Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Dokter Kandungan


__ADS_3

Vania tiba di kediaman Tania dan ia sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya sedang dibuntuti oleh seseorang yang tidak lain adalah anak buahnya Ivan.


"Masuklah, Vania." Dengan wajah semringah Tania menyambut kedatangan sahabatnya itu. Ia mempersilakan Vania masuk kemudian duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Kenapa, Van? Wajahmu kok ditekuk begitu? Lagi ada masalah sama Raja, ya?" tanya Tania sambil memperhatikan wajah kusut Vania pagi ini.


"Ya," lirih Vania dan wanita itupun terisak.


Tania menggeser posisi tubuhnya hingga berada di samping Vania kemudian merengkuh pundak sahabatnya itu.


"Hush ... tenanglah, Van. Sebaiknya ceritakan apa masalahmu, siapa tahu dengan begitu masalahmu bisa sedikit berkurang," ucap Tania.


Vania menyeka air matanya kemudian mulai bercerita kepada sahabatnya itu tentang kejadian tadi malam.


"Tadi malam, Raja mengajakku bermain. Disaat dia melakukan itu, areaku terasa semakin sakit, Tan. Aku bahkan tidak tahu kenapa. Aku merasa tidak nyaman dan akhirnya aku memutuskan untuk menyudahi permainannya. Dia sangat marah, bahkan saat dia menanyakan kenapa, aku sama sekali tidak bisa menjawabnya. Dia marah besar dan akhirnya meninggalkan aku sendirian," lirih Vania.


"Kenapa tidak jujur saja sih, Vania? Katakan padanya bahwa milikmu sakit," tanya Tania.


"Aku tidak mau, Tan. Aku takut! Dan aku pun tidak ingin Raja cemas," sahut Vania.


Tania menghembuskan napas berat. "Ya, sudahlah. Oh ya, sebaiknya kita sarapan dulu. Aku yakin kamu pasti belum sarapan, 'kan?" ajak Tania.


Vania pun menganggukkan kepalanya kemudian mengikuti Tania ke ruang makan dan sarapan bersama sahabatnya itu.


Beberapa jam kemudian.

__ADS_1


"Jadi ... bagaimana, Dok?" tanya Vania dengan wajah cemas.


Tania merengkuh pundak Vania dan mencoba menenangkannya. "Tenang ya, Van."


Dokter menatap lekat kedua bola mata Vania dengan raut wajah sendu. Raut wajahnya mengatakan dengan jelas bahwa keadaan Vania tidak sedang baik-baik saja.


"Nona Vania, jika seandainya Anda memeriksakannya lebih awal, mungkin penyakit Anda masih bisa diobati. Anda terlalu lama membiarkan kista di rahim Anda berkembang dan sekarang sudah merujuk menjadi kanker ovarium."


"Apa, Dok? Kanker?!" pekik Vania yang kemudian menangis lirih di pelukan Tania.


Dokter mengangguk pelan dan hal itu membuat Vania bagai patah arang. Tania mengelus punggung Vania dan mencoba memberikan semangat kepada sahabatnya itu.


"Yang sabar ya, Van."


"Masih bisa. Tapi, jalan satu-satunya adalah operasi pengangkatan rahim agar sel kanker yang sudah berkembang tidak menyebar," ucap Dokter.


Vania semakin terisak mendengar jawaban dari Dokter. Operasi pengangkatan rahim, itu artinya ia tidak akan bisa hamil lagi dan menjadi wanita yang tidak sempurna.


"Kamu dengar itu, Tania? Aku akan menjadi wanita mandul dan apa yang akan dilakukan oleh Raja jika ia tahu bahwa aku tidak bisa memberinya seorang anak?!" ucap Vania dengan derai air mata.


Tiba-tiba saja Vania jatuh dari kursinya dan wanita itu tak sadarkan diri di lantai ruang praktek Dokter tersebut. Dokter dan Tania pun segera membantunya kemudian membaringkan tubuh Vania yang tidak sadarkan diri ke atas tempat tidur pasien.


"Mengapa Nona Vania tidak memeriksakan kondisinya sejak awal, padahal ia sudah tahu bahwa ada yang tidak beres pada daerah sensitifnya."


"Dia bilang dia takut, Dok. Padahal aku sudah sering mengajaknya memeriksakan hal itu, tetapi ia selalu menolak dengan alasan ia takut mendengar vonis Dokter," jawab Tania.

__ADS_1


"Sayang sekali." Dokter menggelengkan kepalanya karena tak habis pikir dengan alasan Vania.


Sementara itu di kantor Raja.


"Ya?"


Ivan menerima panggilan dari orang yang ia tugaskan untuk membuntuti kegiatan Vania hari ini. Lelaki itu menceritakan secara detail kemana dan dengan siapa wanita itu menghabiskan waktunya hari ini.


"Benarkah? Tapi, untuk apa dia ke Dokter kandungan?"


"Itulah yang masih belum saya ketahui, Boss. Tidak mungkin 'kan saya masuk dan bertanya langsung kepada Dokter, untuk apa Nona Vania datang ke tempat itu?" jelasnya.


"Ya, sudahlah. Sebaiknya selidiki lagi, biar semuanya jelas," titah Ivan sebelum ia memutuskan panggilan itu.


Raja memperhatikan Ivan dan ia tahu bahwa asistennya itu sedang bicara bersama anak buahnya.


"Bagaimana, apa dia sudah mendapatkan informasi tentang Vania?" tanya Raja yang begitu penasaran.


Ivan menganggukkan kepalanya pelan. "Ya, hari ini Nona Vania menemui sahabatnya, Nona Tania. Setelah dari rumah Nona Tania, mereka menuju sebuah tempat praktek Dokter kandungan. Namun, sayangnya anak buah saya belum mendapatkan informasi untuk apa mereka ke tempat itu," tutur Ivan.


"Dokter kandungan?!" Raja mengerutkan kedua alisnya sambil berpikir. Tiba-tiba saja ia menyunggingkan sebuah senyuman lebar.


"Apa mungkin saat ini Vania sedang hamil? Dan itulah alasan dia tidak ingin aku menyentuhnya. Tetapi ... jika benar ia hamil, kenapa Vania menutupinya dariku? Apa mungkin dia ingin memberikan kejutan untukku?!" ucap Raja sambil terus tersenyum, membayangkan bahwa saat ini Vania tengah hamil anak mereka.


...***...

__ADS_1


__ADS_2