Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Welcome Home


__ADS_3

"Sudahlah, Sameera. Dari pada kamu menangis seperti ini, sebaiknya kamu berdoa agar Raja baik-baik saja," ucap Zian seraya melerai pelukan Sameera.


Sameera pun menganggukkan kepalanya. "Ya, kamu benar, Zian."


Zian menghampiri Farra kemudian memperkenalkannya kepada Sameera. "Sameera, kenalkan, ini Farra. Calon isteriku," ucap Zian seraya merengkuh pundak Farra.


Farra kembali melemparkan senyum kemudian mengulurkan tangannya kepada Sameera. Wanita itu nampak shok setelah mengetahui bahwa wanita yang sedang berada di hadapannya adalah Farra. Wanita yang selama ini berhasil meluluhkan hati Zian.


"Ja-jadi kamu Farra?" pekik Sameera sembari mengulurkan tangannya yang gemetar menyambut uluran tangan Farra.


Farra menganggukkan kepala, masih dengan senyuman hangatnya. "Ya, aku Farra."


"Oh, Tuhan. Maafkan aku, Farra!" Sameera bergegas memeluk tubuh Farra. Wanita itu merasa bersalah karena sudah memeluk Zian di hadapannya.


"Sudah, tidak apa-apa, Sameera." Farra menepuk pelan punggung wanita itu.


Keesokan harinya.


"Bagaimana kondisinya? Apakah sudah ada perkembangan?" tanya Zian kepada Sameera yang masih setia menunggu di luar ruangan, di mana Raja dirawat.


"Masih sama seperti kemarin, Zian. Dokter bilang Raja mengalami gegar otak ringan akibat benturan keras yang terjadi di kepalanya," sahut Sameera.


"Ya, Tuhan ... semoga dia baik-baik saja," sela Tuan Ameer dengan wajah panik.

__ADS_1


Zian baru saja tiba di tempat tersebut bersama kedua orang tuanya. Bukan hanya Tuan Ameer dan Nyonya Khalifa, tetapi juga Tuan Khalid yang baru saja tiba di negara mereka, untuk menjenguk Raja sekaligus ingin mengetahui bagaimana kabar putri kesayangannya, Sameera.


Tuan Khalid menghampiri Sameera yang sedang duduk di kursi tunggu dengan wajah kusut. Lelaki paruh baya tersebut mengelus puncak kepala Sameera dengan lembut kemudian duduk di samping anak perempuannya itu. "Bagaimana keadaanmu, Nak? Kamu baik-baik saja 'kan?"


"Sameera baik, Ayah. Tapi ...." Wajahnya terlihat semakin kusut. Ia menatap ruangan di mana Raja di rawat dengan mata berkaca-kaca.


"Yakinlah, Nak. Dia pasti akan baik-baik saja," sahutnya.


Tepat di saat itu jari-jemari Raja mulai ada pergerakan. Perlahan lelaki itu membuka mata kemudian mengedarkan pandangannya. Perawat yang sedang berjaga di ruangan tersebut segera memanggil Dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.


"Ya Tuhan, kepalaku!" pekik Raja sembari memegang kepalanya yang sakit.


Lelaki itu baru sadar ternyata bukan hanya kepala yang terasa sakit, tetapi hampir seluruh tubuhnya. Bahkan saat ini kaki kanan Raja dipasang gips karena tulang kakinya mengalami keretakan akibat kecelakaan itu. Belum lagi luka ringan yang menghiasi seluruh tubuh.


Raja menggerutu melihat kondisi tubuhnya. Ia bahkan mulai marah-marah tidak jelas. Bukan hanya pusing, Raja juga mulai merasakan mual di perutnya akibat gegar otak yang ia alami saat ini.


Setelah Raja mulai tenang, Dokter pun kembali ke ruangannya. Perlahan Sameera menghampiri tempat tidur lelaki itu kemudian duduk di sampingnya.


"Tuan Raja, aku berjanji akan terus bersamamu hingga kamu benar-benar sembuh dan kembali seperti sebelumnya." Sameera meraih tangan Raja yang penuh dengan luka gores kemudian mengelusnya dengan lembut.


***


Sebulan berlalu, Raja pun akhirnya di perbolehkan pulang. Namun, ia tetap harus mendapatkan perawatan lanjutan di rumahnya. Sedangkan Sameera menepati janjinya kepada Raja, wanita itu bahkan terus menjaga lelaki itu selama sebulan penuh di Rumah Sakit tanpa mengeluh sedikitpun.

__ADS_1


"Hari ini kita akan pulang, Raja. Bagaimana perasaanmu? Kamu pasti senang 'kan?" Sameera mencoba menghibur Raja yang sejak tadi hanya diam seribu bahasa.


Raja menoleh ke arah Sameera untuk sesaat dan setelah itu pandangannya pun kembali fokus ke depan. "Aku merindukan bayiku," jawab Raja.


Sameera menghembuskan napas panjang. Sebenarnya saat ini Zian, Farra dan bayinya sudah menunggu di kediaman lelaki itu untuk memberikan kejutan.


"Aku yakin, saat ini bayimu pun merindukan sosok Ayahnya."


Raja kembali menoleh ke arah Sameera yang terus mengembangkan senyumannya tanpa bosan. "Benarkah? Apakah bayi juga bisa merasakan rindu kepada seseorang yang dia sayang?"


"Tentu saja, hanya saja mereka tidak bisa mengutarakannya."


Akhirnya tersungging sebuah senyuman tipis di wajah kusut Raja. Hatinya sedikit terhibur setelah mendengar jawaban dari wanita itu.


Tak berselang lama, mereka pun tiba di halaman depan kediaman Raja. Setelah sopir membantu Raja keluar dari mobil dan mendudukkanya di kursi roda, Sameera pun bergegas menyambutnya.


Dengan wajah semringah, Sameera mendorong kursi roda yang di duduki oleh Raja memasuki bangunan megah itu. Tepat di ruang utama, Sameera menghentikan langkahnya.


Raja tersenyum lebar ketika melihat sosok Farra yang berdiri bersama bayi mungilnya yang kini hampir berusia dua bulan.


"Bawa aku mendekat, Sameera. Aku ingin memeluk Putraku," ucap Raja.


Dengan senang hati, Sameera pun membawa Raja menghampiri Farra. Farra tersenyum hangat ketika Raja menghampirinya. Setelah lelaki itu berada di hadapannya, Farra pun segera menyerahkan bayi Raffa kepada Raja.

__ADS_1


"Ayah sangat merindukanmu, Raffa."


...***...


__ADS_2