Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Pilihan Raja


__ADS_3

Raja bergegas menyusul Vania dan meraih tangan wanita itu. Vania menghentikan langkahnya kemudian berbalik dan menatap Raja yang kini berdiri tepat di hadapannya.


"Vania, kumohon beri aku waktu untuk berpikir. Aku tidak bisa memutuskannya dengan mudah karena kamu tahu sendiri bagaimana kondisi Farra saat ini. Dia sedang mengandung anakku, Vania. Ada generasi penerusku yang sedang tumbuh di dalam rahimnya," tutur Raja dengan wajah sendu menatap Vania.


Vania kesal bukan main karena akhirnya Raja tahu bahwa Farra sedang mengandung generasi penerusnya. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Vania benar-benar iri dengan gadis itu.


"Aku beri kamu waktu semalaman ini untuk memikirkannya, Raja. Jika esok kamu masih tidak bisa menentukan pilihanmu, maka aku yang akan pergi dari sini," ancam Vania seraya menghempaskan tangan Raja yang sedang menggenggam tangannya.


Vania kembali meneruskan langkahnya dan meninggalkan Raja di kamar itu sendirian.


"Tapi-- Vania!"


Raja mencoba mengejar Vania tetapi tubuhnya masih terlalu lemah dan ia belum bisa bergerak dengan bebas. Dengan terpaksa Raja pun kembali ke tempat tidurnya dan beristirahat di sana sambil berpikir keras.


"Ya Tuhan, Vania benar-benar memberikan pilihan yang sulit untukku. Bagaimana aku bisa memilih salah satu dari mereka. Walaupun aku begitu mencintai Vania, tetapi tidak semudah itu aku melepaskan Farra karena ada calon bayiku bersamanya. Begitupula sebaliknya, jika aku memilih mempertahankan Farra hanya untuk bayi itu, bagaimana dengan perasaan cintaku terhadap Vania?" gumam Raja seraya mengacak rambutnya dengan kasar.


Malam itu Raja menghabiskan waktunya hanya untuk berpikir. Memikirkan keputusan apa yang akan harus ia ambil agar tidak terjadi penyesalan dikemudian hari.


Begitupula Vania, wanita itu terlihat cemas dan ia khawatir Raja lebih memilih mempertahankan Farra dari pada dirinya. Mengingat saat ini Farra sedang mengandung dan membuat Raja berpikir dua kali untuk melepaskan gadis itu.


Sementara Farra, gadis itu sudah pasrah akan nasibnya dan juga calon bayinya. Jika seandainya Raja dan Vania memerintahkan dirinya untuk pergi, maka ia pun akan pergi dari rumah itu.


Farra memasukkan satu persatu pakaiannya ke dalam tas. Tak ada barang mewah, satu-satunya barang berharga milik Farra hanyalah foto mendiang kedua orang tuanya dan fotonya bersama Aksa.

__ADS_1


Setelah semua barang-barangnya tersimpan rapi di dalam tasnya, Farra pun mulai membaringkan tubuhnya yang lelah.


"Aku yakin, aku pasti bisa membesarkan bayi ini bahkan tanpa Tuan Raja sekalipun," gumam Farra sambil mengelus perutnya yang masih rata.


Keesokan harinya.


Vania sudah bersiap sejak pagi-pagi sekali. Ia menyeret koper berisi pakaian mahalnya menuju kamar utama. Sesampainya di ruangan itu, ia pun segera mendorong pintunya dan memasuki ruangan tersebut.


Raja masih bersandar di sandaran tempat tidurnya dengan wajah memucat. Lelaki itu benar-benar tidak tidur semalaman karena memikirkan keputusan yang akan ia ambil hari ini.


"Bagaimana, Raja? Aku sudah menunggu jawaban darimu," ucap Vania.


"Perintahkan pelayan untuk memanggil Farra ke sini, biar semuanya jelas."


Farra menghembuskan napas berat dan ia sudah memiliki firasat bahwa dirinya pasti akan tersingkir hari ini.


"Semangat, Farra! Kamu pasti bisa," gumamnya, mencoba menyemangati dirinya sendiri.


Setelah meraih tas lusuh yang berisi semua pakaiannya, Farra pun berjalan menuju kamar utama sambil memeluk tas tersebut. Setibanya di sana, pelayan itu membukakan pintu kamar tersebut untuk Farra dan mempersilakannya masuk.


Tatapan Vania dan Raja kini tertuju pada Farra yang terlihat menyedihkan. Wajah gadis itu terlihat sendu saat melangkahkan kakinya menghampiri mereka.


Vania tersenyum sinis sambil memperhatikan penampilan Farra yang terlihat sangat menyedihkan itu.

__ADS_1


"Heh, mau kemana kamu dengan tas jelek itu?"


Farra memperhatikan Raja yang masih bersandar di tempat tidurnya. Lelaki itu juga tengah memperhatikan dirinya tanpa berkedip sedikitpun. Sekarang tatapan Farra beralih kepada Vania yang masih menyunggingkan senyuman sinis padanya.


"Aku sadar siapa aku di sini, Nona Vania. Dan aku akan pergi jika kalian memerintahkan aku untuk pergi," lirih Farra.


Raja memejamkan matanya sambil membuang napas berat. Benar-benar pilihan yang sulit bagi Raja. Walaupun ia tidak memiliki perasaan apapun terhadap Farra, tetapi ia sering menghabiskan malamnya bersama gadis itu.


"Nah, Raja! Sekarang tunggu apalagi? Aku dan gadis kampung ini sudah berkumpul di sini. Sekarang tentukan pilihanmu," ucap Vania yang sudah tidak sabar menunggu keputusan dari lelaki itu.


Raja menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan.


"Sebenarnya ini pilihan yang sangat sulit bagiku. Namun, setelah memikirkannya dengan matang dan penuh pertimbangan akhirnya aku memutuskan untuk memilih ...."


Vania memasang telinga dengan baik sedangkan Farra sudah pasrah dan ia pun sudah tahu apa keputusan lelaki itu.


"Aku memilih mempertahankan pernikahanku dengan Vania dan untukmu Farra, kamu tenang saja. Soal bayi itu, aku berjanji akan tetap bertanggung jawab walaupun tidak harus hidup bersamamu. Aku akan memenuhi semua kebutuhannya karena dia adalah anakku," tutur Raja.


Vania bahagia bukan main. Ia melepaskan koper yang sejak tadi ia pegang kemudian menghampiri Raja. Sedangkan Farra hanya bisa tersenyum kecut sambil menatap pasangan itu.


"Terima kasih, Tuan Raja. Aku sangat senang mendengarnya, tetapi aku tidak butuh bantuanmu soal bayi ini. Kamu tidak usah khawatir karena aku akan merawatnya dengan baik."


"Cih, sombong sekali! Miskin saja sombong apalagi kalau menjadi orang kaya," sela Vania.

__ADS_1


...***...


__ADS_2