Ehm, tidak usah. Lebih baik aku istirahat di meja kita saja," elak Farra sembari melangkahkan kakinya. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba saja Farra jatuh pingsan tanpa alasan yang jelas.


Beberapa saat kemudian, Farra pun sadar dan perlahan ia membuka matanya. Farra menatap Zian yang sedang duduk di samping tempat tidur (Tempat tidur di kamar tamu, di kediaman Raja.) dengan mata berkaca-kaca. Bukan hanya Zian, tetapi kedua mertuanya pun sepertinya habis menangis karena bahagia.


"Kalian kenapa?" tanys Farra kebingungan sambil memperhatikan ekspresi semua orang di ruangan itu.


"Farra, aku bahagia sekali! Terima kasih, Farra sayang!" pekik Zian sembari menitikkan air mata haru.


Farra benar-benar kebingungan dan ia tidak tahu kenapa mereka memasang ekspresi wajah seperti itu. "Terima kasih buat apa, Mas?!"


"Terima kasih untuk bayi ini, Farra. Aku sangat mencintaimu," ucap Zian sembari mengelus perut Farra.


Farra membulatkan matanya dengan sempurna. "Ja-jadi?"

__ADS_1


"Ya, Farra! Kamu hamil!" Zian dan Farra pun berpelukan sambil menangis haru.


...\=\=\= THE END \=\=\=...


__ADS_2