
"Moga laku ya, Kak." Dengan wajah penuh harap, Farra menyerahkan kue-kuenya kepada Zian yang ingin pergi ke tempat kerjanya.
"Pasti," sahut Zian dengan keyakinan penuh.
Setelah pamit kepada Farra dan Aksa Zian pun segera pergi ke tempat kerjanya bersama mobil Pick Up yang selama beberapa tahun ini senantiasa menemaninya bekerja.
Di sini, Zian bekerja sebagai tangan kanan seorang mandor di sebuah perkebunan sawit dengan penghasilan terbesar di kota mereka. Perkebunan inilah yang menjadi pencaharian hampir seluruh warga desa di desa tersebut.
Tidak butuh waktu lama, Zian tiba di tempat kerjanya. Karena jarak rumah Zian dan perkebunan tersebut tidaklah jauh. Bahkan masih bisa ditempuh dengan jalan kaki. Kedatangan Zian disambut hangat oleh para buruh yang sudah begitu dekat dengannya.
"Apa yang Anda bawa, Pak Zian?"
"Hari ini aku berjualan kue, ada yang mau beli?" sahut Zian seraya menenteng keranjang kue milik Farra.
Para buruh pun berdatangan dan mengambil satu persatu kue buatan Farra kemudian mencicipinya.
"Bagaimana, enak 'kan?" tanya Zian sambil tersenyum hangat.
Mereka menganggukkan kepala. "Ya, kuenya enak. Siapa yang buat, Pak?"
"Adik sepupuku," sahut Zian.
Hanya dalam hitungan menit, kue yang di jual oleh Farra pun ludes dan yang tersisa hanya keranjangnya saja. Tepat di saat itu, seorang Mandor yang menjadi atasan Zian selama ini, menghampirinya.
"Wah, nambah profesi sekarang kamu, Zian? Hebat kamu!" ucap lelaki yang berusia 50 tahun tersebut sambil menggelengkan kepalanya menghampiri Zian.
Zian membalas senyuman lelaki yang kini berdiri di sampingnya. "Hanya membantu Adik sepupu saya, Pak." sahutnya.
Tak terasa, sore pun menjelang.
Farra dan Aksa yang sudah melakukan ritual mandi sore mereka, duduk di teras depan rumah Zian seraya menunggu kedatangan lelaki itu.
Tidak berselang lama, sebuah mobil Pick Up berwarna hitam milik Zian tiba di halaman depan rumahnya. Aksa begitu senang menyambut kedatangan lelaki itu. Ia segera berlari sambil merentangkan tangannya kepada Zian.
__ADS_1
"Jangan, Aksa! Om masih kotor, nanti setelah Om sudah bersih baru Aksa peluk Om, ya?" bujuk Zian seraya menyerahkan keranjang kue milik Farra yang kini berisi sebuah susu kotak serta beberapa cemilan untuk Aksa.
"Makasih, Om."
Aksa senang bukan kepalang. Ia kembali berlari menghampiri Farra yang masih duduk di teras seraya mengelus perutnya yang masih rata.
"Lihat, Kak. Om Zian kasih ini buat Aksa," ucap bocah kecil itu.
"Sekarang, ucap apa?"
"Sudah, Kak. Tadi Aksa sudah bilang terima kasih," sahut Aksa.
Farra tersenyum kemudian mengacak puncak kepala adiknya itu dengan lembut. "Pinter."
Zian sempat memperhatikan Farra yang sedang mengelus perut ratanya. Namun, lelaki itu tidak menyangka bahwa saat itu Farra dalam keadaan hamil. Ia malah menyangka bahwa saat itu Farra sedang lapar.
"Kamu sudah makan, Farra?" tanyanya cemas.
"Sudah, Kak. Tadi siang," sahut Farra sambil tersenyum.
Ternyata Zian tidak sendiri, di belakang mobilnya ada sebuah mobil berwarna putih yang turut terparkir di samping mobil kesayangan Zian. Seorang laki-laki keluar dari mobil tersebut dan ia adalah Mandor, atasan Zian di perkebunan sawit tersebut.
Lelaki itu menghampiri Zian dan Farra sambil tersenyum hangat. "Siapa dia, Zian? Adik sepupumu?" tanya lelaki itu seraya mengulurkan tangannya kepada Farra.
"Aku Mandor di perkebunan, di mana Kakakmu bekerja," ucap lelaki itu ketika Farra dengan terpaksa menyambut uluran tangannya.
"Farra," sahutnya.
"Farra, nama yang indah. Benar 'kan, Zian?!" sambung lelaki itu.
Zian tersenyum kecut sambil menganggukkan kepalanya. Ia terus memperhatikan ekspresi wajah Farra yang nampak canggung saat itu.
"Ehm, Bapak ingin masuk dulu?" tanya Zian.
__ADS_1
"Tidak usah, biar aku tunggu di sini saja, lagian aku juga tidak bisa lama-lama di sini," sahutnya.
"Baiklah."
Zian bergegas masuk ke dalam rumahnya. Ada sesuatu yang ingin ia serahkan kepada lelaki itu. Sementara Zian masuk, Farra terjebak bersama lelaki itu dan tidak enak jika ia juga harus pergi meninggalkannya.
Lelaki itu nampak ganjen, ia tidak hentinya mengajak Farra bicara dan dengan terpaksa, Farra pun menjawab semua pertanyaan lelaki itu sekenanya saja.
"Ini, Pak. Berkasnya," ucap Zian yang baru saja tiba kemudian menyerahkan sebuah berkas penting milik lelaki itu.
"Bagus. Terima kasih, Zain!" ucapnya yang kemudian pamit dan kembali ke mobilnya.
"Huft!" Farra menghembuskan napas lega sambil mengelus dada.
Zian tersenyum kemudian menjatuhkan dirinya di samping Farra. Ia melirik gadis itu tanpa melepaskan senyuman manisnya.
"Maafkan aku, Farra. Seharusnya aku mengajakmu masuk. Kamu tahu lelaki itu ganjen. Istrinya saja sudah ada empat dan dia masih gencar mencari gadis-gadis muda di desa ini untuk dijadikan istrinya," ucap Zian sambil terkekeh pelan.
Farra bergidik ngeri apalagi jika ia ingat bagaimana cara lelaki itu menatapnya. "Jujur, aku ketakutan, Kak."
"Maafkan aku," ucap Zian lagi seraya meraih tangan Farra dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Kuemu laku keras, Farra. Semuanya habis hanya dalam hitungan menit."
"Benarkah? Ah, syukurlah."
Tiba-tiba Aksa menghampiri mereka sambil tersenyum aneh. Farra dan Zian menghentikan langkah mereka kemudian menatap bocah itu.
"Kamu kenapa, Dek?" tanya Farra bingung.
Aska tidak menjawab, tetapi senyuman bocah itu terus mengambang di wajah tampannya. Ia melirik tangan Farra dan Zian yang masih saling menggenggam tanpa keduanya sadari.
Sontak saja Zian dan Farra melepaskan tautan tangan mereka sambil tersenyum kecut. Zian bahkan tidak dapat menahan malu, hingga dengan cepat ia berlalu dan menuju kamar mandi sambil menggaruk tengkuknya.
__ADS_1
💗💗💗 Author minta maaf kalo banyak typo antara Zian dan Zain, soalnya hape Author ini suka kasih typo sendiri 😂 Padahal sebelum di Up di ecek lagi, tapi tetap aja ada typo, hehehe Author memang ratunya typo 😆😆😆