
"Tidak ada yang melihatmu di sini, 'kan?" Ivan tersenyum seraya memperhatikan sekeliling ruangan cafe tersebut.
"Tenang saja, tidak ada sesiapapun yang mengenali kita di sini."
"Baguslah kalau begitu." Ivan meraih gelas minuman yang baru saja diletakkan oleh pelayan di atas meja kemudian menikmatinya.
"Bagaimana kabar Tuan Raja sekarang?" tanya Ivan seraya menyeruput minumannya.
"Lelaki itu semakin kacau saja. Dia bahkan tidak mempedulikan bagaimana kondisi keuangan di perusahaannya, belum lagi permasalahan rumah tangganya yang kini sudah di ambang kehancuran. Saat ini yang ada di pikiran lelaki itu hanyalah Farra, Farra dan Farra," jawab Leo sambil tersenyum tipis.
Ivan ikut tertawa pelan walaupun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Ivan merasa iba akan kondisi mantan majikannya itu.
"Mungkin itulah balasan yang harus ia terima, Leo. Lelaki itu selalu bertindak semena-mena terhadap siapapun. Terutama kepada Farra, gadis yatim piatu yang selama ini sudah ia sengsarakan," sahut Ivan.
"Dan jangan lupa, ia menyebalkan," sambung Leo sambil menyeruput kopi hitam kesukaannya.
Ivan tertawa pelan. "Ya, menyebalkan. Sangat-sangat menyebalkan!"
"Oh ya, Ivan. Saat ini Tuan Raja memberikan aku tugas untuk mencari keberadaan Nona Farra dan membawanya kembali kepada lelaki itu. Ya, mungkin saat ini aku masih bisa mencari-cari alasan bahwa aku belum menemukan informasi tentang keberadaan Nona Farra. Tapi setelah ini, aku sudah tidak yakin, Ivan. Dia sudah mengancam akan segera mememecatku jika dalam dua hari ini aku masih tidak bisa menemukan gadis itu."
"Benarkah? Dasar laki-laki aneh, sebenarnya apa yang dia inginkan sekarang? Bukankah dia sendiri yang mengusir Farra saat itu!" kesal Ivan.
__ADS_1
"Ya, dan yang aku takutkan sekarang adalah saat lelaki itu benar-benar memecatku kemudian memerintahkan orang lain untuk mencari keberadaan Nona Farra. Aku yakin, cepat atau lambat lelaki itu pasti berhasil menemukannya."
"Tidak, jika Farra berada dalam perlindungan Tuan Zian," sambung Ivan.
"Ya, aku harap juga begitu."
Sementara itu.
Sehabis pulang dari kantor, Zian memutuskan untuk berkunjung ke kediaman orang tuanya, setelah tadi pagi Nyonya Khalifa (Ibu Zian) menghubungi dan meminta Zian untuk segera datang.
Ada sesuatu yang penting, yang ingin dibicarakan oleh Tuan Ameer (Ayah Zian) kepadanya. Dan dengan sangat terpaksa, Zian pun menuruti keinginan kedua orang tuanya itu. Padahal biasanya ia paling malas bertemu dengan Ayah dan Ibunya tersebut.
Kedatangan Zian di kediaman mewah itu, disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Terlebih Sang Ibu, Nyonya Khalifa Aziz. Wanita berusia 55 tahun tersebut memeluk serta menciumi wajah Zian.
"Ibu sangat merindukanmu, Nak." Nyonya Khalifa melerai pelukannya kemudian menatap Zian dengan mata berkaca-kaca.
"Zian juga, Bu." Zian menjatuhkan dirinya di sofa kemudian disusul oleh Nyonya Khalifa.
"Sekarang sudah saatnya berhenti untuk main-main, Zian. Apa kamu sudah lupa, usiamu sudah tidak muda lagi. Apalagi kami, kami sudah tua dan tidak lama lagi Tuhan akan segera memanggil kami ke hadapan-Nya," tutur Tuan Ameer sambil menatap Zian dengan tatapan malasnya.
"Oh, jangan lagi!" Zian menepuk jidatnya sambil bergumam kecil.
__ADS_1
"Zian, dengarkanlah ucapan Ayahmu kali ini." Nyonya Khalifa pun ikut menyela karena lagi-lagi Zian ingin menghindari pembicaraan mereka.
"Ya, Ibu. Baiklah," sahut Zian sambil tersenyum menatap sang Ibu.
"Zian, sebenarnya Ayah sudah lama merencanakan hal ini bersama Ibumu. Kami ingin menjodohkanmu dengan anaknya Tuan Khalid, Sameera. Masih ingatkah kamu dengan gadis itu, Zian? Sekarang dia sudah dewasa dan tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Ayah yakin kamu pasti menyukainya," tutur Tuan Ameer dengan penuh keyakinan.
Zian membulatkan matanya dengan sempurna, menatap Sang Ibu kemudian beralih menatap Sang Ayah yang masih menyunggingkan sebuah senyuman hangat untuknya.
"Astaga! Apa aku tidak salah dengar? Kalian menjodohkan aku?!" pekik Zian yang masih shok mendengar pernyataan Sang Ayah.
Kedua orang tua Zian menganggukkan kepala mereka bersama-sama sambil terus tersenyum menatap Zian.
"Ya ampun, Ayah, Ibu. Aku bukanlah remaja yang masih usia belasan, yang bisa kalian jodoh-jodohkan. Usiaku sudah 30 tahun dan aku bisa memilih jodoh yang tepat untukku," lanjut Zian, masih dengan mata membesar.
"Kalau memang benar begitu, sekarang buktikan pada kami. Pertemukan kami dengan gadis pilihanmu itu dan kami siap melamar gadis itu untukmu," tantang Tuan Ameer sambil menyilangkan tangannya ke dada.
Zian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana dia bisa memperkenalkan sosok gadis yang selama ini bertahta di hatinya. Gadis itu bahkan masih berstatus istri orang dan dalam keadaan hamil pula.
"Ya, Tuhan. Nasibku ...."
...***...
__ADS_1