
Dua minggu kemudian.
"Bagaimana Farra, apa kamu menyukainya?" tanya Zian setelah mengajak Farra mengelilingi rumah baru yang akan mereka tempati bersama.
"Rumah barumu bagus sekali, Kak." Farra terlihat senang, begitupula si kecil Aksa.
"Sebenarnya ini bukan rumah baruku, tetapi rumah baru untuk kalian," sahut Zian sambil tersenyum hangat menatap Farra yang kini nampak kebingungan.
"Apa maksudmu, Kak?" tanya Farra sambil menautkan kedua alisnya menatap Zian.
"Sebenarnya aku membeli rumah ini untukmu dan Aksa. Tapi, kalian tenang saja. Aku berjanji akan selalu mengunjungi kalian di sini," sahut Zian dengan senyuman yang terus mengambang di wajah tampannya.
Farra terdiam dan wajahnya nampak murung. Ia sudah terbiasa tinggal bersama lelaki itu dan sekarang lelaki itu akan pergi meninggalkannya bersama Aksa. Dan bukan hanya Farra yang nampak sedih, ternyata Aksa pun sama.
Bocah tampan itu menekuk wajahnya sambil menatap Zian. "Jadi Om akan meninggalkan kami, begitu?" tanya Aksa seraya menarik-narik celana yang sedang dikenakan oleh Zian.
Zian terkekeh pelan kemudian meraih tubuh mungil Aksa dan menggendongnya. "Tapi Om berjanji akan terus berkunjung ke sini hingga kalian bosan melihat wajah Om yang jelek ini."
"Benar ya, Om. Setiap hari jengukin Aksa sama Kak Farra," sahut Aksa sambil memegang kedua pipi Zian.
"Ya, tiap hari," sahutnya lagi.
"Oh ya, Farra. Mulai besok Aksa sudah bisa bersekolah lagi. Ivan sudah mengurus semuanya dan peralatan sekolah untuk Aksa sudah ada di dalam kamarnya," lanjut Zian seraya menuntun kakak beradik itu menuju kamar untuk Aksa.
"Lihatlah,"
Zian membuka pintu kamar untuk Aksa dan apa yang diucapkan oleh lelaki itu ternyata benar, peralatan sekolah untuk Aksa sudah tersedia dan tinggal di gunakan saja.
Aksa senang bukan main. Berkali-kali bocah kecil itu menciumi kedua pipi Zian secara bergantian sampai Zian merasa geli sendiri.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Om!"
"Ya. Kamu memang pantas mendapatkannya, Aksa. Karena kamu anak yang sangat baik," sahut Zian. Ia menurunkan tubuh Aksa dan membiarkan bocah itu berdiri di sampingnya.
Kini tatapan Zian kembali tertuju pada Farra yang sejak tadi hanya terdiam. Ia meraih tengan gadis itu kemudian menuntunnya menuju dapur, di mana ada sebuah kejutan dari Zian khusus untuknya.
"Kemarilah, aku punya kejutan untukmu."
"Lihatlah," lanjut Zian setelah mereka tiba di ruangan dapur.
Farra membulatkan matanya dengan sempurna. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya sekarang ini. Sebuah ruangan yang penuh dengan peralatan membuat kue. Dengan peralatan lengkap seperti ini, Farra bisa mengkreasikan kemampuannya dalam membuat kue.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Zian, karena lagi-lagi Farra tidak bersuara. Hanya ekspresi wajahnya yang terlihat berubah.
"Bagaimana caraku membalas semua ini, Kak Zian? Apa ini tidak terlalu berlebihan? Aku rasa, sampai kapanpun aku tidak akan bisa mengembalikan semua pemberianmu ini," tutur Farra.
Zian terkekeh pelan sambil menepuk pundak Farra dengan lembut.
"Tapi ...."
"Sudahlah, Farra. Tidak usah terlalu dipikirkan, anggap saja ini adalah rejeki kalian berdua, kamu dan Aksa. Dan tidak lupa, rejeki bayimu juga." Zian tersenyum dan hampir saja ia menyentuh perut Farra, tetapi ia urungkan.
Zian menarik kembali tangannya kemudian mengelus tengkuknya sambil menahan malu. "Maafkan aku, Farra. Aku memang suka refleks kalau sedang bicara."
"Tidak apa, Kak." Farra pun tersenyum melihat wajah Zian yang merona karena malu.
"Oh ya, hampir saja aku lupa mengatakannya kepadamu, Farra. Aku memang menyediakan berbagai macam peralatan kue di sini, tetapi bukan berarti aku memperbolehkanmu mempergunakannya. Untuk sekarang kamu hanya boleh beristirahat, hingga kandunganmu benar-benar sudah kuat dan bisa beraktivitas sama seperti sebelumnya."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Aku pasti akan bosan jika terus-terusan beristirahat di dalam kamar tanpa melakukan apapun," tutur Farra.
__ADS_1
"Tidak akan bosan, aku pasti akan datang menjengukmu dan menemanimu bersama Aksa. Benar 'kan Aksa?" ucap Zian kepada Aksa yang masih setia mengikuti kemanapun langkah mereka.
"Ya!" jawab Aksa mantap.
Setelah puas memperlihatkan rumah baru tersebut kepada Aksa dan Farra, Zian pun pamit.
"Memangnya sekarang Kakak tinggal di mana? Apakah Kakak masih tinggal di desa?" tanya Farra heran.
"Tidak, Farra. Sekarang aku kembali ke rumahku yang dulu. Nanti, kapan-kapan aku pasti akan mengajak kalian berkunjung ke rumahku, tapi tidak sekarang." Zian tersenyum sambil mengelus puncak kepala Aksa.
"Besok ke sini lagi ya, Om," pinta Aksa.
"Ya, tentu saja."
. . .
Sementara itu di kediaman Raja.
"Aku dengar-dengar Zian sudah kembali ke perusahaannya, benarkah itu?" tanya Raja kepada sekretarisnya via telepon karena sampai saat ini lelaki itu masih belum bisa kembali ke kantor, sama seperti sebelumnya.
"Ya, Tuan. Dan ada sesuatu yang lebih mengejutkan lagi, Tuan Raja," sahut sekretarisnya itu.
"Apa?"
"Kini Tuan Ivan bekerja bersama Tuan Zian."
Raja sempat membulat matanya sesaat, kemudian ia pun tersenyum sinis.
"Baguslah! Pengkhianat bersama pengkhianat bersatu untuk menghancurkan aku," ucap Raja geram.
__ADS_1
...***...