
"Vania, kamu dari mana saja?"
Raja menghampiri Vania sambil tersenyum hangat. Keyakinannya akan kehamilan Vania membuat ia melupakan rasa kesal yang ia rasakan akibat penolakan Vania tadi malam. Ia menuntun wanita itu hingga duduk di tepian tempat tidur mewah mereka.
"Aku baru saja dari rumah Tania," sahut Vania yang nampak bingung dengan sikap manis yang ditunjukkan oleh Raja kepadanya hari ini.
"Setelah dari tempat Tania, kamu kemana lagi?" tanya Raja seraya membelai perut rata Vania.
Vania menautkan kedua alisnya sambil menatap heran kepada suaminya itu. "Apa Raja tahu bahwa aku pergi ke tempat praktek Dokter Kandungan setelah dari kediaman Tania? Kalau itu benar, kenapa dia terlihat begitu bahagia?" gumam Vania dalam hati.
"Vania?"
"Huh? Ehm ... Raja, ada yang ingin aku bicarakan padamu."
"Benarkah, apa itu? Sejak tadi aku memang ingin mendengarkan cerita darimu," sahut Raja yang sekarang menatap lekat kedua bola mata Vania.
"Raja, sebenarnya aku ...."
Vania mengembuskan napas panjang kemudian menundukkan kepalanya. Ia bingung bagaimana caranya menceritakan kabar buruk itu kepada Raja.
"Kamu hamil 'kan, Vania?!" pekik Raja sambil tersenyum lebar. "aku sudah tahu itu dan aku sangat bahagia mendengarnya!" lanjutnya seraya mengangkat tubuh Vania dan membawanya berputar-putar.
Mata Vania membulat sempurna setelah mendengar ucapan Raja yang mengatakan bahwa dirinya tengah hamil. Setelah puas membawa Vania berputar-putar bersamanya, Raja pun kembali mendudukkan istrinya itu ke tepian tempat tidur.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Raja? Aku tidak mengerti."
"Sudahlah, Vania. Tidak usah disembunyikan lagi. Aku sudah tahu semuanya, semuanya!" ucap Raja penuh penekanan saat mengatakan kata semuanya. Ia meraih tangan Vania dan mencium punggung tangan wanita itu berkali-kali dengan penuh semangat.
"Raja, aku serius. Aku tidak mengerti apa maksudmu?" sahut Vania yang semakin penasaran.
"Maafkan aku, Vania sayang. Hari ini aku mengutus seseorang untuk mengikuti kegiatanmu. Dia--" Belum habis Raja bercerita, Vania sudah menyela ucapannya.
"Tunggu! Mengikutiku? Tapi, kenapa? Apa kamu mencurigai aku, Raja?!" sela Vania dengan wajah kesal.
"Ya, Vania. Maafkan aku, jujur saja aku curiga padamu setelah kamu menolakku kemarin malam. Aku curiga ada orang lain yang sudah membuatmu berubah sikap padaku. Tapi, ternyata aku salah. Semua itu karena bawaan bayi ini, 'kan?" Lagi-lagi Raja mengelus perut Vania sambil tersenyum lebar.
"Sekarang aku mengerti mengapa Raja bisa beranggapan bahwa aku sedang hamil. Ini pasti karena aku pergi ke tempat Dokter Kandungan itu. Sayangnya Raja tidak tahu apa alasanku yang sebenarnya pergi ke tempat itu. Ya Tuhan, bagaiamana cara menjelaskannya?" gumam Vania dalam hati.
"Sudahlah, Sayang. Sebaiknya kamu istirahat dulu. Aku tau kamu pasti lelah," ucap Raja sembari merebahkan tubuh Vania kemudian menyelimutinya.
"Ya, Tuhan! Apa yang harus aku lakukan setelah ini? Aku akan menjadi wanita yang tidak sempurna dan aku yakin tidak lama lagi Raja akan menceraikan aku karena aku tidak bisa memberinya keturunan," ucap Vania sambil terisak.
Sementara itu,
Raja yang begitu bahagia karena akan segera menjadi seorang Ayah, meminta Bu Eni mempersiapkan pesta syukuran yang sederhana untuk besok hari.
"Jangan sampai lupa, Bu Eni. Persiapkan semuanya. Lagipula ini hanya pesta kecil-kecilan saja dan aku tidak mengundang siapapun. Nah, nanti kalau usia kandungan Vania sudah memasuki bulan ke-4, baru kita adakan pesta besar-besaran," ucap Raja dengan senyuman yang terus mengembang di wajah tampannya.
__ADS_1
"Tentu saja, Tuan. Saya pasti akan mempersiapkannya. Oh ya, saya ingin mengucapkan selamat untuk Tuan dan Nona Vania, semoga Nona Vania dan bayinya sehat selalu hingga lahiran nanti," sahut Bu Eni.
"Ya, terima kasih atas doanya."
Raja pun segera kembali ke kamarnya. Sepeninggal Raja, Bu Eni bergegas menemui Farra yang sudah bersiap-siap kembali ke kamarnya.
"Farra!" panggilnya.
Farra pun menoleh dan tersenyum setelah Bu Eni mendekat padanya. "Ya, Bu Eni."
"Farra, apa kamu sudah tahu bahwa besok Tuan Raja akan mengadakan pesta syukuran sederhana disini?" tanya Bu Eni.
Farra menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, Bu. Pesta untuk apa?"
Bu Eni terdiam sejenak dan setelah itu ia menepuk pundak Farra dengan lembut. "Untuk menyambut kehamilan Nona Vania, Nak."
Farra menyunggingkan sebuah senyuman tipis. "Benarkah? Syukurlah kalau begitu," sahut Farra.
"Apa kamu tidak sedih mendengarnya, Farra?" tanya Bu Eni sambil memperhatikan raut wajah Farra saat itu.
"Tidak, Bu. Malah sebaliknya, aku sangat senang mendengarnya. Aku harap dengan kehadiran bayi itu, Tuan Raja dan Nona Vania akan selalu bahagia. Siapa tahu nanti Tuan Raja bersedia memaafkan semua kesalahanku dan melupakan kebenciannya terhadapku, jawab Farra.
"Hanya itu?" tanya Bu Eni dengan wajah sedih menatap Farra.
__ADS_1
"Ya, hanya itu. Tidak lebih ...."
Bu Eni memeluk Farra dengan erat. "Tuan Raja salah, Farra. Tidak seharusnya ia menaruh dendam padamu. Kamu adalah gadis yang baik, hanya saja matanya sudah dibutakan oleh rasa benci itu."