Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Farra Sakit Perut


__ADS_3

Tangan Zian bergetar ketika memegang setir mobil. Bukan hanya tangan, tetapi seluruh tubuhnya. Pemandangan tidak biasa yang ia lihat hari ini membuat perasaan Zian hancur.


"Aku memang salah. Tidak seharusnya aku mengharapkan sosok Farra untuk menjadi pasangan hidupku. Dia sudah menikah dan sebentar lagi bayi mungil mereka akan segera lahir. Raja terikat kuat dengannya, sedangkan aku?!" Zian terus bergumam sambil menyetir mobil kesayangannya menuju kediaman Tuan Ameer.


Setibanya di kediaman kedua orang tuanya, Zian bergegas masuk dan kembali menemui Tuan Ameer dan Nyonya Khalifa. Kedua orang tua itu terkejut melihat kedatangan Zian dengan wajah kusut.


"Loh, bukannya kamu ingin menemui wanita itu, Zian? Kok malah kembali lagi?" tanya Nyonya Khalifa sambil menatap heran kepada sang anak.


"Aku berubah pikiran, Bu. Dan aku bersedia menikahi Sameraa."


Jawaban Zian yang begitu tiba-tiba membuat Tuan Ameer dan Nyonya Khalifa senang bukan kepalang. Kedua orang tua itu berpelukan dan tidak hentinya mengucap kata syukur karena akhirnya anak laki-laki semata wayang mereka bersedia melepaskan masa lajangnya.


"Kamu serius 'kan, Nak?" Nyonya Khalifa mencoba memastikan bahwa Zian tidak sedang bercanda bersama mereka.


"Ya, aku sudah memikirkan semuanya, Bu, dan aku bersedia menikahi gadis itu," sahut Zian seraya mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan itu.


Nyonya Khalifa tersenyum puas, ia menghampiri Zian kemudian memeluk tubuh anaknya itu dengan erat. Mata Nyonya Khalifa berkaca-kaca, ia begitu bahagia mendengar jawaban dari Zian walaupun jawaban itu tercetus secara tiba-tiba.


"Baiklah, baiklah. Kalau begitu sebaiknya Ayah memberitahu keluarga Tuan Khalid soal kabar baik ini. Sebelum Zian merubah pikirannya lagi." Tuan Ameer tidak kalah antusiasnya dengan Sang Istri.


Ia segera menghubungi Tuan Khalid yang sedang berada di negara seberang dan memberitahukan tentang kabar baik itu. Ternyata keluarga Tuan Khalid pun tidak kalah antusiasnya. Mereka begitu bahagia mendengar jawaban Zian, terlebih Sameera. Gadis itu memang sudah jatuh hati pada sosok Zian sejak pertama kali mereka bertemu.


"Semoga kamu bahagia, Farra. Begitupula denganku, semoga ini adalah pilihan yang tepat buatku."


Sementara itu di kediaman Farra.

__ADS_1


"Aku pamit dulu, Farra. Jika kamu butuh apapun, jangan sungkan untuk menghubungiku," ucap Raja sembari memasuki mobilnya.


"Terima kasih, Tuan."


Setelah Raja meninggalkan tempat itu, Farra pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, Aksa dan Bi Inem menunggu Farra dengan wajah cemas. Mereka khawatir terjadi sesuatu kepadanya.


Baru saja Farra mendorong pintu rumahnya, Aksa sudah berlarian ke arahnya sambil tersenyum lebar. Ia bahagia karena ternyata Kakak perempuannya itu baik-baik saja.


"Ternyata Kakak benar, sepertinya Tuan Raja sudah berubah ya, Kak." Aksa yang sedang berada di pelukan Farra mendongak menatap wajah Farra.


"Kan sudah Kakak bilang bahwa Tuan Raja sudah berubah."


Tiba-tiba saja Farra merasakan posisi bayi mungil yang ada di dalam kandungannya semakin turun. Farra bahkan merasa sangat tidak nyaman pada saat itu. Farra melerai pelukannya kemudian berjalan menghampiri sofa.


Namun, tiba-tiba Bi Inem panik sembari menunjuk ke arah kaki Farra. "Nak Farra, sepertinya kamu akan segera melahirkan. Lihatlah di kakimu," pekik Bi Inem dengan wajah cemas.


Saat ini yang ada di kepala Bi Inem hanya Zian. Ia segera menghubungi lelaki itu untuk memberitahukan tentang kondisi Farra.


Sementara Farra duduk sambil menahan sakit yang mulai menyerangnya. Dengan wajah memucat, Farra mengelus perutnya. Begitupula Aksa yang sedang ketakutan, ia lebih memilih duduk di samping Farra sambil mengelus perut Kakak perempuannya itu.


Di kediaman Tuan Ameer, Zian mendongakkan kepalanya menatap kosong ke arah langit-langit ruang utama. Sementara Ayah dan Ibunya begitu antusias merencanakan segala macam persiapan untuk menyambut hari pernikahan Zian yang sudah ditentukan.


Tiba-tiba ponsel lelaki itu berdering dan seketika lamunannya pun buyar. Ia meraih ponsel tersebut dari saku celananya kemudian menerima panggilan tersebut.


"Ya, Bi?"

__ADS_1


"Tuan Zian, cepatlah ke sini. Sepertinya Nona Farra akan segera melahirkan!"


"Apa?!" pekik Zian. "Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan segera ke sana!"


Zian bergegas bangkit dari tempat duduknya kemudian pergi tanpa pamit kepada kedua orang tuanya. Tuan Ameer dan Nyonya Khalifa saling tatap dengan wajah kebingungan.


"Zian kenapa lagi? Apa dia benar-benar serius dengan pilihannya kali ini, Ayah?" gumam Nyonya Khalifa.


"Entahlah, aku juga bingung dengan sikapnya hari ini," sahut Tuan Ameer.


Zian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Wajahnya panik, seolah yang ingin melahirkan sekarang adalah Istrinya. Beberapa kali ia menekan klakson dan menyalip setiap kendaraan yang mencoba menghalanginya.


"Ayolah! Kenapa mobil ini jalannya lamban sekali!" gerutu Zian.


Setelah beberapa saat, mobilnya pun tiba di kediaman Farra. Tanpa pikir panjang, lelaki itu berlari memasuki kediaman Farra. Kepanikan Zian semakin menjadi tatkala ia melihat Farra sedang meringis menahan sakit.


"Farra, kamu tidak apa-apa? Sebaiknya kita ke Rumah Sakit sekarang."


Farra yang sudah tidak sanggup menjawab pertanyaan Zian, hanya bisa menganggukkan kepalanya. Perlahan Zian mengangkat tubuh Farra dan membawanya ke halaman depan.


Setelah berhasil memasukkan tubuh Farra, Zian pun segera berangkat menuju Rumah Sakit.


"Kak Zian ... tolong hubungi Tuan Raja, aku sudah berjanji akan segera menghubunginya jika aku akan melahirkan," ucap Farra dengan terbata-bata karena rasa sakit di perutnya sudah mulai teratur.


Zian sempat terdiam, tetapi hanya sebentar. Setelah itu ia pun mengangguk. "Aku akan menghubunginya setelah kita tiba di Rumah Sakit," sahutnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2