
"Farra, apakah itu benar?" tanya Zian dengan senyum semringah menatap Farra yang masih berselonjor di tempat tidur pasien.
"Apa? Aku tidak mengerti?" Farra heran dan membalas tatapan Zian sembari menautkan kedua alisnya.
"Apakah benar yang dikatakan oleh Raja bahwa kamu mencintaiku?" tanya Zian malu-malu dan wajahnya pun nampak merona saat itu.
Begitupula Farra, ia pun menundukkan kepalanya karena malu. Ia tidak menyangka ternyata Raja sudah menyampaikan hal itu kepada Zian.
"Sudahlah, Farra. Sebaiknya akui saja, biar Zian secepatnya melamarmu," bisik Raja yang masih berdiri di samping Farra.
Farra pun mengangkat kepala dan kini tatapan wanita itu tertuju pada Zian yang masih menunggu jawaban darinya.
"Ya, Kak. Itu benar."
Zian tersenyum lebar setelah mendengar jawaban dari wanita itu. Ia segera bangkit dari tempat duduknya kemudian memeluk tubuh Raja. "Terima kasih, Raja! Aku berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini."
Raja begitu terkejut ketika Zian tiba-tiba saja menyerangnya dengan sebuah pelukan mendadak. "Ya, ya, itu harus, Zian. Aku percaya padamu," sahut Raja sembari menepuk pundak Raja pelan. "Tapi, sekarang lepaskan pelukanmu karena aku sudah merasa tidak nyaman."
"Baiklah, maafkan aku." Zian melerai pelukannya bersama Raja sambil tersenyum lebar. Namun, sedetik berikutnya senyuman itu sirna tatkala ia teringat akan perjodohannya dengan Sameera. Wajah Zian seketika memucat dan ia pun nampak panik.
"Tunggu sebentar ya, ada yang ingin aku bicarakan bersama kedua orang tuaku," ucap Zian seraya bergegas keluar dari ruangan itu.
Raja dan Farra saling tatap sejenak kemudian kembali memperhatikan Zian yang menghilang dari balik pintu ruangan.
__ADS_1
"Ada apa dengannya?" tanya Raja, kebingungan.
Farra mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, aku juga tidak tahu."
Sementara itu di luar ruangan.
Zian meraih ponsel miliknya kemudian mencoba menghubungi Tuan Ameer dan Nyonya Khalifa. Kedua orang tua itu sedang asik berdiskusi di ruang utama. Mendiskusikan tentang pernikahan Zian bersama Sameera.
"Ah, sebentar. Zian menghubungiku," ucap Tuan Ameer dengan wajah semringah menatap Sang Istri.
Nyonya Khalifa pun membalas senyuman Tuan Ameer sembari memerintahkan Sang Suami agar secepatnya menerima panggilan dari anak semata wayangnya tersebut.
"Ya, Zian?"
"Apa?!" pekik Tuan Ameer sambil membulatkan matanya. "Tidak bisa seperti itu, Zian! Seluruh keluarga Tuan Khalid begitu bahagia setelah mendengar jawaban darimu, terlebih Sameera. Masa dengan semudah itu pula kamu mematahkan semangat mereka?!"
Zian menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Ia menyesal karena sudah mengambil keputusan sebelum ia tahu kebenarannya. Sekarang Zian yakin, akan ada hati yang kembali terluka akibat perbuatannya.
"Ya Tuhan! Bagaimana ini?" gumamnya.
"Baiklah, Ayah. Biarkan nanti Zian saja yang menjelaskannya kepada Sameera dan semoga saja ia bisa mengerti," lanjut Zian.
"Ayolah, Zian. Coba pikirkan sekali lagi, jangan buat hati Sameera terluka. Apa kamu tahu, Zian, Sameera begitu mencintaimu."
__ADS_1
Zian terdiam sejenak sambil memejamkan matanya mencoba menjernihkan pikirannya saat ini. "Maafkan aku, Ayah. Aku tidak bisa. Tapi, aku berjanji akan mengurus semuanya. Aku yang sudah membuat kekacauan ini, maka aku juga yang harus bertanggung jawab membereskannya," jawab Zian.
"Terserahlah," sahut Tuan Ameer.
Tuan Ameer menghela napas, terlihat jelas kekecewaan di wajah lelaki tua itu. Nyonya Khalifa yang sejak tadi terus memperhatikan ekspresi suaminya, tahu bahwa sekarang mereka kembali dalam masalah.
"Kenapa, Ayah? Apa Zian kembali berubah pikiran?"
Tuan Ameer meletakkan kembali ponsel tersebut ke dalam saku celana setelah Zian memutuskan panggilannya. Lelaki tua itu duduk di samping Sang Istri dengan wajah kusut.
"Ya, Bu. Anak lelakimu kembali berubah pikiran dan dia bilang akan membawa wanita pilihannya ke hadapan kita. Bagaimana menurutmu?"
Sama halnya Tuan Ameer, Nyonya Khalifa pun tidak kalah kecewa setelah mengetahui bahwa Zian memutuskan untuk membatalkan perjodohan itu.
"Entahlah, Ayah. Saat ini yang ada di pikiran Ibu hanya satu, bagaimana perasaan keluarga Tuan Khalid dan istri. Terutama Sameera," sahut Nyonya Khalifa dengan wajah sendu.
Setelah menghubungi kedua orang tuanya, Zian pun mencoba menghubungi keluarga Tuan Khalid. Apa yang dikhawatirkan oleh Tuan Ameer dan Nyonya Khalifa, akhirnya terjadi. Seluruh keluarga besar Tuan Khalid merasa sangat kecewa, terlebih Sameera.
Gadis itu bahkan terlihat frustrasi setelah mendengar penuturan dari Zian. Sameera tidak terima perjodohan itu diputuskan begitu saja. Apalagi ia sudah memberitahu seluruh teman-temannya tentang rencana pernikahannya dengan Zian, lelaki yang sudah berhasil mencuri perhatiannya selama ini.
"Aku akan menyusulmu, Zian. Aku tidak akan membiarkan kamu menghancurkan harapanku begitu saja," ucap Sameera sambil terisak.
...***...
__ADS_1