Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Perjalanan Ivan


__ADS_3

Ivan tersenyum hangat walaupun sambutan dari wanita paruh baya itu tidak begitu menyenangkan. Ia menghampiri Tante Nurmala kemudian duduk di samping wanita itu.


"Maafkan saya, Nyonya Nurmala. Saya tidak bermaksud membuat Anda menjadi seperti ini. Saya hanya melakukan tugas yang di berikan oleh Tuan Raja kepada saya," sahut Ivan.


"Heh, kalian sama saja! Sama-sama jahat," sahut Nurmala.


Ivan kembali menyunggingkan senyumannya.


"Tapi, apakah Anda sudah lupa, Nyonya Nurmala? Anda juga sama jahatnya seperti kami. Anda sudah menjerumuskan seorang gadis polos yang tidak tahu apa-apa ke dalam jurang penderitaan hanya demi ambisi Anda akan kekayaan," sambung Ivan.


"Apa maksudmu?" kesal Nurmala sambil menatap Ivan dengan mata membesar.


Ivan hanya tersenyum dan bukannya menjawab pertanyaan dari wanita itu, Ivan malah balik bertanya.


"Di mana Farra dan Adiknya, Aksa?"


"Mana kutahu? Lagi pula aku sudah tidak peduli kepada mereka. Biarkan mereka menjadi gelandangan dan luntang-lantung di jalanan," ucap Nurmala tanpa belas kasihan sedikitpun.


Ivan menghembuskan napas berat kemudian bangkit dari posisi duduknya.


"Anda benar-benar Tante yang tidak bertanggung jawab, Nyonya Nurmala. Bukankah Anda tahu bahwa mereka yatim piatu, yang tidak memiliki sanak saudara lagi selain Anda. Dan Anda dengan teganya melepaskan tanggung jawab Anda begitu saja," kesal Ivan yang kemudian melangkahkan kakinya menuju mobil.


"Apa pedulimu, Tuan Ivan? Lagi pula aku Tante mereka, suka-suka aku melakukan apapun terhadap mereka!" sahutnya dengan setengah berteriak.


Ivan hanya bisa menggelengkan kepala sambil membuka pintu mobilnya. Setelah masuk, ia pun segera melajukan mobil tersebut menelusuri jalanan yang mungkin di lalui oleh Farra dan Aksa.


"Farra, di mana kamu sekarang?" gumam Ivan sembari melihat-lihat sisi kiri dan kanannya.

__ADS_1


Sementara itu.


Masih di warung makan,


Zian memperhatikan Farra yang hanya diam sambil menatap piringnya. Ia heran mengapa Farra tidak menyentuh makanan itu.


"Farra, kamu tidak suka makanan ini, ya? Kalau ya, aku akan pesankan yang lainnya untukmu," ucap Zian.


Farra menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Ehm, jangan-jangan! Sebenarnya aku sudah kenyang, Kak. Dan bolehkah makanan ini aku bungkus saja untuk dibawa pulang?" tanya Farra.


Sebelum Zian menjawab pertanyaan Farra, tiba-tiba saja si comel Aksa menyela ucapan Kakak perempuannya itu.


"Kak Farra bohong, Kak Zian. Tadi Aksa sempat mendengar perut Kak Farra berbunyi dan Kak Farra juga belum makan apa-apa sejak bertemu Aksa," celetuk Aksa sambil mengunyah makanannya.


"Aksa!" Farra membulatkan matanya menatap Aksa. "bohong, Kak Zian! Beneran, aku sudah kenyang." Farra panik sekaligus malu karena Aksa bicara terlalu jujur.


"Aksa benar, Farra. Kamu tidak boleh berbohong. Makanlah, nanti akan ku pesan dua lagi untuk kalian bawa pulang," sela Zian seraya mengacak pelan puncak kepala Aksa.


Farra semakin merasa tidak nyaman karena sudah menyusahkan lelaki itu. Apalagi mereka baru saja bertemu.


Zian kembali memperhatikan Farra yang masih terdiam. "Farra, apa kamu ingin aku menyuapimu?" ucap Zian dengan setengah berbisik.


Farra membulatkan matanya sambil menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak, Kak! Aku bisa sendiri," sahut Farra seraya meraih sendok kemudian mulai menikmati makanan itu.


Zian dan Aksa saling lempar senyum saat melihat Farra menikmati makanannya dengan lahap. Ya, sebenarnya Farra pun kelaparan karena sejak kemarin sore ia tidak makan apa-apa.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, acara makan mereka pun selesai.


"Terima kasih, Kak Zian. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu," ucap Farra sambil tersenyum hangat menatap lelaki itu.


Zian pun membalas tatapan Farra sembari menganggukkan kepalanya pelan. "Sama-sama, Farra. Ehm, bisakah kalian menungguku sebentar?"


Farra dan Aksa saling tatap sejenak, kemudian setelah itu Farra pun mengangguk. "Baiklah,"


Zian menghampiri Ibu pemilik warung kemudian membayar makanan mereka. Dan sesuai janjinya, Zian juga membungkuskan dua buah nasi lengkap dengan lauk pauknya.


Setelah selesai membayar, Zian pun kembali ke tempat di mana Farra dan Aksa menunggunya. Ia menghampiri kakak beradik itu dengan wajah semringah.


"Ini untukmu," ucap Zian sembari menyerahkan sebuah kantong kresek berisi dua buah bungkus nasi yang tadi ia pesan.


"Apa ini, Kak? Aduh, kenapa aku jadi merepotkan begini?" ucap Farra dengan wajah cemas.


"Tidak apa, Farra. Terima saja, rejeki tidak boleh ditolak." Zian tersenyum menatap Farra.


Farra membungkuk hormat kemudian mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada Zian. Setelah mengucapkan terima kasih, Farra pun kembali melanjutkan perjalanannya bersama Aksa. Perjalanan panjang yang tidak tahu kemana arah dan tujuannya.


Zian menatap kedua kakak beradik itu tanpa berkedip sedikitpun. Dan setelah bayangan kedua bersaudara itu hilang dari pandangannya, Zian pun kembali melajukan mobilnya.


Di dalam mobil, Zian terlihat cemas. Hati dan pikirannya terus tertuju pada Farra dan Aksa yang kini berjalan menuju tempat yang Zian sendiri tidak tahu di mana.


"Balik, tidak, balik, tidak, balik, tidak!" gumam Zian.


Tanpa disadari oleh Zian, tangannya refleks memutar balik kemudi dan memilih kembali menemui Farra dan Aksa.

__ADS_1


"Aku sangat yakin mereka tidak memiliki arah dan tujuan. Aku harus menjemput dan membawa mereka pulang bersamaku. Paling tidak sampai mereka memiliki tujuan yang pasti," gumamnya seraya melajukan mobilnya seraya mencari keberadaan Farra dan Aksa.


...***...


__ADS_2