
Setelah puas mengancam dan menakuti gadis itu, Raja kembali ke kamarnya sambil tersenyum puas.
"Lihat wajahnya? Dia ketakutan setengah mati. Farra, Farra! Ini baru permulaan dan setelah ini akan ada lebih banyak lagi penderitaan yang akan menyambutmu," gumamnya sambil tertawa jahat.
Setibanya di kamar utama, Raja segera menghampiri Vania yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil bersandar dengan nyaman. Wanita itu terlihat sangat cantik dan seksi dengan lingerie transparan yang sedang membalut tubuh indahnya.
"Kamu dari mana?" tanya Vania sambil memperhatikan ekspresi wajah Raja yang terlihat sangat senang. Senang karena sudah berhasil menakuti Farra tentunya.
Raja tersenyum seraya menjatuhkan dirinya di samping istrinya itu. Ia merengkuh pundak Vania dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Aku baru saja dari halaman depan. Ada hal penting yang harus aku bicarakan kepada para penjaga di depan."
"Benarkah?"
Vania mendongak dan menatap lekat lelaki itu. Sejujurnya ia masih belum percaya dengan jawaban Raja. Hati kecilnya sebagai seorang istri mengatakan bahwa Raja sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Jangan katakan bahwa kamu baru saja menemui gadis itu, ya!" lanjut Vania.
Raja tergelak sambil mengacak puncak kepala Vania pelan. "Ya ampun, Vania sayang! Apa kamu masih berpikir bahwa aku menyukai gadis kampungan itu?"
"Ya, siapa tahu!" ketus Vania.
Raja menghentikan tawanya dan sekarang ia fokus pada wanita yang sedang menaruh curiga padanya itu.
"Begini saja, Vania sayang. Coba kamu pikirkan dengan baik. Memangnya apa yang istimewa dari gadis itu hingga ia bisa membuatku jatuh cinta? Tidak ada 'kan? Kamu jauh lebih sempurna, lebih cantik, lebih seksi dan sangat menggairahkan."
Raja mulai menciumi pundak mulus Vania dan menjalar hingga ke bagian tengkuk wanita itu. Vania tidak begitu menikmati permainan yang diciptakan oleh Raja. Wanita itu gelisah dan nampak tidak nyaman.
"Aku masih lelah, Raja," ucap Vania.
Raja menghentikan aksinya dan menatap wanita itu. "Ayolah, Vania. Kita sudah lama tidak melakukannya," sahut Raja yang mulai kesal karena Vania terus menolaknya jika Raja meminta haknya sebagai seorang suami.
"Besok saja, ya! Please ...." lirih Vania sambil memasang wajah memelasnya.
Raja menghembuskan napas kasar dan kemudian dengan terpaksa menganggukkan kepalanya. "Baiklah, tapi janji besok kamu harus melakukannya."
"Ya, aku berjanji!" sahut Vania sembari memeluk tubuh Raja dan menciumi wajah lelaki itu.
Vania menuntun Raja untuk berbaring bersamanya. Ia memeluk erat tubuh lelaki itu sambil mencoba memejamkan mata. Raja pun menurut saja, padahal jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Raja sangat kesal karena hasratnya kembali tertunda.
__ADS_1
Tidak berselang lama, Vania pun akhirnya tertidur. Perlahan Raja melepaskan pelukan wanita itu dan bangkit dari tempat tidurnya. Kepalanya sakit dan sesuatu yang mengeras di bawah sana tidak bisa ia kendalikan lagi.
"Apa aku harus melakukannya lagi?" batin Raja sambil terus memperhatikan Vania yang sudah terlelap.
"Ah, masa bodoh!"
Raja melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan melakukan pelepasan di tempat itu sendirian.
"Andai aku tidak menjaga nama baikku dan seluruh keluargaku, mungkin aku sudah memanggil wanita panggilan, Vania," gerutu Raja sambil memainkan senjatanya dengan tangan.
Cukup lama Raja menghabiskan waktu di dalam ruangan itu hingga akhirnya ia melakukan pelepasan. Raja tersenyum sinis setelah menyelesaikan kegiatannya di ruangan itu.
"Dasar bodoh, benar-benar memalukan!"
Setelah melakukan hal itu, Raja kembali ke kamarnya dan merebahkan dirinya di samping Vania. Ia berbaring dengan posisi saling berhadapan dengan wanita itu.
"Aku cinta kamu, Vania. Sangat ...."
Raja melabuhkan sebuah kecupan hangat di kening Vania kemudian memeluknya hingga ia pun tertidur.
Pukul 05.00 pagi,
"Huft! Ternyata sudah pagi." Farra menghembuskan napas lega.
Ia sempat tertidur hampir satu jam setelah semalaman begadang karena takut Tuan Raja kembali ke kamarnya. Namun, ia lega ternyata lelaki itu tidak kembali lagi.
Gadis itu bangkit dari tempat tidur kemudian mulai melangkahkan kakinya.
"Eh, kakiku sudah berkurang sakitnya," gumam Farra sembari melihat ke arah kakinya
Farra tersenyum puas karena bukan hanya rasa sakitnya yang berkurang, tetapi juga bengkaknya. "Terima kasih, Tuan Ivan. Aku benar-benar berhutang budi padamu," gumam Farra.
Setelah melakukan ritual mandi, berpakaian dan merapikan penampilannya, Farra segera menuju ruang dapur. Disana ia melihat para pelayan yang bertugas menyiapkan sarapan untuk Tuan Raja sudah disibukkan dengan pekerjaan mereka.
Farra menghampiri Bu Eni yang sedang memantau keadaan di ruangan itu sambil mengatur anak buahnya.
"Bu, apa yang harus aku kerjakan?" tanya Farra bingung.
Bu Eni menoleh dan menatap wajah sendu gadis itu sambil tersenyum hangat.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu bersih-bersih ruangan saja, Nak Farra. Daripada disini, nanti kalau Tuan Raja melihatmu, bisa-bisa dia marah-marah lagi sama kamu."
Farra pun menganggukkan kepalanya kemudian keluar dari ruangan itu.
Beberapa jam kemudian.
Tuan Raja turun dari kamar utama sambil bergandeng mesra dengan Vania. Farra yang sedang membersihkan ruangan di lantai dasar, tidak menyadari keberadaan pasangan itu.
Dan saat ia menyadarinya, pasangan itu sudah berada di depannya. Raja melirik Farra dengan tatapan dingin. Berbeda dengan sang istri yang langsung menekuk wajahnya ketika melihat gadis itu.
Namun, Farra lega karena pasangan itu tidak menghina ataupun memarahinya pagi ini dan itu sudah cukup untuk membuat hatinya sedikit tenang.
Disaat Tuan Raja dan Vania menikmati sarapan mereka, Ivan tiba di tempat itu untuk menjemput Tuan Raja. Setelah memarkirkan mobilnya, ia segera melangkah memasuki bangunan megah tersebut sembari memperhatikan sekelilingnya.
Dari kejauhan Ivan melihat sosok gadis yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya. Ia tersenyum kemudian berjalan menghampirinya.
"Hai, Farra. Bagaimana kakimu?"
Farra yang tidak menyadari keberadaan Ivan di tempat itu, begitu terkejut. Farra menoleh ke arah Ivan sambil mengelus dadanya.
"Astaga, Tuan Ivan. Aku kaget," pekik Farra dengan wajah memucat.
Gadis itu masih trauma dengan kejadian tadi malam. Dimana Tuan Raja mendobrak pintu kamarnya dengan keras.
Ivan tertawa pelan. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengejutkanmu."
"Terima kasih, Tuan Ivan. Lihatlah, bengkaknya sudah mulai berkurang begitu pula rasa sakitnya. Aku sudah tidak kesakitan lagi ketika berjalan." Farra tersenyum hangat menatap Ivan.
"Baguslah kalau begitu," sahut Ivan.
Tiba-tiba saja Farra teringat akan ancaman Tuan Raja tadi malam dan ia takut lelaki itu melihatnya bersama Ivan disana.
"Ehm Tuan, sebaiknya aku pergi dulu. Aku tidak ingin Tuan Raja marah karena melihat kita disini," ucap Farra dengan wajah cemas.
Ivan menautkan kedua alisnya sambil menatap lekat wajah Farra yang sedang ketakutan. "Apa Tuan Raja mengancammu?"
Farra mengangguk cepat dan segera pergi meninggalkan Ivan yang masih kebingungan di ruangan itu.
...***...
__ADS_1