
Farra tersadar, ia mendapati dirinya polos tanpa sehelai benangpun yang melekat di tubuhnya. Perlahan Farra bangkit kemudian bersandar di dinding sambil memperhatikan keadaan kamarnya dengan wajah sedih.
Kamarnya berantakan. Dimana pakaiannya terlihat berserakan di lantai, botol minuman laknat milik Tuan Raja pun juga masih tergeletak tak jauh dari kasurnya.
Kini tatapan gadis itu tertuju pada seprei bernoda yang masih mengcover kasur lusuh miliknya. Farra kembali terisak, kejadian yang terjadi tadi malam kembali terlintas di pikirkannya.
"Ya, Tuhan! Aku yakin sekali, Tuan Raja sengaja melakukan ini untuk menghancurkan hidupku lebih jauh lagi," gumam Farra sambil menyeka air matanya.
Perlahan, Farra bangkit dan memunguti pakaiannya yang berserak. Setelah selesai berpakaian, Farra pun bergegas mengganti sepreinya dengan seprei yang baru. Tidak lupa ia mencuci seprei bernoda tersebut agar orang lain tidak melihatnya.
Sementara itu di kamar utama.
Mata Vania terlihat membengkak. Hampir semalaman ia menangis karena Raja meninggalkan dirinya sendirian di kamar yang megah itu.
Vania meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas kemudian mencoba menghubungi sahabat karibnya, Tania.
"Apaan sih, Van? Apa ini tidak terlalu pagi untuk menghubungiku?" ucap Tania dari seberang telepon dengan nada malas. Terdengar jelas bahwa wanita itu terbangun dari tidurnya akibat panggilan dari Vania.
"Tan, ini tentang masalah itu ... sepertinya kamu benar, aku harus segera memeriksakannya ke Dokter," sahut Vania dengan suara bergetar.
Tania sontak bangkit kemudian duduk di tepian tempat tidur sambil mengucek matanya.
"Memangnya kenapa, Van? Sakitnya tambah parah?" tanya Tania cemas.
__ADS_1
"Ya, dan aku sudah tidak sanggup menahannya lagi."
"Ehm, ya sudah. Sebaiknya kamu temui aku, biar aku anterin ke Dokter langgananku. Kamu tenang saja, Van. Jangan takut, Dokter itu baik dan juga ramah. Aku yakin setelah kamu bertemu dengannya nanti kamu pasti suka," tutur Tania dari seberang telepon.
"Bukan masalah suka, tidak suka, Tania. Aku ini takut, aku takut mendengar vonis yang menakutkan dari Dokter itu."
"Sudah, yakinlah bahwa kamu baik-baik saja," sahut Tania, mencoba menenangkan Vania.
"Baiklah, sebaiknya aku bersiap. Aku akan segera menemuimu selain untuk itu, aku juga ingin curhat sama kamu, Tania."
"Ya, aku juga. Aku akan bersiap-siap sambil menunggu kedatanganmu," sahut Tania.
Setelah Vania mengakhiri panggilannya bersama Tania, ia pun segera bangkit dari tempat tidurnya kemudian bergegas mandi dan berpakaian.
Lain lagi dengan Raja yang baru saja terbangun dari tidurnya. Lelaki itu masih berselonjor di sofa yang ada di ruang kerja sambil memijat kepalanya yang masih sakit.
"Astaga, aku lupa memperingatkan gadis itu. Dia tidak boleh menceritakan kejadian tadi malam kepada siapapun! Apalagi sampai terdengar hingga ke telinga Vania," gumam Raja sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Raja bangkit dan keluar dari ruangan itu kemudian berjalan menuju kamar Farra. Kebetulan saat itu Farra sudah selesai mandi dan berpakaian seadanya.
Ia tidak bersemangat melakukan apapun. Termasuk melakukan tugas-tugas seorang pelayan, sama seperti hari-hari biasanya. Farra duduk bersandar di dinding kamar sambil memeluk kedua lututnya. Mulutnya tertutup rapat dan pandangannya kosong menatap pintu kamar.
Raja yang sudah berada di depan kamar Farra, segera membuka pintu ruangan itu dan membuat Farra kembali tersentak kaget.
__ADS_1
Farra membenamkan wajahnya diantara kedua kakinya yang masih ia peluk. Ia tidak ingin bertatap mata dengan lelaki yang sudah mengambil ciuman pertama serta kesuciannya secara paksa dan brutal.
Perlahan Raja menghampiri gadis itu kemudian berjongkok di hadapannya.
"Heh, Farra! Apa kamu dengar aku? Aku harap kamu pasang telingamu dengan baik dan dengarkan ucapanku. Dengar, jangan pernah menceritakan kejadian yang terjadi tadi malam kepada siapapun. Apalagi sampai terdengar oleh Vania! Jika sampai itu terjadi, maka aku tidak akan segan-segan menghukummu, apa kamu dengar?!" ancam Raja.
Farra yang masih duduk dengan posisi meringkuk, hanya bisa menganggukkan kepala tanpa berkata sedikitpun.
"Bagus! Aku tahu kamu adalah gadis yang penurut," sambung Raja seraya mengacak pelan puncak kepala gadis itu.
Setelah selesai memberitahu Farra, ia pun kembali ke kamar utama dimana Vania sudah siap berangkat menuju kediaman sahabatnya, Tania.
Ketika Raja membuka pintu kamar, Vania segera menyambut kedatangan lelaki itu dengan senyuman hangatnya. Namun, ternyata Raja masih kesal. Jangankan membalas senyuman yang dilemparkan oleh Vania, menoleh pun ia tidak mau.
Raja meneruskan langkahnya menuju kamar mandi kemudian melakukan ritual mandinya disana. Karena merasa tak digubris, Vania pun segera pergi dari ruangan itu.
"Maafkan aku, Raja. Aku tidak bisa menceritakan semuanya kepadamu karena aku sendiri belum yakin apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diriku. Dan semoga ini bukanlah apa-apa," batin Vania.
Vania tiba di halaman depan dan meminta salah satu sopirnya untuk mengantarkan ke tempat Tania.
Dibalik tirai jendela kamarnya, Raja mengintip sang istri sambil meletakkan ponsel ke samping telinga.
"Ivan, bisa perintahkan salah satu anak buahmu untuk membuntuti Vania? Aku ingin tahu kemana saja wanita itu pergi dan dengan siapa saja," ucap Raja yang sedang berbicara bersama Ivan melalui ponselnya.
__ADS_1
"Baik, Tuan," sahut Ivan.
...***...